Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)
Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia
Dalam sejarah peradaban Islam, pendidikan bukanlah hak istimewa yang hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Islam datang sebagai cahaya yang mengangkat derajat perempuan, salah satunya dengan memberikan hak dan kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu. Di bulan Ramadhan ini, kita diingatkan kembali bahwa kualitas sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas pendidikan kaum perempuannya, karena dari rahim dan asuhan merekalah lahir generasi masa depan.Prinsip kesetaraan dalam mencari ilmu ditegaskan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim" (HR. Ibnu Majah). Penggunaan kata "Muslim" dalam hadits ini mencakup laki-laki dan perempuan tanpa terkecuali. Tidak ada batasan gender dalam upaya memahami ayat-ayat Allah maupun dalam menguasai sains dan teknologi untuk kemaslahatan ummat.
Perempuan, khususnya ibu, adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya (al-ummu madrasatul ula). Agar sebuah madrasah dapat menghasilkan lulusan yang unggul, maka pengelolanya (para ibu) haruslah sosok yang terpelajar, berwawasan luas, dan memiliki adab yang mulia. Pendidikan bagi perempuan bukan hanya tentang gelar akademik, melainkan tentang pembekalan diri agar mampu membentuk karakter, kecerdasan, dan spiritualitas anak sejak dini.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 97: "Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik..." Kebajikan yang paling utama adalah beramal dengan landasan ilmu. Tanpa pendidikan yang memadai, seorang perempuan akan kesulitan untuk memaksimalkan perannya, baik dalam ranah domestik maupun dalam kontribusi sosial yang lebih luas. Allah SWT juga menegaskan kesetaraan pahala dan ampunan bagi laki-laki dan perempuan yang taat dan berilmu (QS. Al-Ahzab: 35).
Sejarah Islam mencatat sosok Aisyah binti Abu Bakar RA sebagai salah satu intelektual terbesar pada masanya. Beliau merupakan rujukan utama para sahabat dalam urusan hadits, hukum, hingga ilmu kedokteran dan sastra. Keberadaan Aisyah menjadi bukti nyata bahwa Islam mendorong perempuan untuk mencapai puncak kecemerlangan intelektual.
Di era modern, pendidikan bagi perempuan adalah kunci untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Perempuan yang terdidik akan lebih berdaya dalam menjaga kesehatan keluarga, mengelola ekonomi rumah tangga, dan berpartisipasi dalam diskusi-diskusi kemasyarakatan yang sehat.
Mari kita hilangkan stigma bahwa pendidikan tinggi bagi perempuan adalah hal yang sia-sia. Justru sebaliknya, investasi terbaik bagi masa depan ummat adalah dengan memastikan anak-anak perempuan kita mendapatkan akses pendidikan yang seluas-luasnya. Dengan menjadi perempuan yang berilmu, mereka sedang menyiapkan fondasi yang kokoh bagi lahirnya generasi yang cerdas, berakhlak, dan bertakwa kepada Allah SWT.

0 facebook:
Post a Comment