Oleh: Hj. Supiati, S.Ag., M.Sos

Sekretaris PD IPARI Kota Banda Aceh

Membakar daun kering di halaman rumah atau membersihkan lahan dengan cara membakar semak masih menjadi pemandangan yang umum di banyak desa dan kampung. Bagi sebagian masyarakat, cara ini dianggap paling praktis, cepat, dan telah dilakukan turun-temurun. Saat dedaunan menumpuk atau lahan hendak dibersihkan, api sering kali menjadi solusi pertama yang dipilih. Asap dianggap hal biasa, abu dinilai akan hilang dengan sendirinya, dan risiko sering kali diabaikan. Padahal, kebiasaan sederhana ini menyimpan ancaman besar bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Di tengah perubahan zaman, kondisi lingkungan saat ini tidak lagi sama seperti dulu. Cuaca semakin panas, kualitas udara menurun, dan risiko kebakaran semakin tinggi. Asap dari pembakaran daun maupun semak bukan sekadar gangguan sesaat, melainkan sumber polusi udara yang mengandung partikel berbahaya bagi kesehatan. Anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan menjadi kelompok paling rentan. Batuk, iritasi mata, sesak napas, hingga gangguan paru-paru dapat dipicu oleh polusi yang berasal dari lingkungan sendiri. Lebih jauh lagi, pembakaran terbuka juga menghasilkan emisi karbon yang memperparah pemanasan global.

Membuka lahan dengan cara membakar juga membawa risiko yang jauh lebih besar. Api kecil yang awalnya dianggap terkendali dapat dengan cepat merambat ke semak kering, terutama saat musim kemarau dan angin kencang. Banyak kebakaran hutan dan lahan berawal dari aktivitas sederhana yang dianggap aman. Ketika api meluas, dampaknya bukan hanya merusak tanah dan tumbuhan, tetapi juga menciptakan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, membahayakan keselamatan, dan merusak ekosistem. Hewan kehilangan habitat, tanah menjadi tandus, dan proses pemulihan lingkungan membutuhkan waktu yang panjang.

Ironisnya, daun kering dan limbah kebun yang dibakar sebenarnya memiliki nilai manfaat yang besar jika dikelola dengan benar. Daun gugur, ranting, dan sisa tanaman dapat diolah menjadi kompos alami, pupuk organik, mulsa penahan kelembapan tanah, hingga bahan fermentasi ramah lingkungan. Dengan sedikit kesabaran dan pengetahuan, masyarakat dapat mengubah limbah alam menjadi sumber kebaikan bagi pertanian dan lingkungan. Kebersihan halaman tidak harus selalu diselesaikan dengan api, karena alam menyediakan cara yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan.

Dari sisi moral dan nilai keagamaan, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Agama mengajarkan pentingnya kebersihan, larangan berbuat mubazir, serta kewajiban menghindari kerusakan dan bahaya bagi sesama. Membakar sembarangan hingga asapnya mengganggu tetangga atau memicu kebakaran bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan sosial dan moral. Karena itu, peran tokoh masyarakat, pendidik, dan penyuluh agama sangat penting dalam membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab bersama.

Sudah saatnya masyarakat mengubah kebiasaan lama yang merugikan menjadi tindakan yang lebih bijak. Perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar, tetapi bisa lahir dari langkah kecil di rumah masing-masing: berhenti membakar daun, membuat kompos, dan memanfaatkan limbah organik dengan lebih cerdas. Desa yang maju bukan hanya desa yang terlihat bersih, tetapi desa yang masyarakatnya mampu menjaga udara, tanah, dan lingkungan tetap sehat demi generasi masa depan. Udara bersih adalah hak bersama, dan menjaganya adalah tanggung jawab kita semua.

SHARE :

0 facebook:

 
Top