Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan


Muharam bulan mulia.  Bulan ini menandai awal tahun dalam penanggalan Hijriah, suatu sistem waktu dalam Islam yang berakar dari peristiwa besar hijrahnya Rasulullah saw bersama kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah. Peristiwa ini bukti Islam memiliki peradaban dan identitas dalam sejarah dunia.

Menyambut 1 Muharam selain pergantian tahun, juga momentum mengenang hijrah Rasulullah saw sebagai tonggak perubahan dalam menyelamatkan akidah umat. Pada masa itu, Islam berada dalam tekanan dari kaum Quraisy. Penindasan dan ancaman yang terus-menerus hampir menghambat perkembangan agama ini. Melalui hijrah, Islam menemukan jalan baru menuju kemajuan dan kejayaan.

Kalender Hijriah bukan hanya penunjuk waktu. Di balik setiap bulan dan tahunnya tersimpan jejak sejarah, nilai spiritual, dan perjalanan panjang peradaban Islam. Hijrah mengingatkan umat untuk terus melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik, meningkatkan ibadah, dan memperbanyak amal saleh, sambil meneladani perjuangan dakwah Rasulullah saw.

Dalam perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman (13/6/2026), Pimpinan Redaksi Gema Baiturrahman, Juniazi Yahya, menyampaikan bahwa sebagian umat masih memahami Muharam sebatas pergantian tahun yang diramaikan dengan pawai dan perlombaan. Setelah kegiatan berakhir, semangat Muharam pun seolah ikut usai. Padahal Muharam menyimpan makna mendalam dan semestinya menjadi titik awal perubahan.

Peringatan 1 Muharam tidak boleh berhenti pada seremonial semata. Ia harus menjadi ruang muhasabah bagi individu, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa. Perubahan sejati merupakan proses membawa diri dan orang lain dari kondisi yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik. Dalam konteks bangsa, momentum Muharam dapat menjadi pemicu untuk membangun optimisme, memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi, serta menguatkan harapan akan hadirnya kepemimpinan yang adil dan menyejahterakan rakyat.

Secara historis, penanggalan Hijriah ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Setelah melalui musyawarah panjang di antara para sahabat, disepakati bahwa peristiwa hijrah Rasulullah saw menjadi titik awal penanggalan Islam. Keputusan ini menunjukkan betapa hijrah bukan hanya peristiwa fisik, tetapi simbol transformasi peradaban.

Namun demikian, dalam kehidupan sekarang ini, umat Islam masih menghadapi dilema. Di banyak negara mayoritas Muslim, kalender Masehi lebih dominan digunakan dibandingkan kalender Hijriah. Sebagai identitas umat, mestinya penanggalan Hijriah lebih diutamakan dalam kehidupan keislaman.

Memang, kalender Masehi juga memiliki nilai historis, di antaranya dikaitkan dengan kelahiran Nabi Isa as. Namun setelah diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir dan penyempurna ajaran agama, sudah seharusnya umat Islam memprioritaskan kalender Hijriah sebagai identitas peradaban Islam.

Melalui momentum 1 Muharam, kita diingatkan lagi untuk melakukan perubahan diri, baik dalam aspek ibadah, akhlak, maupun sikap hidup. Ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan dakwah dan mengaktualisasikan perjuangan Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Muharam juga saat yang tepat menata kembali berbagai kelemahan, termasuk dalam pembinaan generasi muda. Tantangan zaman seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, dan krisis akhlak menjadi tanggung jawab kita semua. Upaya penyelamatan generasi harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, pembinaan, dan berbagai kegiatan positif.

Narasumber lainnya, Sayed Muhammad Husen, menambahkan bahwa makna hijrah terletak pada kemampuan mengaktualkan kembali spirit perubahan dalam kehidupan. Setiap peringatan tahun baru Hijriah semestinya menjadi ruang refleksi yang mendatangkan semangat baru untuk berbuat kebaikan.  

Perubahan yang kita lakukan mungkin belum sepenuhnya dirasakan hasilnya oleh generasi sekarang. Namun jika kita lakukan terus-menerus, manfaatnya akan dirasakan oleh generasi mendatang. Ini pula yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, yang dengan kesabaran dan keteguhan menghadapi berbagai ujian hingga akhirnya Islam mencapai kemenangan dan kejayaan.

Di Madinah, Rasulullah saw membangun masyarakat yang beradab melalui penguatan ukhuwah, penegakan keadilan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta pengelolaan ekonomi yang berkeadilan. Ini landasan peradaban Islam yang mengantarkan kemakmuran dan kedamaian.

Dengan mengenang sejarah tersebut, maka semangat hijrah akan mendorong umat untuk terus maju, belajar, dan memperbaiki diri dalam berbagai aspek kehidupan. Hijrah juga dapat dimaknai sebagai transformasi dalam berbagai bidang, termasuk peralihan dari sistem ekonomi konvensional menuju ekonomi syariah yang lebih adil dan berpihak kaum tertindas (mustadh’afin).

Seremonial tahunan tetap penting sebagai sarana pengingat dan motivasi. Namun yang lebih konkret bagaimana menjadikan momentum tersebut sebagai penggerak perubahan. Hijrah bukan hanya identitas peradaban Islam, tetapi upaya membangun kejayaan dan ketinggian umat Islam di bumi ini.

Saatnya menjadikan tahun baru Hijriah sebagai titik awal perubahan. Perubahan itu dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil yang mampu dilakukan secara istiqamah. Semoga Hijriah tahun ini mendatangkan kebahagiaan dan perubahan diri, agama dan bangsa.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top