Oleh: Supriadi Mohd. Atam
Ketua Badan Baitul Kabupaten Simeulue
Setiap Idul Adha datang, gema takbir kembali memenuhi langit-langit masjid dan ruang kehidupan umat Islam. Ribuan hewan kurban disembelih. Daging dibagikan. Orang-orang berkumpul dalam suasana suka cita. Namun sesungguhnya, Idul Adha bukan sekadar ritual tanpa makna. Idul Adha momentum yang mengajarkan manusia tentang arti ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Ia ujian keimanan bagi manusia yang semakin sibuk mencintai dunia, tetapi perlahan kehilangan hati nurani.Kisah Nabi Ibrahim bukan sekadar cerita sejarah di mimbar-mimbar khutbah. Ia potret tentang bagaimana iman diuji pada titik paling menyakitkan. Allah tidak meminta Ibrahim mengorbankan sesuatu yang tidak bernilai. Yang diminta adalah Ismail anak yang lahir setelah penantian panjang, anak yang menjadi cahaya harapan di usia senja, anak yang paling dicintai.
Justru di situlah letak ujian terbesar manusia: ketika Allah meminta sesuatu yang paling sulit dilepaskan. Nabi Ibrahim tidak melawan. Tidak menunda. Tidak mencari alasan. Beliau memilih taat meskipun hatinya sedang bergetar. Lebih luar biasa lagi, Nabi Ismail pun menerima perintah itu dengan ketundukan total kepada Allah Swt.
Lebih menggetarkan lagi adalah jawaban Nabi Ismail: "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Kalimat itu bukan hanya menunjukkan kesabaran seorang anak, tetapi menggambarkan lahirnya generasi yang dibangun di atas fondasi tauhid, iman, dan ketundukan kepada Allah.
Kita hidup di zaman yang sangat berbeda sekarang ini. Banyak orang tua rela bekerja siang dan malam demi masa depan anak-anaknya. Mereka ingin anaknya sukses, kaya, dan terpandang. Namun ironisnya, tidak sedikit yang lupa mengajarkan anak-anaknya tentang makna iman, kejujuran, kesederhanaan, dan rasa takut kepada Allah.
Anak-anak dibesarkan untuk memenangkan persaingan dunia, tetapi tidak dipersiapkan menghadapi krisis moral dan kekosongan jiwa. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas tetapi rapuh. Pintar tetapi miskin empati. Kaya tetapi kehilangan ketenangan.
Dunia hari ini dipenuhi manusia yang sukses secara materi, tetapi gagal menaklukkan keserakahan dalam dirinya sendiri. Padahal inti Idul Adha sesungguhnya adalah keberanian menyembelih ego.
Karena sejatinya, setiap manusia memiliki “Ismail”-nya masing-masing. Ada yang terlalu mencintai jabatan hingga mengorbankan kejujuran. Ada yang begitu terikat pada harta hingga lupa di dalam kekayaannya ada hak orang miskin. Ada yang diperbudak popularitas, gengsi, dan ambisi dunia sampai kehilangan rasa malu dan rasa peduli terhadap sesama.
Kita hidup di zaman ketika manusia lebih takut kehilangan citra daripada kehilangan iman. Lebih sedih kehilangan jabatan daripada kehilangan kejujuran. Lebih sibuk mempercantik penampilan daripada memperbaiki hati.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, Idul Adha datang membawa pesan yang sangat keras: bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi tentang seberapa besar yang berani kita korbankan untuk kebaikan.
Karena itu, kurban tidak boleh dipahami hanya sebagai ibadah sunnah. Jika kurban hanya berhenti pada penyembelihan hewan, maka yang berubah hanya daging yang berpindah tangan. Tetapi jika ruh kurban benar-benar hidup dalam diri manusia, maka yang lahir masyarakat yang penuh kepedulian, keadilan, dan kasih sayang.
Masih banyak saudara kita yang hidup dalam kesulitan di sekitar kita. Masih ada keluarga yang menahan lapar. Masih ada anak-anak yang putus sekolah karena kemiskinan. Masih ada orang tua yang tidak mampu berobat karena himpitan ekonomi.
Ironisnya, di saat yang sama, sebagian manusia hidup dalam kemewahan tanpa batas. Pamer kekayaan menjadi kebanggaan. Gaya hidup dipertontonkan tanpa rasa bersalah, sementara di sudut-sudut lain kehidupan, ada orang-orang yang berjuang hanya untuk sekadar bertahan hidup. Di sini Idul Adha seharusnya mengguncang kesadaran umat.
Islam tidak hanya mengajarkan hubungan dengan Allah melalui ibadah mahdhah, tetapi juga membangun tanggung jawab sosial melalui zakat, infak, sedekah, wakaf, dan kurban. Semua itu bukan sekadar simbol agama, melainkan cara mewujudkan keadilan dan menjaga martabat manusia. Sebab kemuliaan Islam tidak hanya tampak dari megahnya masjid atau lantangnya takbir, tetapi juga dari seberapa besar kepedulian umat terhadap penderitaan sesamanya.
Dunia sesungguhnya tidak kekurangan orang kaya. Dunia juga tidak kekurangan orang pintar. Yang semakin langka manusia yang ikhlas berkorban, manusia yang rela memberi tanpa pamrih, manusia yang hatinya hidup ketika melihat penderitaan orang lain.
Idul Adha mengingatkan kita: suatu hari nanti semua yang kita banggakan akan kita tinggalkan. Jabatan akan berakhir. Harta akan berpindah tangan. Popularitas dilupakan. Tidak ada yang benar-benar dibawa mati selain amal dan kebaikan yang pernah diberikan kepada sesama.
Itu pula penyebab Nabi Ibrahim dikenang sepanjang zaman. Bukan karena kekayaannya. Bukan karena kedudukannya, tetapi karena ketulusannya dalam taat dan keberaniannya dalam berkorban.
Sesungguhnya, dunia sedang sangat membutuhkan lebih banyak “Ibrahim”: manusia-manusia yang mampu mengalahkan ego demi iman, mengalahkan keserakahan demi kemanusiaan, dan mengalahkan cinta dunia demi ridha Allah.
Karena itu, Idul Adha seharusnya tidak berhenti sebagai ibadah sunnah tahunan. Ia harus menjadi momentum kebangkitan kepedulian sosial umat Islam. Takbir yang berkumandang sejatinya menggugah hati manusia agar lebih peduli terhadap penderitaan sesama. Sebab hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar manfaat yang kita berikan.

0 facebook:
Post a Comment