Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Setiap tanggal 17 Ramadhan, ummat Islam memperingati Nuzulul Qur'an, sebuah peristiwa yang menandai titik balik paling signifikan dalam sejarah intelektual manusia. Turunnya Al-Qur'an bukan sekadar peristiwa keagamaan, melainkan proklamasi dimulainya era baru pendidikan yang berbasis wahyu dan akal. Di malam yang penuh berkah ini, Allah SWT menurunkan buku teks kehidupan yang paling sempurna bagi seluruh umat manusia.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 15: "...Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan." Kata "cahaya" di sini sering ditafsirkan sebagai Al-Qur'an yang menerangi kegelapan kebodohan. Dalam konteks pendidikan, Nuzulul Qur'an mengajarkan kita bahwa ilmu pengetahuan yang sejati haruslah berfungsi sebagai penerang (nur). 

Ilmu yang tidak mampu membuat pemiliknya membedakan antara yang hak dan yang batil bukanlah ilmu yang bermanfaat, melainkan sekadar tumpukan informasi. Allah SWT menerangkan bahwa misi utama ilmu adalah sebagai pembebas: "...(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya..." (QS. Ibrahim: 1).

Peristiwa di Gua Hira memberikan pelajaran pedagogis tentang pentingnya persiapan mental dan spiritual dalam menerima ilmu. Rasulullah SAW telah melalui masa perenungan (tahannuts) sebelum akhirnya siap menerima wahyu pertama. Ini menjadi pengingat bagi para pelajar dan pendidik di Ramadhan 2026 ini bahwa ilmu menuntut kesiapan hati. Hati yang kotor oleh kesombongan atau niat yang salah akan sulit menyerap cahaya dari setiap pelajaran yang dibaca.

Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya" (HR. Bukhari). Hadits ini meletakkan standar tertinggi dalam dunia pendidikan Islam. Belajar dan mengajar bukan sekadar transfer data, tetapi sebuah proses mulia yang menempatkan seseorang pada derajat terbaik di hadapan Allah. Al-Qur'an menuntut kita untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, terus menggali makna dari ayat-ayat-Nya (qauliyah) maupun tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta (kauniyah).

Memperingati Nuzulul Qur'an di lingkungan pendidikan tidak boleh hanya terjebak pada seremonial belaka. Makna sejatinya adalah menghidupkan kembali semangat interaksi dengan teks suci tersebut. Bagaimanakah cara kita membumikan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kurikulum kehidupan kita? Apakah kita sudah menjadikan Al-Qur'an sebagai rujukan utama dalam berpikir kritis dan bertindak etis?

Mari kita jadikan malam-malam di pertengahan Ramadhan ini untuk memperbarui hubungan kita dengan Al-Qur'an. Jadikan tilawah kita sebagai sarana untuk mendalami ilmu pengetahuan. Sebab, Al-Qur'an adalah samudera ilmu yang tak pernah kering. Semakin dalam kita menyelam, semakin banyak mutiara hikmah yang akan kita temukan. Semoga dengan semangat Nuzulul Qur'an, kita bertransformasi menjadi insan yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga cerdas dalam memahami dan tulus dalam mengamalkan ilmu demi kemajuan peradaban umat.

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top