LAMURIONLINE.COM I BANDA ACEH
– Tim dosen Poltekkes Kemenkes Aceh melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Penguatan Kapasitas Kader Kesehatan Siaga Bencana dalam Kesiapsiagaan Penanganan Gizi Darurat Bencana” di Desa Alue Deah Tengoh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai 11 hingga 13 Mei 2026, dengan melibatkan kader Kesehatan siaga bencana sebanyak 15 orang dan tiga mahasiswa sebagai bagian dari pembelajaran lapangan.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Yeni Rimadeni, SKM., M.Si selaku ketua tim, dengan anggota Ns. Eka Okta Riani, S.Kep., M.Kep, Eka Warnidar, S.Kep., Ners., M.Kep, Afdhal, SKM., M.Si, dan Rosi Novita, SP., M.Kes.

Dalam sambutannya, Dr. Yeni Rimadeni menyampaikan bahwa wilayah pesisir Kota Banda Aceh memiliki potensi risiko bencana yang memerlukan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya kader Kesehatan siaga bencana yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa.

“Kader kesehatan memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi, melakukan pendataan kelompok rentan, serta mendukung penanganan gizi pada situasi darurat bencana. Melalui kegiatan ini diharapkan kapasitas kader semakin meningkat sehingga mampu bertindak cepat dan tepat saat terjadi bencana,” ujarnya.

Pada hari pertama, 11 Mei 2026, kegiatan difokuskan pada sosialisasi dan peningkatan pengetahuan kader mengenai kebencanaan. Materi yang disampaikan meliputi konsep dasar bencana, jenis-jenis bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Aceh, manajemen risiko bencana, serta peran masyarakat dan kader kesehatan dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan.

Selanjutnya, pada 12 Mei 2026, peserta mendapatkan materi mengenai penanganan gizi dalam kondisi darurat. Tim pengabdian memberikan edukasi tentang kebutuhan gizi kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lanjut usia saat terjadi bencana. Selain itu, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai identifikasi risiko masalah gizi, penyediaan makanan darurat, serta prinsip keamanan pangan pada situasi krisis.

Antusiasme peserta terlihat selama sesi diskusi dan tanya jawab. Para kader aktif berbagi pengalaman terkait penanganan masyarakat terdampak bencana yang pernah terjadi di wilayah mereka.

Puncak kegiatan dilaksanakan pada 13 Mei 2026 melalui simulasi kesiapsiagaan dan praktik pengolahan makanan pada kondisi darurat bencana. Dalam kegiatan ini, kader dilatih melakukan langkah-langkah penanganan awal saat terjadi bencana serta menyusun menu sederhana bergizi dengan memanfaatkan bahan pangan yang mudah diperoleh dan tahan lama.



Para peserta secara langsung mempraktikkan pengolahan makanan darurat yang memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi bagi kelompok rentan. Simulasi ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kader sehingga mampu memberikan dukungan gizi secara cepat dan tepat ketika terjadi keadaan darurat.

Menurut salah satu peserta, kegiatan tersebut sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dapat langsung diterapkan di masyarakat.

“Kami menjadi lebih memahami bagaimana cara menangani kebutuhan gizi masyarakat saat terjadi bencana, terutama bagi balita dan ibu hamil yang membutuhkan perhatian khusus,” ungkap salah seorang kader.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top