Oleh: Hijrah Saputra, S.Fil.I., M.Sos

Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Ada satu hal sederhana yang hampir setiap hari kita lakukan, tetapi sering kali tidak kita sadari yaitu melihat. Kita melihat matahari terbit, hujan turun, pohon tumbuh, lalu lintas yang ramai, orang yang bekerja, anak-anak pergi ke sekolah, orang kaya menikmati kemewahan, orang menangis, orang tertawa, bahkan kita melihat diri sendiri di depan cermin. Namun, pertanyaannya adalah: apakah setiap sesuatu yang kita lihat benar-benar kita pahami ?

Melihat dan memahami adalah dua hal yang berbeda. Mata dapat melihat sebuah benda, tetapi pikiran bertanya tentang apa, mengapa, dan bagaimana benda tersebut ada. Mata dapat melihat seseorang menangis, tetapi pikiran bertanya mengapa ia menangis. Mata dapat melihat seseorang tersenyum, tetapi kita tidak selalu mengetahui apakah senyum itu menunjukkan kebahagiaan atau justru menyembunyikan kesedihan.

Karena itu, apa yang kita lihat seharusnya tidak berhenti pada penglihatan. Apa yang kita lihat harus menggerakkan pikiran untuk bertanya. Inilah salah satu titik awal filsafat.

Contoh lain misalkan melihat sebuah pulpen, tetapi berpikir tentang makna. Ambillah sebuah pulpen yang ada di depan kita. Secara sederhana, kita mengatakan bahwa benda itu adalah pulpen. Kita melihat bentuknya, warnanya, ukurannya, dan fungsinya sebagai alat menulis. Sampai di sini, kita baru melakukan pengamatan.

Tetapi filsafat mengajak kita bertanya lebih jauh. Mengapa benda itu disebut pulpen? Apa yang membuatnya menjadi pulpen? Apakah sesuatu tetap disebut pulpen jika tidak digunakan untuk menulis? Apakah fungsi menentukan identitas sebuah benda? Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi sebenarnya membawa kita ke persoalan filosofis mengenai hakikat sesuatu.

Plato membedakan antara dunia yang tampak dan realitas yang lebih mendasar. Apa yang ditangkap oleh indera dapat berubah dan tidak selalu memberikan pengetahuan yang sempurna. Melalui pemikiran filosofis, manusia berusaha bergerak dari apa yang tampak menuju pemahaman yang lebih mendalam (Plato, 1992).

Pulpen yang kita lihat hari ini mungkin rusak besok. Warnanya dapat berubah. Bahannya dapat diganti. Bentuknya dapat dimodifikasi. Tetapi kita masih menyebutnya “pulpen”. Berarti terdapat sesuatu yang membuat kita mengenali identitasnya di tengah perubahan. Dari sebuah pulpen, kita dapat belajar bahwa melihat benda tidak sama dengan memahami hakikat benda.

Dan jika sebuah pulpen saja dapat melahirkan pertanyaan filosofis, bagaimana dengan kehidupan manusia yang jauh lebih kompleks?

Sekarang lihatlah sebuah pohon. Secara ilmiah kita dapat menjelaskan bahwa pohon memiliki akar, batang, daun, melakukan fotosintesis, tumbuh, dan menghasilkan oksigen. Semua itu merupakan pengetahuan yang penting. Tetapi dalam perspektif Islam, pohon dapat dibaca lebih jauh sebagai tanda kebesaran Allah.

Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia memperhatikan alam. Alam tidak hanya menjadi objek yang dilihat, tetapi juga menjadi ayat, yaitu tanda yang mengarahkan manusia kepada kesadaran tentang Sang Pencipta. Artinya, ketika seorang Muslim melihat pohon, ia dapat melakukan beberapa lapis pembacaan sekaligus. Pertama, ia melihat pohon sebagai objek empiris. Kedua, ia berpikir tentang bagaimana pohon dapat hidup dan berkembang. Ketiga, ia memahami manfaat pohon bagi manusia dan lingkungan. Keempat, ia merenungkan keteraturan alam sebagai tanda kebesaran Allah.

Dengan demikian, melihat dapat berubah menjadi tafakkur. Inilah yang membedakan sekadar melihat alam dengan membaca alam dalam perspektif Studi Islam. Di sini kita melihat bahwa satu fenomena dapat memiliki banyak lapisan makna.

Contoh lain lagi mengkaji hujan dalam ilmu pengetahuan yang dipelajari melalui meteorologi dan siklus hidrologi. Dalam kehidupan sosial, hujan berkaitan dengan pertanian, ekonomi, transportasi, dan risiko bencana. Dalam perspektif keagamaan, hujan juga dapat menjadi sarana manusia untuk merenungkan rahmat dan keteraturan ciptaan Allah. Artinya, satu objek dapat dibaca melalui banyak disiplin ilmu.

Studi Islam tidak harus bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Justru, pengetahuan empiris tentang alam dapat menjadi pintu menuju refleksi yang lebih dalam tentang manusia, kehidupan, dan Tuhan.

Dalam ilmu Kesejahteraan Sosial, Amartya Sen (1999) menjelaskan bahwa kemiskinan tidak semata-mata berkaitan dengan rendahnya pendapatan, tetapi juga dengan keterbatasan kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan yang bernilai. Dengan demikian, orang miskin bukan sekadar angka statistik, tetapi manusia yang memiliki martabat dan kemampuan yang perlu dikembangkan.

Dalam Islam, persoalan tersebut semakin kuat karena manusia memiliki karamah, yaitu kemuliaan atau martabat yang melekat pada manusia.  Maka, ketika kita melihat orang miskin, pertanyaan kita tidak boleh berhenti pada berapa banyak bantuan yang harus diberikan?, tetapi juga perlu bertanya lebih mendalam yaitu bagaimana martabat dan kemampuan hidupnya dapat dipulihkan? Di sinilah filsafat, Studi Islam, dan ilmu kesejahteraan sosial dapat bertemu.

Martin Heidegger (1962) mengingatkan bahwa manusia tidak sekadar hadir sebagai penonton terhadap dunia. Manusia selalu berada di dalam dunia dan memiliki hubungan dengan keberadaannya. Karena itu, memahami kehidupan bukan sekadar mengumpulkan informasi, tetapi menyadari hubungan kita dengan realitas yang sedang kita hadapi.

Di zaman digital, persoalan “melihat” menjadi semakin kompleks. Setiap hari kita melihat foto, video, berita, komentar, dan berbagai informasi melalui media sosial. Namun, apakah semua yang kita lihat adalah kenyataan misalkan sebuah foto dapat dipotong, sebuah video dapat diedit, sebuah berita dapat kehilangan konteks, dan sebuah komentar dapat menciptakan persepsi. Di sinilah epistemologi menjadi sangat penting. Kita perlu bertanya: Dari mana informasi ini berasal? Siapa yang menyampaikannya? Apa buktinya? Apakah ada konteks yang hilang? Apakah informasi tersebut dapat diverifikasi?

Dalam Studi Islam, prinsip tabayyun memberikan dasar etis yang sangat relevan. Al-Qur'an mengingatkan:

“Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).

Ayat tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat dalam kehidupan digital. Melihat sebuah informasi bukan berarti kita harus langsung mempercayainya. Informasi harus diperiksa sebelum menjadi keyakinan, dan keyakinan harus diperiksa sebelum menjadi tindakan.

Dengan demikian, filsafat mengajarkan kita untuk bertanya tentang dasar pengetahuan, sedangkan Islam memberikan etika dalam menerima dan menyebarkan informasi. Dari Melihat Menuju Tafakkur

Pada akhirnya, manusia perlu membangun kebiasaan tafakkur—berpikir dan merenungkan tanda-tanda kehidupan. Tafakkur bukan sekadar berpikir secara abstrak. Ia merupakan aktivitas kesadaran yang menghubungkan apa yang dilihat dengan makna yang lebih dalam. Melihat pohon  mampu berpikir tentang kehidupan. Melihat hujan mampu berpikir tentang keteraturan alam. Melihat cermin mampu berpikir tentang hakikat diri. Melihat kemiskinan mampu berpikir tentang keadilan. Melihat informasi mampu berpikir tentang kebenaran.

Dengan demikian, objek sehari-hari dapat menjadi guru filsafat.

Kita tidak harus pergi ke ruang kuliah filsafat untuk mulai berpikir. Kita dapat memulai dari pulpen yang kita pegang, pohon yang kita lewati, hujan yang turun, informasi yang kita baca dan apapun yang kita lihat. Semua itu dapat menjadi pintu menuju pertanyaan tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Apa yang kita lihat, jangan hanya dilihat. Cobalah berpikir. Karena mata melihat bentuk, tetapi akal mencari makna; mata melihat peristiwa, tetapi pikiran mencari sebab; dan manusia yang beriman tidak hanya melihat ciptaan, tetapi juga membaca tanda-tanda kebesaran Penciptanya.

SHARE :

0 facebook:

 
Top