Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Dalam dunia pendidikan, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dan bahkan diperlukan untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Islam memandang keragaman pemikiran sebagai rahmat, asalkan disikapi dengan adab yang mulia. Bulan Ramadhan ini mengajarkan kita tentang kesabaran dan pengendalian diri, dua sifat yang sangat krusial saat kita berhadapan dengan pandangan yang tidak sejalan dengan pemikiran kita.

Al-Qur'an memberikan panduan utama dalam berkomunikasi saat terjadi perbedaan. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125: "Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik..." Kata ahsan (yang lebih baik) menunjukkan bahwa dalam diskusi atau perdebatan, kita tidak hanya dituntut untuk menyampaikan kebenaran, tetapi juga menggunakan cara yang paling santun dan menghargai martabat lawan bicara.

Para ulama besar terdahulu telah memberikan teladan luar biasa mengenai hal ini. Imam Syafi'i pernah berkata, "Pendapatku benar, namun mengandung kemungkinan salah; dan pendapat orang lain salah, namun mengandung kemungkinan benar." Sikap rendah hati (tawadhu) inilah yang mulai luntur di era digital, di mana banyak orang merasa paling benar sendiri dan mudah menyalahkan pihak lain. Pendidikan yang sejati seharusnya melahirkan pribadi yang terbuka terhadap kritik dan mampu melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang.

Rasulullah SAW bersabda, "Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar" (HR. Abu Dawud). Hadits ini bukan melarang diskusi ilmiah, melainkan melarang perdebatan yang hanya bertujuan untuk menjatuhkan, mencari kemenangan pribadi, atau memicu permusuhan. Seorang penuntut ilmu yang beradab akan lebih fokus pada pencarian kebenaran daripada sekadar memenangkan argumen. Sebuah Atsar yang sering dikutip para ulama sebagai kaidah dalam fikih: "Perbedaan pendapat di antara umatku adalah rahmat".

Etika berbeda pendapat juga mencakup larangan untuk mencela atau memberikan label buruk kepada mereka yang berbeda pandangan. Di dalam ruang kelas maupun di media sosial, kita harus mampu membedakan antara mengkritik pemikiran dan menyerang pribadi (ad hominem). Penghormatan terhadap sesama manusia harus tetap dijaga demi terpeliharanya ukhuwah Islamiyah.

Jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk membersihkan hati dari sifat egois dalam berpendapat. Belajarlah untuk mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Dengan menghargai perbedaan, kita sebenarnya sedang memperkaya khazanah intelektual kita sendiri. Ilmu pengetahuan akan berkembang subur dalam lingkungan yang penuh dengan rasa hormat, keterbukaan, dan semangat untuk saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan.

Pada akhirnya, kebenaran sejati hanya milik Allah SWT. Tugas kita sebagai manusia hanyalah terus berikhtiar mencarinya dengan penuh kerendahan hati. Allah memerintahkan untuk mengutamakan persatuan di atas perbedaan: "Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (QS. Ali Imran: 103).

SHARE :

0 facebook:

 
Top