Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi dan Keberkahan


Tidak sedikit anak yang memiliki potensi besar, namun terhalang oleh keterbatasan ekonomi. Sebaliknya, ada pula anak yang berasal dari keluarga mampu, tetapi justru kurang menghargai pentingnya pendidikan. Dunia memang sering menunjukkan ironi. Anak dari keluarga miskin justru memiliki semangat kuat untuk belajar karena merasakan langsung pahitnya hidup dalam keterbatasan. Sementara sebagian anak dari keluarga berada cenderung terlena dengan kenyamanan, karena kebutuhan mereka selalu terpenuhi.

Padahal, kekayaan hanyalah sesuatu yang bersifat sementara. Pendidikan, sebaliknya, merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga hingga akhirat kelak.

Dalam Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman yang dipandu Irfan Maulana, (8/3/2025), Ketua Yayasan Wakaf Barbate Islamic City (YWBIC), Prof. Dr. Sofyan A Gani, MA menyampaikan, lembaga pendidikan tahfidz Al-Qur’an semakin diminati masyarakat. Namun, tingginya biaya pendidikan sering menjadi kendala bagi keluarga dengan kondisi ekonomi lemah. Banyak orang tua ingin memasukkan anak mereka ke lembaga tahfiz, tetapi tidak mampu membiayainya, meskipun anak tersebut memiliki potensi besar.

Melihat kenyataan tersebut, hati Prof. Sofyan tergerak menemukan solusi. Bersama beberapa rekannya, ia berinisiatif mendirikan yayasan pendidikan tahfiz gratis khusus bagi anak-anak fakir miskin dan yatim yang memiliki keterbatasan ekonomi. Mereka berkeyakinan bahwa potensi anak harus tetap dikembangkan tanpa dibatasi persoalan biaya.

Dari semangat ini lahir YWBIC di kawasan Kebun Kurma Blang Bintang, Aceh Besar. Yayasan ini menjadi mengembangkan pendidikan tahfidz Al-Qur’an gratis yang menampung para calon penghafal Al-Qur’an dari kalangan kurang mampu. Kehadiran yayasan ini tentu patut diapresiasi sebagai bentuk nyata kepedulian sosial dalam dunia pendidikan Islam.

Sebelum yayasan ini berdiri, para pengurus bekerja keras merancang berbagai kebutuhan dasar lembaga pendidikan tersebut. Yayasan ini berdiri di atas sebidang tanah yang diwakafkan oleh salah seorang warga yang memiliki kebun kurma di kawasan tersebut. Setelah perencanaan matang, pembangunan pun dimulai. Berbagai tantangan dan keterbatasan harus dihadapi, namun dengan tekad yang kuat dan penyusunan kurikulum tahfiz yang terarah, yayasan ini akhirnya dapat berdiri dan berjalan.

Menurut Prof. Sofyan, yayasan ini telah berdiri sekitar empat tahun dan saat ini telah memiliki 59 orang santri. Para santri yang diterima di lembaga ini melalui proses seleksi yang cukup ketat agar benar-benar tepat sasaran. Para pengurus bahkan melakukan survei langsung ke rumah calon santri untuk melihat kondisi ekonomi keluarga mereka, sehingga bantuan pendidikan gratis ini benar-benar diberikan kepada mereka yang berhak.

Santri yang belajar di yayasan ini berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh. Pada tahap awal, para pengurus yayasan melakukan penggalangan dana dengan menyebarkan selebaran kepada para calon donatur. Tanpa diduga, respons masyarakat sangat positif. Bahkan donatur datang tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri seperti Australia dan Mesir. Hal ini menjadi kejutan yang menggembirakan dan membantu keberlangsungan operasional yayasan.

Meski demikian, para pengurus tidak hanya ingin bergantung pada donasi. Mereka mulai memikirkan strategi keberlanjutan keuangan jangka panjang melalui pengembangan wakaf produktif. Saat ini yayasan mulai mengembangkan usaha peternakan kambing dan bekerja sama dengan Yayasan Wakaf Baitul Asyi dalam pengelolaan sebuah toko kelontong. Langkah ini bagian dari upaya membangun sumber pendanaan yang berkelanjutan bagi lembaga pendidikan tersebut.

Dengan wakaf produktif, diharapkan YWBIC memiliki sumber pendapatan mandiri yang dapat mendukung operasional pendidikan tahfiz secara berkesinambungan tanpa selalu bergantung pada bantuan donatur.

Ke depan, yayasan ini juga memiliki berbagai rencana pengembangan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Salah satunya pembangunan gedung pendidikan yang lebih memadai. Selain itu, para santri yang telah menyelesaikan pendidikan di yayasan diharapkan dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi melalui berbagai program beasiswa, baik di dalam maupun luar negeri.

Harapannya, para santri dapat melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana bahkan pascasarjana, misalnya ke Mesir atau negara lain yang memiliki tradisi pendidikan Islam yang kuat. Untuk mencapai cita-cita tersebut, pembinaan akademik dan penguatan kapasitas santri harus dipersiapkan sejak dini.

YWBIC menjadi salah satu contoh lembaga pendidikan gratis yang perlu dijaga dan dikembangkan keberadaannya. Beberapa waktu lalu, Pemerintah Aceh juga telah memberikan bantuan berupa dua unit sumur bor untuk membantu kebutuhan air di lingkungan yayasan yang memang berada di kawasan dengan keterbatasan sumber air.

Dengan penuh haru, Prof. Sofyan mengapresiasi para pengurus yayasan yang dengan penuh keikhlasan terus mengabdikan diri membina para santri. Meskipun honor yang diterima tidak besar, mereka tetap kompak dan menunjukkan dedikasi luar biasa demi keberlangsungan pendidikan di yayasan tersebut.

Sementara itu, narasumber lainnya, Sayed Muhammad Husen, menegaskan, mendirikan yayasan pendidikan gratis bukan hal mudah. Dibutuhkan komitmen, kesabaran, dan dukungan dari berbagai pihak. Namun yang paling utama adalah ridha Allah Swt sebagai landasan iman dan semangat perjuangan para pengelolanya.

Dengan keyakinan yang kuat bahwa setiap niat baik akan dimudahkan jalannya oleh Allah, perjuangan mendirikan lembaga pendidikan gratis seperti ini akhirnya dapat terwujud.

Untuk menjaga keberlanjutan lembaga pendidikan tersebut, dukungan dari berbagai pihak tetap sangat dibutuhkan, termasuk lembaga zakat seperti Baitul Mal. Penggalangan dana yang lebih efektif perlu terus dilakukan agar semakin banyak donatur yang terlibat dalam mendukung pendidikan anak-anak kurang mampu.

YWBIC telah menjalin kemitraan dengan berbagai pihak termasuk Baitul Mal, meskipun masih dalam skala terbatas. Ke depan, kerja sama ini dapat diperluas dengan menggandeng berbagai lembaga filantropi maupun perusahaan agar bantuan yang diberikan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Transparansi pengelolaan dana tentu saja menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan publik. Informasi mengenai program, penggunaan dana, dan laporan kegiatan perlu disampaikan secara terbuka melalui berbagai media, termasuk media sosial dan grup komunikasi digital. Dengan demikian, para calon wakif dan donatur akan semakin yakin untuk menyalurkan wakaf dan infak mereka kepada lembaga tersebut.

Apabila YWBIC terus berkembang dengan baik, akan dapat menjadi model bagi masyarakat dalam mengembangkan pendidikan berbasis Ziswaf (zakat, infak, wakaf, dan sedekah). Lembaga seperti ini tidak harus hanya satu. Idealnya, setiap kabupaten atau kota di Aceh memiliki minimal satu lembaga pendidikan gratis bagi anak-anak fakir miskin dan yatim.

Dengan demikian, kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas tidak hanya dimiliki oleh anak-anak dari keluarga mampu, tetapi juga oleh mereka yang berasal dari keluarga miskin namun memiliki potensi kecerdasan yang baik.

Semoga Allah Swt melimpahkan pahala amal jariah kepada para donatur, wakif, dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung keberlangsungan pendidikan di YWBIC. Semoga pula ikhtiar mulia ini menjadi sarana lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an yang memberi manfaat bagi umat dan bangsa.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top