Oleh: Abu Aly
Mengapa Nabi Muhammad saw begitu sulit melupakan Khadijah binti Khuwailid, meski waktu telah lama memisahkan. Jawabannya terletak pada ketulusan yang melampaui ukuran kebanyakan manusia.Khadijah bukan sekadar istri, melainkan penopang di saat paling genting. Ketika wahyu pertama turun dan Rasulullah saw pulang dalam keadaan gemetar, Khadijah tidak menimbang dengan keraguan. Ia menyelimuti dengan kasih sayang, menenangkan dengan keyakinan, dan menguatkan dengan kebijaksanaan. Dalam dirinya, hati, akal, dan tindakan berpadu dalam harmoni iman.
Ia menjadi orang pertama yang membenarkan ketika yang lain mendustakan. Seluruh hartanya diserahkan untuk perjuangan dakwah, hingga tak tersisa. Ia pun tetap teguh dalam masa pemboikotan yang berat, tanpa keluh, tanpa ragu. Kesetiaan itu bukan lahir dari kewajiban, melainkan dari cinta yang berakar pada iman.
Tak heran jika Rasulullah saw menempatkannya di ruang paling dalam kenangan. Khadijah bukan hanya pendamping hidup, tetapi tempat pulang dari kerasnya dunia -- ruang teduh yang menghadirkan ketenangan di tengah badai.
Dari Khadijah, kita belajar, bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh seberapa luas dikenal, melainkan seberapa besar manfaat yang dihadirkan bagi orang lain, terutama bagi mereka yang kita cintai karena Allah.
Maka mulailah dari hal sederhana: menjadi penyejuk bagi sekitar. Saat orang terdekat menghadapi kesulitan, tahan dorongan mengkritik. Hadirkan kata-kata yang menguatkan, ulurkan bantuan sesuai kemampuan. Kebaikan kecil yang tulus sering menjadi penopang terbesar bagi jiwa yang lelah.*

0 facebook:
Post a Comment