LAMURIONLINE.COM | ACEH BESAR — Pagi itu, Rabu, 9 September 2026, suasana di SMA Negeri 1 Sukamakmur Sibreh terasa berbeda. Sekolah yang selama ini menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak Aceh Besar itu menjadi tempat bertemunya gagasan dari berbagai penjuru dunia.

Bukan sekadar kunjungan akademik. Hari itu, Sibreh menjadi ruang perjumpaan lintas negara, lintas budaya, dan lintas generasi melalui USU SPIRIT Summer Course 2026, sebuah program yang dikoordinasikan oleh Universitas Sumatera Utara (USU) di bawah koordinasi Dr. Dina.

Para dosen, mahasiswa, dan akademisi dari berbagai negara hadir membawa satu pesan penting: bahwa persoalan dunia tidak dapat diselesaikan oleh satu negara atau satu kelompok saja. Dibutuhkan kolaborasi, pengetahuan, kepedulian, dan keberanian generasi muda untuk mengambil bagian.

Di antara para akademisi internasional yang hadir terdapat Ivan Salazar Chang, Ph.D. dari University Polytechnic of Valencia, Margarita Gozalo Delgado, Ph.D. dari Universidad de Extremadura, serta Thanuja Prabashani Liyanage dari Sabaragamuwa University of Sri Lanka. Kehadiran mereka bersama para mahasiswa menjadikan SMA Negeri 1 Sukamakmur seolah berubah menjadi sebuah kelas global.

Dunia Tidak Lagi Jauh

Bagi sebagian siswa, perubahan iklim, pemanasan global, kerusakan lingkungan, dan berbagai isu strategis dunia mungkin selama ini hanya mereka kenal melalui buku pelajaran, media sosial, atau pemberitaan.

Namun pada hari itu, isu-isu tersebut hadir dalam bentuk manusia. Para akademisi dari berbagai negara datang langsung ke sekolah mereka untuk berbagi perspektif dan pengalaman.

Program USU SPIRIT Summer Course 2026 memang berfokus pada kolaborasi global dalam menghadapi isu-isu strategis, salah satunya perubahan iklim. Kehadirannya di SMA Negeri 1 Sukamakmur menjadi momentum penting untuk memperluas cara pandang peserta didik bahwa pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas dan batas geografis.

Dunia yang mereka pelajari bukan hanya Indonesia. Dunia adalah ruang yang saling terhubung.

Perubahan iklim di satu tempat dapat memberikan dampak kepada tempat lain. Kerusakan lingkungan tidak mengenal batas negara. Demikian pula solusi terhadap persoalan global membutuhkan kerja sama dari berbagai bangsa.

Pesan inilah yang menjadi salah satu nilai penting dari kunjungan tersebut.

Belajar dari Mahasiswa Lintas Negara

Menariknya, pengalaman belajar yang diberikan kepada siswa tidak hanya berhenti pada diskusi mengenai isu global.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para mahasiswa lintas negara juga memberikan seminar edukasi tentang dehidrasi kepada siswa SMA Negeri 1 Sukamakmur.

Topik tersebut terasa dekat dengan kehidupan para siswa. Dehidrasi merupakan kondisi yang dapat terjadi ketika tubuh kehilangan cairan lebih banyak daripada yang masuk. Bagi pelajar yang aktif mengikuti berbagai kegiatan, berolahraga, atau beraktivitas di bawah cuaca panas, pemahaman tentang pentingnya menjaga kecukupan cairan menjadi bagian penting dari pola hidup sehat.

Melalui seminar tersebut, para mahasiswa berbagi pengetahuan dan mengajak siswa untuk lebih mengenali pentingnya menjaga hidrasi tubuh, memahami tanda-tanda dehidrasi, serta membangun kebiasaan hidup sehat.

Bagi siswa, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang menarik karena pengetahuan kesehatan disampaikan langsung oleh mahasiswa dengan latar belakang dan pengalaman pendidikan yang beragam.

Di sinilah kekuatan program tersebut terasa.

Isu global dibicarakan, sementara persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa juga mendapatkan perhatian.

Pembelajaran akhirnya tidak hanya berbicara tentang apa yang ada di dalam buku, tetapi juga tentang bagaimana ilmu pengetahuan digunakan untuk menjaga diri, lingkungan, dan masyarakat.

Kebanggaan Seorang Kepala Sekolah

Rombongan USU SPIRIT Summer Course 2026 disambut langsung oleh Kepala SMA Negeri 1 Sukamakmur, Khairul Zami, S.Pd., M.Pd.

Dalam sambutannya ketika membuka kegiatan, Khairul Zami menyampaikan rasa bahagia dan bangga karena sekolahnya dipercaya menjadi salah satu tujuan kegiatan akademik internasional tersebut.

Baginya, kehadiran para akademisi dan mahasiswa dari berbagai negara bukan sekadar sebuah agenda seremonial.

Ini adalah kesempatan berharga bagi siswa untuk melihat bahwa sekolah mereka juga memiliki ruang untuk terhubung dengan dunia.

Ia memandang kegiatan tersebut sebagai pengalaman yang sangat berarti bagi dirinya, para guru, dan terutama peserta didik.

Kehadiran akademisi internasional di sekolah, menurutnya, dapat menumbuhkan kepekaan siswa terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat dunia.

Lebih jauh, pengalaman semacam ini diharapkan mampu membangun keberanian siswa untuk memiliki cita-cita yang lebih tinggi, berpikir lebih terbuka, dan menyadari bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat global.

Sekolah, dalam pandangannya, bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di sekitar dan di dunia.

Dari Sibreh untuk Dunia

SMA Negeri 1 Sukamakmur mungkin berada di Sibreh, Aceh Besar. Namun lokasi geografis tidak semestinya menjadi batas bagi mimpi dan wawasan peserta didik.

Justru dari sekolah-sekolah di daerah, generasi muda harus dibekali kemampuan untuk memahami dunia yang semakin terkoneksi.

Kehadiran USU SPIRIT Summer Course 2026 memperlihatkan bagaimana sekolah menengah dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih luas. Perguruan tinggi, sekolah, dosen, mahasiswa, dan masyarakat pendidikan dapat bertemu dalam satu ruang untuk berbagi gagasan.

Kolaborasi seperti ini menjadi semakin penting di tengah tantangan abad ke-21 yang semakin kompleks.

Siswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesadaran bahwa keputusan dan tindakan mereka dapat memberikan dampak yang lebih luas.

Dalam konteks perubahan iklim, kesadaran tersebut menjadi semakin penting.

Generasi muda hari ini bukan hanya pewaris bumi, tetapi juga generasi yang akan menghadapi secara langsung berbagai konsekuensi perubahan lingkungan pada masa depan.

Karena itu, membangun kepedulian sejak bangku sekolah bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Alumni yang Kembali ke Rumah

Ada satu hal lain yang membuat kegiatan tersebut terasa semakin istimewa bagi keluarga besar SMA Negeri 1 Sukamakmur.

Kegiatan itu turut dihadiri Dr. Yeni, Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga Universitas Syiah Kuala, yang juga merupakan salah satu alumni SMA Negeri 1 Sukamakmur.

Kehadiran seorang alumni dalam kegiatan akademik yang mempertemukan sekolah dengan dunia perguruan tinggi dan akademisi internasional memberikan pesan tersendiri.

Sekolah bukan hanya tempat seseorang menempuh pendidikan pada masa lalu. Sekolah adalah rumah intelektual yang dapat terus menjadi bagian dari perjalanan hidup para alumninya.

Para alumni yang telah melanjutkan pendidikan dan berkiprah di berbagai bidang dapat menjadi jembatan bagi sekolah untuk membuka lebih banyak peluang kolaborasi.

Kehadiran Dr. Yeni menjadi gambaran bahwa keberhasilan seorang alumni tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga dapat kembali memberi energi dan inspirasi kepada generasi yang sedang belajar.

Belajar Menjadi Warga Dunia

Pada akhirnya, USU SPIRIT Summer Course 2026 di SMA Negeri 1 Sukamakmur bukan hanya tentang dosen dari berbagai negara, mahasiswa, seminar dehidrasi, atau sebuah agenda akademik.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan sebuah pengalaman tentang bagaimana pendidikan mempertemukan manusia.

Siswa-siswa SMA Negeri 1 Sukamakmur mendapatkan kesempatan untuk melihat bahwa dunia ternyata tidak sejauh yang mereka bayangkan.

Ada banyak bahasa, budaya, pengalaman, dan perspektif yang berbeda. Tetapi di balik perbedaan tersebut terdapat persoalan bersama yang membutuhkan kepedulian bersama pula.

Perubahan iklim adalah salah satunya. Kesehatan dan kualitas hidup generasi muda adalah bagian lainnya.

Dari sebuah sekolah di Sibreh, pesan itu menemukan ruang: bahwa menjadi bagian dari dunia tidak harus dimulai dengan pergi jauh. Ia dapat dimulai dari keberanian untuk belajar, bertanya, berdiskusi, menjaga lingkungan, menjaga kesehatan, menghargai perbedaan, dan berkolaborasi.

Hari itu, dunia datang ke SMA Negeri 1 Sukamakmur.

Dan bagi para siswa, mungkin yang paling berharga bukan hanya siapa yang mereka temui, tetapi seberapa jauh pertemuan itu mampu mengubah cara mereka memandang masa depan.

Sebab pendidikan yang bermakna bukan hanya membuat anak mengetahui lebih banyak tentang dunia.

Pendidikan yang bermakna membuat mereka merasa ikut bertanggung jawab terhadap dunia.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top