Oleh: Syahrati, S. HI., M. Si.
Penyuluh Agama Islam Bireuen
Di tengah perbincangan tentang gender yang semakin lantang, perempuan sering kali dianggap punya satu suara yang seragam: menuntut kesetaraan dalam segala hal. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Cara perempuan memaknai gender justru sangat beragam, karena setiap tarikan napas mereka dipengaruhi oleh nilai, pengalaman hidup, keyakinan, hingga lingkungan tempat mereka tumbuh.Gender sebagai Ruang Perjuangan Hak
Bagi sebagian perempuan, memahami gender adalah soal memperjuangkan ruang. Di sinilah letak pertaruhan tentang hak, kesempatan, serta keberanian menentukan jalan hidup sendiri tanpa harus terkurung oleh label-label sosial. Dalam perspektif ini, kesetaraan menjadi kata kunci agar perempuan memiliki peluang yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, hingga peran di ruang publik.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Amartya Sen dalam bukunya Development as Freedom, yang menekankan bahwa kemerdekaan perempuan untuk memilih jalannya sendiri adalah kunci kemajuan peradaban. Islam sendiri melalui lisan Rasulullah SAW telah menjamin hal ini dengan menegaskan bahwa setiap individu, baik laki laki maupun perempuan, punya kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu dan memberi manfaat bagi sesama.
Makna di Balik Pilihan Domestik
Namun di sisi lain, tidak sedikit perempuan yang memaknai gender dengan cara yang lebih teduh. Mereka tidak selalu melihat perbedaan peran sebagai bentuk ketidakadilan. Justru perbedaan itu dipahami sebagai bagian dari harmoni kehidupan. Memilih menjadi ibu rumah tangga, misalnya, bukan dianggap sebagai keterbatasan, melainkan sebuah pilihan sadar yang punya nilai dan makna mendalam.
Dalam konteks nilai Islam, peran ini sering kali disebut sebagai Madrasatul Ula atau sekolah pertama bagi peradaban. Memilih untuk fokus di ranah keluarga adalah bentuk pengabdian yang agung. Hal ini mengingatkan kita pada konsep Fitrah, bahwa setiap manusia diciptakan dengan keunikan peran masing masing yang saling melengkapi. Perbedaan peran ini, jika dijalankan dengan keridaan, bukanlah sebuah penindasan, melainkan sebuah simfoni kehidupan.
Kesadaran dalam Memilih
Di titik ini, kita mulai melihat bahwa gender bukan hanya soal kesamaan, tetapi tentang bagaimana kita memberi makna. Banyak perempuan menjalani perannya bukan karena tekanan, tetapi karena kesadaran penuh. Mereka memilih untuk mengabdikan diri pada keluarga, atau sebaliknya berkarier di ruang publik, dan keduanya lahir dari proses pertimbangan yang tidak sederhana. Pilihan pilihan ini sering kali dipengaruhi oleh nilai yang mereka yakini, termasuk nilai agama, budaya, dan pengalaman personal.
Sebagaimana diungkapkan para sosiolog, identitas perempuan bukanlah sesuatu yang kaku. Identitas itu terbentuk dari dialog antara keinginan pribadi dan nilai luhur yang dianut. Kesadaran untuk memilih inilah yang menjadi bentuk kemerdekaan yang sesungguhnya.
Melampaui Konstruksi Sosial
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam banyak situasi, perempuan juga masih berhadapan dengan batasan yang tidak selalu adil. Ada ekspektasi sosial yang seolah memaksa perempuan pada peran tertentu, seakan itulah satu satunya jalan yang benar. Di sinilah diskusi tentang gender menjadi penting: untuk membuka ruang bahwa perempuan berhak memilih, bukan sekadar menyerah pada keadaan.
Menariknya, perempuan hari ini semakin sadar bahwa tidak semua hal yang selama ini dianggap kodrat benar benar bersumber dari nilai yang hakiki. Sebagian hanyalah konstruksi sosial yang sudah berlangsung lama dan jarang dipertanyakan. Kesadaran ini tidak selalu melahirkan perlawanan, tetapi sering kali menghadirkan proses refleksi yang lebih dalam. Perempuan mulai bertanya, menimbang, dan pada akhirnya menentukan sendiri bagaimana ia ingin menjalani hidupnya.
Kebebasan yang Bertanggung Jawab
Dalam proses itu, muncul satu hal yang penting yaitu kebebasan yang bertanggung jawab. Memilih jalan hidup, apa pun bentuknya, bukan berarti lepas dari nilai, tetapi justru harus selaras dengan prinsip yang diyakini. Perempuan tidak harus menjadi "sama" untuk menjadi setara. Dan tidak semua perbedaan harus dihapuskan demi mencapai keadilan.
Konsep ini dalam Islam dikenal dengan prinsip Keadilan Hakiki. Kemuliaan seseorang ditentukan oleh ketakwaannya, sesuai dengan firman Allah bahwa yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Keadilan bukan berarti menyamaratakan segala hal, melainkan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang semestinya, sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi setiap jiwa.
Mungkin di sinilah kita perlu melihat kembali cara kita memahami gender. Bahwa gender bukan sekadar wacana tentang siapa yang lebih unggul, tetapi tentang bagaimana setiap perempuan memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Ada yang memilih panggung publik, ada yang memilih ranah domestik, dan ada pula yang menjalani keduanya sekaligus. Semua pilihan itu sah, selama lahir dari kesadaran, bukan paksaan.

0 facebook:
Post a Comment