Ilustrasi bisik-bisik

Allah Swt. berfirman: 

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’: 114)

Ayat ini menjadi panduan bagi kita untuk menilai seberapa banyak percakapan kita, baik yang terang-terangan maupun tersembunyi benar-benar bernilai di sisi Allah?

Para mufassir memberikan penjelasan yang memperkaya pemahaman kita terhadap ayat ini: 

Ibnu Katsir menjelaskan, yang dimaksud dengan “najwa” (bisikan atau pembicaraan rahasia) adalah percakapan yang sering kali tidak membawa manfaat, bahkan berpotensi menimbulkan prasangka dan dosa. 

Allah Swt memberikan pengecualian terhadap tiga jenis pembicaraan: yang mendorong sedekah, kebaikan, dan perdamaian. Ini menunjukkan bahwa ukuran kebaikan bukan pada banyaknya bicara, tetapi pada manfaatnya.

Imam Al-Qurthubi menulis, ayat ini mengandung adab sosial. Menurutnya, banyak manusia terjebak dalam pembicaraan rahasia untuk tujuan duniawi, intrik, atau bahkan permusuhan. 

Karena itu, Islam mengarahkan agar komunikasi, termasuk yang bersifat privat harus memiliki orientasi maslahat sosial, bukan sekadar kepentingan pribadi.

Fakhruddin Ar-Razi melihat ayat ini dari sisi yang lebih filosofis. Ia menilai, manusia secara fitrah adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari komunikasi. 

Komunikasi itu bisa menjadi sumber pahala atau dosa tergantung niat dan tujuannya. Oleh karena itu, penutup ayat yang menekankan “mencari keridaan Allah” menjadi landasan nilai suatu pembicaraan ditentukan oleh niat dan dampaknya.

Dari “Najwa” ke Grup Chat

Jika pada masa lalu “najwa” terjadi dalam bisikan atau pertemuan tertutup, maka sekarang ini bentuknya bisa kita temukan dalam grup WhatsApp, pesan pribadi, forum daring, atau bahkan kolom komentar. 

Ironisnya, banyak “najwa modern” justru dipenuhi oleh ghibah, hoaks, ujaran kebencian, dan perpecahan.

Karena itu, ayat di atas seolah memberi panduan bagi kehidupan digital kita: Pertama, sedekah digital dan literasi kebaikan. Mengajak kepada sedekah pada era sekarang ini tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan berbagi informasi program sosial, wakaf produktif, dan zakat yang transparan. Setiap pesan yang menggerakkan orang untuk memberi bagian dari “najwa” yang bernilai pahala.

Kedua, konten kebaikan di tengah banjir informasi. Dunia maya dipenuhi berbagai konten, tetapi tidak semuanya membawa kebaikan. Mengedukasi, menginspirasi, dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin dapat dianggap bentuk al-ma’ruf yang disebut dalam ayat di atas.

Ketiga, mediasi konflik dan perdamaian sosial. Polarisasi sosial dan politik sering kali bermula dari komunikasi yang tidak sehat. Di sinilah pentingnya peran individu sebagai penyejuk dengan cara menyebarkan klarifikasi, menahan diri dari provokasi, dan menjadi mediator perdamaian.

Menuju Bicara Penuh Bermakna

Ayat di atas  tidak melarang manusia berbicara, tetapi mengarahkan agar setiap ucapan memiliki nilai. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, manusia cenderung berbicara tanpa berpikir panjang. Padahal dalam pandangan Islam, setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban.

Lebih jauh, ayat di atas juga mengajarkan bahwa komunikasi terbaik bukan sekadar yang terlihat, tetapi juga yang tersembunyi —yang dilakukan dengan ikhlas, tanpa riya, dan semata-mata mengharap ridha Allah.

Etika Komunikasi 

Dapat kita pahami bahwa Ala-Quran An-Nisa’ ayat 114 merupakan seruan untuk mereformasi cara kita berkomunikasi. Al-Quran mengajarkan bahwa nilai suatu percakapan tidak terletak pada kerahasiaannya, melainkan pada tujuannya: apakah ia mendekatkan manusia kepada kebaikan atau justru menjauhkan mereka darinya.

Ketika setiap orang bisa menjadi “produsen kata-kata” pada zaman sekerang ini, maka ayat di atas menjadi aktual sebagai panduan komunikasi. 

Mari kita ubah “bisik-bisik” yang sia-sia menjadi percakapan yang bernilai sedekah, kebaikan, dan perdamaian, agar setiap kata yang keluar dari lisan dan jari kita menjadi media mendapatkan pahala di sisi Allah Swt. (Sayed M. Husen/berbagai sumber)

SHARE :

0 facebook:

 
Top