Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Dalam dunia pendidikan yang penuh dengan persaingan, godaan untuk mencari pengakuan, gelar, dan pujian manusia sangatlah besar. Sering kali, seorang pelajar atau peneliti terjebak dalam perlombaan mengejar prestise hingga melupakan tujuan hakiki dari pencarian ilmu. Ramadhan mengajarkan kita tentang keikhlasan yang murni. Kita berpuasa bukan untuk dilihat orang, melainkan semata-mata karena perintah Allah SWT. Prinsip inilah yang seharusnya menjiwai setiap karya intelektual kita.

Keikhlasan adalah ruh dari setiap perbuatan. Tanpanya, karya yang paling hebat sekalipun akan kehilangan nilainya di hadapan Tuhan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..." Ayat ini menegaskan bahwa kemurnian niat adalah prasyarat diterimanya sebuah amal. Dalam konteks akademik, menulis buku, melakukan riset, atau mengajar di kelas harus diniatkan sebagai ibadah untuk mencerdaskan ummat.

Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat dalam mengenai bahaya riya (pamer) dalam menuntut ilmu. Beliau bersabda bahwa salah satu orang yang pertama kali diadili di hari kiamat adalah orang yang belajar ilmu dan mengajarkannya agar disebut sebagai orang yang alim (pandai). Jika niatnya hanya untuk pujian dunia, maka pujian itulah satu-satunya pahala yang ia dapatkan, sementara di akhirat ia tidak memperoleh apa-apa. Keikhlasan melindungi seorang pembelajar dari rasa frustrasi saat karyanya tidak dihargai manusia dan mencegahnya dari rasa sombong saat karyanya dipuja.

Berkarya dengan ikhlas bukan berarti tidak boleh mengejar kualitas terbaik. Sebaliknya, seorang yang ikhlas akan memberikan hasil yang paling maksimal karena ia merasa sedang mempersembahkan karya terbaiknya kepada Allah, Sang Pemilik Ilmu. Ia akan bekerja dengan teliti, jujur, dan penuh tanggung jawab meskipun tidak ada atasan yang mengawasi. Inilah yang disebut dengan ihsan, yaitu berbuat sebaik mungkin karena merasa selalu berada dalam pengawasan-Nya.

Keikhlasan juga melapangkan dada kita untuk berbagi ilmu. Seorang ilmuwan yang ikhlas tidak akan pelit membagikan temuannya karena ia percaya bahwa ilmu yang bermanfaat adalah sedekah jariyah yang akan terus mengalir pahalanya. Ia tidak takut tersaingi, karena tujuannya adalah kemaslahatan bersama, bukan dominasi pribadi. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadith: "Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada niatnya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Mari kita manfaatkan malam-malam terakhir Ramadhan ini untuk membersihkan kembali niat-niat kita. Tanyakan pada hati kecil kita: Untuk siapa aku belajar? Untuk apa aku bekerja? Semoga setiap lembar tulisan, setiap baris kode, dan setiap pemikiran yang kita hasilkan lahir dari hati yang tulus. Dengan keikhlasan, karya kita tidak hanya akan meninggalkan jejak di dunia, tetapi juga akan menjadi cahaya yang menyelamatkan kita di akhirat kelak.

Akhirnya, ingatlah ikrar totalitas keihlasan kita dalam dunia ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam'”(QS. Al-An'am: 162).

SHARE :

0 facebook:

 
Top