Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan
Ibadah haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan. Kemampuan tidak sebatas fisik, finansial, dan mental, melainkan juga kesiapan spiritual yang dikenal dengan istitha’ah. Kesiapan ini mencakup kekuatan jiwa dan raga sehingga mampu menunaikan seluruh rangkaian ibadah di tanah suci.
Kecukupan finansial mencakup biaya perjalanan dan jaminan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan. Kekuatan fisik diperlukan agar setiap rukun dan wajib haji terlaksana dengan sempurna. Ketangguhan mental membantu jamaah menjaga kesabaran, menahan emosi, serta tetap khusyuk dalam beribadah. Hubungan baik dengan sesama juga menjadi bagian penting dari kesiapan tersebut.
Dalam Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman (30/5/2026), Pimpinan Redaksi Gema Baiturrahman, Juniazi Yahya, menegaskan pelaksanaan haji bukan sekadar perjalanan ritual. Ibadah ini menuntut penjagaan diri dari segala hal yang dapat merusak kemabruran. Esensi haji terletak pada perubahan diri setelah kembali ke tanah air, menjadi pribadi berakhlak mulia sepanjang hayat.
Haji tidak berhenti pada penyematan gelar di depan nama. Nilai haji tercermin dalam sikap dan perilaku setelah pulang. Seorang haji selayaknya memberi warna kebaikan di lingkungan sekitar, dimulai dari keluarga, lalu meluas ke masyarakat dan bangsa. Dalam interaksi sosial, tampak pribadi yang lebih santun, rendah hati, dan konsisten dalam ketaatan.
Perjalanan menuju haji mabrur menuntut kesungguhan. Diperlukan kemampuan menjaga diri dari maksiat dan komitmen sejak awal. Tidak hanya kalangan berada yang berangkat ke tanah suci. Banyak dari kalangan sederhana berjuang keras, menabung bertahun-tahun, bahkan dari hasil berdagang kecil di kaki lima. Mereka menanti giliran dengan sabar sambil mengumpulkan biaya sedikit demi sedikit. Perjuangan ini mencerminkan keyakinan dan keikhlasan luar biasa.
Sebaliknya, ada pula yang memiliki kelapangan harta namun menempuh jalan tidak terpuji, seperti menggeser hak orang lain demi mempercepat keberangkatan. Perilaku semacam ini mencederai nilai ibadah. Sangat mungkin, mereka yang berjuang dengan kejujuran dan kesabaran lebih dekat meraih kemabruran, meski tidak menutup kemungkinan orang berkecukupan juga meraihnya melalui jalan yang benar.
Tanda kemabruran tampak pada perubahan nyata dalam diri. Ibadah menjadi lebih terjaga, semangat berjamaah meningkat, kepedulian sosial tumbuh, dan kecintaan pada sedekah semakin kuat. Lingkaran pergaulan pun mengarah kepada orang-orang saleh. Silaturahmi terjalin tanpa memandang perbedaan. Menjaga kemabruran membutuhkan kesabaran dan keikhlasan, bahkan sering kali lebih berat dibanding meraihnya.
Narasumber lain, Dr. H. Bustami Usman, SH, SAP, MSI, Ketua PW IPHI Aceh, menekankan pentingnya ilmu dalam pelaksanaan haji. Setiap rangkaian ibadah perlu dilandasi pemahaman yang benar. Tanpa ilmu, sebagian jamaah menjalankan amalan tanpa mengetahui makna dan tata caranya, bahkan tidak mengenal lokasi-lokasi penting dan waktu-waktu mustajab.
Bekal pengetahuan perlu dipenuhi sejak awal. Setiap amalan harus sesuai syarat dan rukun agar tidak terjadi kesalahan yang berakibat fatal. Biaya besar, masa tunggu panjang, dan persiapan matang akan sia-sia jika ibadah tidak sah. Mengikuti manasik haji secara serius menjadi langkah penting agar pelaksanaan ibadah berjalan sempurna.
Sumber dana turut memengaruhi kualitas ibadah. Kehalalan rezeki memberi dampak besar pada penerimaan amal. Dana yang tidak bersih sering tercermin dalam perilaku selama di tanah suci. Karena itu, menjaga kehalalan sumber penghasilan menjadi prioritas agar haji bernilai mabrur.4
Harapan tertuju kepada seluruh jamaah haji Indonesia, khususnya dari Aceh, agar meraih haji mabrur. Semoga setiap langkah ibadah dipenuhi semangat, keikhlasan, dan kesabaran, hingga kembali ke tanah air dalam keadaan selamat dan sehat wal afiat.

0 facebook:
Post a Comment