Oleh: Abu Aly

Di tengah riuh perbedaan dan deras arus informasi, kita kerap lupa: ilmu menjadi jalan menuju damai, bukan sumber perpecahan. Untuk itu, mari menengok sosok Imam Ja'far ash-Shadiq, ulama besar yang menjadi jembatan cahaya bagi umat sepanjang zaman.

Beliau dikenal memadukan kesalehan dengan ketawadhuan mendalam. Dalam dirinya, ilmu tidak menjelma kesombongan, tetapi cahaya yang menerangi hati dan menuntun pada kebijaksanaan. 

Dua pilar besar mazhab Ahlus Sunnah, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik bin Anas, pernah menimba ilmu darinya. Fakta ini menjadi bukti: perbedaan bukan jurang pemisah, melainkan kekayaan yang memperindah taman iman.

Kebenaran tidak diukur dari kerasnya klaim “aku benar, kau salah.” Kebenaran sejati tampak pada kelapangan dada, pada kesediaan menghargai dan mendengar. Di zaman ketika perdebatan sering mengalahkan dialog, sudah saatnya mengubah cara pandang: dari saling menyalahkan menuju saling memahami.

Para ulama mewariskan prinsip mendalam: al-adab qabla al-‘ilm -- adab sebelum ilmu. Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan dan perpecahan. Lalu, al-‘ilm qabla al-qawl wal ‘amal -- berilmu sebelum berbicara dan bertindak, agar setiap kata dan langkah berpijak pada hikmah.  Di atas semua itu, keikhlasan menjadi ruh yang menghidupkan setiap amal.

Menjemput damai di samudra ilmu berarti membuka kembali lembaran sejarah dengan hati jernih. Bukan mencari salah, tetapi menggali hikmah. Carilah satu kebaikan dari mereka yang berbeda pandangan, lalu sampaikan apresiasi melalui doa atau tutur kata santun.

Ilmu sejati tidak mempertajam perbedaan, tetapi melembutkan hati dan mendekatkan sesama. Di sana pula damai kta temukan, bukan di ujung perdebatan, melainkan di kedalaman pemahaman.*

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top