Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)
Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia
Kata pertama yang turun kepada Rasulullah SAW di Gua Hira bukanlah perintah untuk salat, puasa, atau zakat, melainkan perintah untuk membaca: Iqra’!. Wahyu pertama ini merupakan manifesto besar bagi umat Islam agar menjadi umat yang literat, yang mendasarkan segala gerak langkahnya pada pengetahuan. Di era ledakan informasi saat ini, membangun kembali budaya membaca yang mendalam adalah langkah krusial untuk menyelamatkan generasi dari dangkalnya pemikiran.Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Alaq ayat 1-5, yang menekankan bahwa Tuhan adalah Zat yang mengajar manusia dengan pena dan mengajarkan apa yang tidak diketahuinya. Membaca adalah proses membuka jendela dunia dan memahami rahasia ciptaan Tuhan. Seorang Muslim yang gemar membaca akan memiliki cakrawala berpikir yang luas, tidak mudah tertipu oleh hoaks, dan mampu memberikan solusi atas persoalan zamannya.
Rasulullah SAW bersabda, "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim" (HR. Ibnu Majah). Kewajiban ini mustahil terpenuhi tanpa adanya aktivitas membaca. Para ulama terdahulu dikenal memiliki minat yang luar biasa terhadap buku. Mereka mampu menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, menempuh perjalanan ribuan mil hanya untuk memverifikasi satu buah hadits, dan menulis beribu-ribu jilid kitab. Bagi mereka, buku adalah sahabat terbaik yang tidak pernah berkhianat.
Namun, tantangan budaya membaca di era modern adalah fenomena membaca cepat tapi dangkal. Kita lebih sering membaca status media sosial atau judul berita tanpa mendalami isinya. Ramadhan adalah saat yang tepat untuk melakukan detoksifikasi digital dan kembali pada bacaan yang berbobot. Luangkanlah waktu setelah subuh atau sebelum berbuka untuk membaca buku-buku yang memperkaya batin dan memperluas wawasan intelektual kita.
Membangun budaya membaca harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Orang tua harus menjadi teladan dengan memegang buku di hadapan anak-anak mereka. Jadikan perpustakaan pribadi sebagai sudut paling nyaman di rumah. Jika setiap rumah tangga Muslim menghidupkan kembali semangat Iqra, maka peradaban Islam yang gemilang akan bangkit kembali dengan sendirinya melalui tangan-tangan generasi yang cerdas dan terpelajar.
Mari kita jadikan sisa Ramadhan ini sebagai ajang untuk meningkatkan kualitas bacaan kita. Bacalah Al-Qur'an dengan tadabbur, dan bacalah buku-buku bermanfaat lainnya dengan nalar yang kritis. Dengan membaca, kita sedang memuliakan akal yang telah Allah anugerahkan dan menjalankan tugas kita sebagai hamba yang diperintahkan untuk terus belajar hingga akhir hayat. Akhirnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai buku, dan ummat yang kuat adalah ummat yang menjadikan ilmu sebagai panduan utamanya.

0 facebook:
Post a Comment