Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Pendidikan sering kali disalah pahami sebagai proses pasif di mana seorang murid hanya menerima apa yang disuapkan oleh gurunya. Namun, hakikat menuntut ilmu dalam Islam menuntut kemandirian dan kesungguhan pribadi. Di sisa hari-hari terakhir Ramadhan ini, kita belajar bahwa ibadah puasa adalah bentuk kemandirian spiritual yang paling nyata. Tidak ada yang mengawasi kita selain Allah SWT dan diri kita sendiri. Semangat swadaya inilah yang harus kita bawa ke dalam dunia akademik.

Al-Qur'an memberikan motivasi besar bagi mereka yang mau berusaha mengubah nasibnya melalui usaha sendiri. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 11: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." Dalam konteks intelektual, ayat ini menegaskan bahwa peningkatan kecerdasan dan pemahaman tidak akan terjadi tanpa inisiatif dari si pembelajar itu sendiri. Guru hanyalah perantara, namun pintu pemahaman hanya bisa dibuka oleh kunci kemauan sang murid.

Rasulullah SAW bersabda, "Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah tolong kepada Allah, serta janganlah engkau merasa lemah" (HR. Muslim). Pesan ini adalah fondasi bagi kemandirian belajar. Seorang pembelajar yang mandiri tidak akan mudah menyerah saat menghadapi materi yang sulit. Ia akan mencari referensi tambahan, berdiskusi dengan rekan, atau melakukan eksperimen secara mandiri. Ia tidak membiarkan rasa malas atau keterbatasan fasilitas menghambat rasa ingin tahunya.

Di era digital, kemandirian belajar menjadi semakin relevan. Sumber belajar kini tersebar luas di internet, mulai dari kursus daring hingga perpustakaan digital. Namun, kemudahan ini menuntut kedisiplinan diri yang tinggi. Tanpa kemandirian, limpahan informasi tersebut hanya akan menjadi distraksi. Seorang pembelajar yang mandiri mampu mengatur jadwal belajarnya sendiri, memilah sumber yang kredibel, dan secara konsisten meningkatkan kompetensinya tanpa perlu selalu didorong-dorong oleh orang lain.

Kemandirian juga melahirkan rasa tanggung jawab terhadap ilmu. Seseorang yang bersusah payah mencari tahu suatu hal secara mandiri biasanya akan lebih menghargai ilmu tersebut dan lebih bersemangat dalam mengamalkannya. Ramadhan mengajarkan kita manajemen waktu dan pengendalian diri. Dua keterampilan ini adalah modal utama untuk menjadi pembelajar mandiri yang sukses.

Jadikan momentum Ramadhan ini untuk menumbuhkan jiwa pembelajar yang merdeka. Jadilah pribadi yang haus akan ilmu, yang selalu merasa perlu untuk menambah wawasan setiap harinya. Dengan kemandirian dalam belajar, kita tidak hanya menjadi orang yang pintar secara akademik, tetapi juga menjadi insan yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Ingatlah janji Allah bagi mereka yang bersungguh-sungguh: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami..." (QS. Al-Ankabut: 69).

SHARE :

0 facebook:

 
Top