Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Banyak orang beranggapan bahwa masa untuk belajar berakhir setelah seseorang mendapatkan gelar atau memasuki masa pensiun. Namun, tradisi Islam mengenal konsep belajar sepanjang hayat (long-life learning). Usia senja bukanlah waktu untuk berhenti berpikir, melainkan masa keemasan untuk memperdalam hikmah dan mendekatkan diri kepada kebenaran. Ramadhan menjadi pengingat bahwa selama akal masih berfungsi, pintu ilmu selalu terbuka lebar.

Prinsip ini berakar pada sebuah ungkapan masyhur dalam tradisi intelektual Muslim: "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahad." Meskipun sering dikutip sebagai pepatah, maknanya selaras dengan semangat Al-Qur'an yang memerintahkan manusia untuk terus membaca dan merenung. Allah SWT berfirman dalam Surah Taha ayat 114: "...Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'" Doa ini tidak dibatasi oleh usia. Ia adalah bentuk permohonan yang senantiasa dipanjatkan oleh setiap mukmin di setiap tahapan hidupnya.

Menuntut ilmu di usia senja memiliki keistimewaan tersendiri. Berbeda dengan masa muda yang sering kali dipenuhi ambisi karier, belajar di usia tua biasanya didorong oleh ketulusan dan pencarian makna. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya" (HR. Tirmidzi). Amal yang baik tentu didasari oleh ilmu yang benar. Mempelajari agama, sejarah, atau keterampilan baru di masa tua dapat menjaga ketajaman ingatan dan memberikan ketenangan batin.

Sejarah mencatat banyak ulama besar yang baru memulai studi mendalam mereka di usia yang tidak lagi muda. Semangat ini menunjukkan bahwa kapasitas otak manusia untuk berkembang tidak pernah benar-benar berhenti. Di bulan Ramadhan, kita melihat banyak orang tua yang dengan tekun menyimak kajian di masjid atau belajar membaca Al-Qur'an dari dasar. Ketekunan mereka adalah bentuk ibadah yang sangat mulia dan menjadi teladan bagi generasi muda bahwa tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.

Pendidikan di usia senja juga berfungsi sebagai jembatan antar generasi. Orang tua yang terus belajar akan memiliki relevansi dalam berdialog dengan anak dan cucunya. Mereka menjadi sumber kearifan yang tidak hanya mengandalkan pengalaman masa lalu, tetapi juga memahami perkembangan zaman. Dengan usaha tetap mencari berilmu, masa tua menjadi masa yang produktif secara spiritual dan sosial.

Jadi, tidak usah merasa malu untuk belajar di usia lanjut. Jadikan sisa umur sebagai kesempatan untuk melunasi rasa haus akan ilmu yang mungkin belum sempat terobati di masa muda. Dengan terus menuntut ilmu, kita sedang mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadap Sang Pencipta, membawa hati yang terang oleh cahaya pengetahuan, dan jiwa yang tenang dalam kebenaran.

Allah SWT memberikan sebuah pertanyaan retoris yang berlaku untuk setiap tingkatan usia: "Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9). Rasulullah SAW juga memberikan berita gembira kepada pencinta dan pencari ilmu pengetahuan: "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga" (HR. Muslim).

SHARE :

0 facebook:

 
Top