Oleh: Syahrati, S.H.I., M.Si

Penyuluh Agama Islam Kabupaten Bireuen

Kita sering kali fasih merumuskan "ujian" dalam panggung percakapan sosial, sebagai deretan kemalangan: sakit yang mendera, kebangkrutan ekonomi atau kehilangan orang tercinta. Bentuk-bentuk ini mudah dikenali dan secara kolektif diakui sebagai cobaan yang berat. Namun pemahaman semacam ini menyisakan satu celah kritis: tumbuhnya kesombongan spiritual.

Timbulnya perasaan merasa paling bertaqwa hanya karena kita sedang berada di zona nyaman yang steril dari godaan. Pertanyaan reflektifnya adalah: apakah kita benar-benar orang yang jujur ataukah kita hanya orang yang belum memiliki kesempatan untuk mencuri. Apakah kita benar-benar setia atau hanya karena belum ada godaan yang menghampiri. Sering kali, kita merasa paling bertaqwa bukan karena kualitas iman, melainkan sekadar karena kita tidak diletakkan dalam medan tempur yang sama dengan mereka yang kita anggap "bermaksiat".

Al-Qur’an menyajikan kerangka dasar yang jernih, bahwa ujian tidak selalu hadir dalam bentuk penderitaan. Dalam Surat  Al-Anbiya (21) ayat 35 Allah menegaskan, bahwa manusia diuji dengan keburukan dan juga kebaikan. Formulasi ini memperluas makna ujian itu sendiri, bukan hanya kesulitan yang menjadi batu uji, tetapi juga kemudahan, kelebihan, dan peluang. Di titik ini kesombongan spiritual sering kali menyelinap; kita gagal menyadari kelapangan pun merupakan "medan perang" tersembunyi.  

Ibn Taymiyyah mengatakan, "Kesabaran dalam meninggalkan maksiat lebih berat daripada kesabaran dalam menghadapi musibah." Pernyataan ini menegaskan, ujian yang sesungguhnya terletak pada ketangguhan menahan diri justru saat akses terbuka lebar.

Fenomena ini sangat relevan dalam ranah rumah tangga. Kita sering melihat seorang istri yang tampak begitu taat dan tenang, namun sering kali itu karena ia dibersamai oleh suami yang saleh, suportif, dan bertanggung jawab. Sebaliknya, seorang istri yang tetap berusaha menjaga kehormatan di tengah badai rumah tangga, dengan suami yang tidak bertanggung jawab, sesungguhnya sedang menjalani level jihad batin.

Pahala istri yang taat dalam kondisi ideal tentu berbeda dengan mereka yang tetap memegang prinsip di tengah perihnya ketidakadilan pasangan. Sebagaimana kaidah fikih menyebutkan, pahala berbanding lurus dengan tingkat kesulitan (al-ajru bi qadri al-ta’ab), maka ketaatan di tengah "bara api" memiliki nilai yang jauh lebih dahsyat di mata Tuhan. Tidak adil jika mereka yang hidup dalam keharmonisan memandang rendah mereka yang sedang tertatih-tatih menjaga kewajiban di tengah tekanan psikologis yang luar biasa.

Hal serupa berlaku pada kelebihan fisik, seperti penampilan yang menarik. Dalam konstruksi sosial, kecantikan diposisikan sebagai keuntungan. Namun dari perspektif moral, hal itu menghadirkan intensitas perhatian dan potensi godaan yang jauh lebih besar. Sangat tidak adil jika seseorang yang hidup dalam keterbatasan eksposur merendahkan mereka yang berjuang menjaga batasan di tengah rupa menawan.

Semakin besar daya tarik seseorang, semakin kompleks pula tantangan dalam menjaga marwah. Begitu pula dalam konteks kekuasaan. Seseorang yang merasa bersih dari korupsi mungkin saja hanya karena ia tidak memiliki akses dan kursi jabatan, bukan karena ia benar-benar kebal dari godaan materi. 

Menarik kita ingat kembali ungkapan Umar bin Khattab: “Kami diuji dengan kesulitan, lalu kami bersabar. Dan kami diuji dengan kelapangan, tetapi kami tidak mampu bersabar.” Ungkapan ini bagaikan alarm, bahwa kemudahan sering kali justru menjadi ujian yang lebih halus dan mematikan.

Lingkungan sosial akhirnya memainkan peran dalam menentukan beratnya perjuangan moral. Seseorang yang hidup dalam lingkungan dengan paparan maksiat yang tinggi menghadapi dinamika batin yang sangat berbeda dibandingkan mereka yang berada dalam lingkungan "steril". Ibn al-Qayyim mengatakan, perjuangan melawan hawa nafsu adalah landasan seluruh perjuangan lainnya.

Karena itu, menilai kualitas kesalehan tanpa mempertimbangkan konteks peluang merupakan simplifikasi yang abai terhadap realitas. Kesadaran terhadap perbedaan medan ujian ini bukan hanya mendorong sikap yang lebih adil dalam menilai orang lain, tetapi juga menyadarkan kita untuk tetap rendah hati. 

Tantangan terbesar sering kali justru terjadi dalam ruang batin yang sunyi, di ruang yang tidak ada mata manusia melihat, namun ada Rabb yang menilai seberapa keras nilai kebaikan kita pertahankan di tengah luasnya kesempatan untuk maksiat.*

Editor: Sayed M. Husen

SHARE :

0 facebook:

 
Top