LAMURIONLINE.COM I ACEH BESAR
-  Kehidupan dunia sering membuat manusia terlena. Gelar, harta, jabatan, popularitas, hingga jumlah pengikut di media sosial seolah menjadi ukuran keberhasilan. Namun, semua itu tidak akan berarti ketika manusia menghadapi satu hari yang pasti datang: Yaumul Qiyamah, hari ketika seluruh manusia mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatannya.

Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ustaz Farras Khairul Rahman, mengingatkan hal tersebut dalam khutbah Jumat di Masjid Jami’ PMDG Kampus 8, Seulimuem, Aceh Besar, Jumat (4/9/2026).

Ustaz Farras mengajak umat Islam untuk tidak terlena dengan kehidupan dunia dan mulai mempersiapkan diri menghadapi hari akhir. Menurutnya, Allah Swt telah berulang kali mengingatkan manusia tentang kedahsyatan hari kiamat melalui Al-Qur’an. Rasulullah saw juga telah memberikan banyak peringatan mengenai kehidupan setelah kematian.

“Pertanyaannya, sudah siapkah kita?” ujarnya dalam khutbah tersebut.

Ia menggambarkan dahsyatnya hari kiamat sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an. Pada hari itu bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, gunung-gunung dihancurkan, dan manusia berlari meninggalkan orang-orang terdekatnya.

“Allah menggambarkan hari itu dengan bumi yang diguncang dahsyat, gunung-gunung hancur menjadi debu, dan manusia lari dari ayah, ibu, istri, serta anaknya. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri,” ujar Ustaz Farras.

Menurutnya, gambaran tersebut menunjukkan bahwa pada hari kiamat manusia tidak lagi memikirkan kedudukan, kekayaan, maupun hubungan sosial sebagaimana di dunia. Setiap orang akan sibuk mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah Swt.

Ustaz Farras juga mengingatkan kondisi manusia ketika berada di Padang Mahsyar. Matahari akan didekatkan kepada manusia, sehingga keringat membasahi tubuh dengan kadar yang berbeda-beda sesuai dengan amal dan kondisi masing-masing.

“Ada yang keringatnya sampai mata kaki, lutut, pinggang, bahkan ada yang tenggelam dalam keringatnya,” katanya.

Karena itu, ia mengajak umat Islam segera melakukan perubahan sebelum datangnya kematian dan hari pertanggungjawaban.

“Yang masih meninggalkan shalat, segeralah kembali. Yang masih zalim kepada orang lain, minta maaflah. Yang masih memakan harta haram, tinggalkanlah. Karena pada hari itu tidak ada jual beli, tidak ada suap, dan tidak ada orang dalam,” tegasnya.

Ia menekankan, kesempatan memperbaiki diri hanya tersedia selama manusia masih hidup. Ketika kematian datang, seluruh kesempatan untuk menambah amal dan memperbaiki kesalahan telah berakhir.

Ustaz Farras kemudian mengajak umat Islam  memperbanyak mengingat kematian sebagai penghancur segala kenikmatan dunia. Menurutnya, mengingat kematian bukan berarti menjauhi kehidupan dunia, tetapi menjadi pengingat agar setiap aktivitas kehidupan diarahkan kepada ketaatan kepada Allah Swt.

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan, yaitu kematian, dan bersiap-siaplah untuk bertemu Tuhan langit dan bumi,” katanya.

Ia mengajak umat Islam  meningkatkan semangat dalam beribadah dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

“Bersemangatlah dalam menaati Tuhan kalian, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, dan berbuat baik kepada makhluk Allah,” ujarnya.

Pada bagian akhir khutbah, Ustaz Farras mengingatkan jamaah pada pesan Al-Qur’an tentang pentingnya menegakkan keadilan dan kebajikan. Allah Swt memerintahkan manusia berbuat adil, berbuat ihsan, membantu kaum kerabat, serta menjauhi perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran,” demikian pesan yang disampaikan dalam khutbah tersebut. (Sayed M. Husen/Kaffah)

SHARE :

0 facebook:

 
Top