Hj. Supiati, S. Ag., M. Sos
Sekretaris PD IPARI Kota Banda Aceh
Dari Sekadar Memiliki Suara Menuju Kemampuan Memiliki PilihanKehidupan masyarakat modern dibangun di atas banyak jaringan yang saling terhubung. Kita bergantung pada petani untuk pangan, pedagang untuk distribusi, pelaku usaha untuk menyediakan barang dan jasa, pemerintah untuk pelayanan publik, serta berbagai pihak lain yang membuat kehidupan sehari-hari berjalan. Saling bergantung bukanlah sesuatu yang salah. Justru, kehidupan sosial membutuhkan kerja sama dan pembagian peran. Persoalannya muncul ketika sebuah masyarakat hanya memiliki satu pilihan dan tidak mempunyai kemampuan untuk mencari alternatif ketika pilihan tersebut terganggu. Pada titik inilah ketergantungan dapat berubah menjadi kerentanan.
Karena itu, masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang harus mampu melakukan semuanya sendiri. Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang memiliki resiliensi, yaitu kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi tekanan, beradaptasi ketika keadaan berubah, dan pulih setelah mengalami gangguan. Resiliensi bukan sekadar kemampuan untuk melewati krisis, tetapi juga kemampuan untuk belajar dari krisis dan membangun kesiapan yang lebih baik untuk menghadapi masa berikutnya.
Ketika Satu Pilihan Tidak Lagi Cukup
Bayangkan sebuah masyarakat yang sumber penghasilannya hanya bergantung pada satu jenis pekerjaan atau satu komoditas. Selama keadaan berjalan normal, ketergantungan tersebut mungkin tidak terasa sebagai masalah. Namun ketika harga turun, pasokan terganggu, terjadi bencana, atau permintaan pasar berubah, dampaknya dapat dirasakan secara luas. Persoalannya bukan semata-mata karena masyarakat mengalami kesulitan, tetapi karena mereka tidak memiliki cukup pilihan untuk merespons perubahan tersebut.
Di sinilah pentingnya keberdayaan masyarakat. Memiliki pilihan bukan berarti menolak bantuan, menolak pemerintah, atau harus berdiri sendiri tanpa membutuhkan orang lain. Sebaliknya, keberdayaan berarti memiliki pengetahuan, keterampilan, jaringan sosial, serta kemampuan untuk menentukan langkah ketika menghadapi perubahan. Semakin banyak pilihan yang dimiliki masyarakat secara sehat dan realistis, semakin besar pula ruang mereka untuk beradaptasi.
Masyarakat yang berdaya tidak berarti masyarakat yang tidak pernah mengalami masalah. Mereka tetap dapat menghadapi kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, bencana, perubahan pasar, maupun persoalan sosial lainnya. Perbedaannya terletak pada kemampuan mereka dalam merespons. Mereka tidak hanya menunggu keadaan kembali normal, tetapi berusaha mencari jalan keluar dengan memanfaatkan potensi yang tersedia.
Resiliensi: Bertahan, Beradaptasi, dan Pulih
Secara sederhana, resiliensi masyarakat dapat dipahami melalui tiga kemampuan utama: bertahan, beradaptasi, dan pulih. Bertahan berarti memiliki kemampuan untuk melewati tekanan tanpa kehilangan fungsi utama kehidupan sosial. Beradaptasi berarti mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan dengan mencari cara baru yang lebih sesuai. Sedangkan pulih berarti mampu bangkit setelah mengalami gangguan sekaligus mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.
Resiliensi tidak tumbuh hanya dari kekuatan individu. Ia tumbuh dari hubungan antarmanusia, pengetahuan, kepercayaan, kepedulian, dan kemampuan untuk bekerja sama. Ketika terjadi gangguan pada pasokan pangan misalnya, ketahanan masyarakat tidak hanya bergantung pada satu pihak. Ada petani yang menghasilkan pangan, pedagang yang mendistribusikan, pelaku usaha kecil yang mengolahnya, masyarakat yang mengonsumsi, serta berbagai kelompok yang dapat membantu menghubungkan kebutuhan dan sumber daya.
Di sinilah kita mengenal istilah modal sosial. Modal sosial bukan uang atau aset dalam bentuk benda, melainkan kepercayaan, hubungan, jaringan, kepedulian, dan kemauan untuk saling membantu. Dalam konteks Indonesia, modal sosial ini sangat dekat dengan nilai gotong royong. Ketika masyarakat memiliki kepercayaan dan hubungan yang baik, mereka lebih mudah mengumpulkan kekuatan ketika menghadapi persoalan bersama.
Resiliensi juga membutuhkan pengetahuan. Masyarakat yang memiliki informasi yang cukup akan lebih mampu memahami persoalan, mengenali potensi, mempertimbangkan pilihan, dan mengambil tindakan. Karena itu, pendidikan masyarakat dan penyuluhan memiliki peran penting dalam membangun keberdayaan. Penyuluhan bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi membantu masyarakat memahami persoalan sehingga mereka mampu mengambil keputusan secara lebih sadar dan bertanggung jawab.
Gotong Royong Bukan Sekadar Tradisi
Gotong royong sering dipahami sebagai tradisi sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun jika dilihat lebih jauh, gotong royong juga merupakan salah satu bentuk kekuatan masyarakat dalam menghadapi perubahan. Ketika seseorang memiliki keterbatasan, orang lain dapat memberikan pengetahuan. Ketika sebuah keluarga memiliki sumber daya yang berlebih, sumber daya tersebut dapat membantu keluarga lain. Ketika satu kelompok memiliki keterampilan tertentu, keterampilan itu dapat dibagikan kepada kelompok lain.
Dengan demikian, keberdayaan masyarakat tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar sumber daya yang dimiliki setiap individu, tetapi juga oleh seberapa baik sumber daya tersebut dapat dihubungkan. Pengetahuan seorang warga, pengalaman seorang pelaku usaha, jaringan seorang tokoh masyarakat, keterampilan pemuda, serta kepedulian kelompok perempuan dapat menjadi kekuatan bersama apabila dipertemukan dalam kerja sama yang baik.
Masyarakat yang memiliki jaringan sosial yang sehat akan lebih mudah menghadapi persoalan karena mereka tidak menghadapi masalah seorang diri. Mereka memiliki tempat untuk bertanya, berdiskusi, mendapatkan informasi, dan mencari solusi. Inilah salah satu alasan mengapa pembangunan masyarakat tidak cukup hanya berbicara tentang infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga perlu memperkuat hubungan sosial dan kapasitas manusia.
Dari Voice Menuju Kemampuan Memilih
Dalam kajian sosial, terdapat konsep voice dan exit yang diperkenalkan oleh Albert O. Hirschman. Secara sederhana, voice dapat dipahami sebagai kemampuan untuk menyampaikan pendapat, kritik, atau masukan terhadap suatu keadaan. Sementara exit berkaitan dengan kemampuan untuk mencari alternatif ketika sebuah pilihan tidak lagi sesuai atau tidak mampu memenuhi kebutuhan.
Dalam kehidupan masyarakat, keduanya memiliki tempat masing-masing. Masyarakat perlu memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, memberikan masukan, dan ikut dalam proses pengambilan keputusan. Namun suara akan lebih bermakna ketika masyarakat juga memiliki kapasitas untuk membangun alternatif. Dengan kata lain, keberdayaan bukan hanya kemampuan untuk mengatakan apa yang tidak sesuai, tetapi juga kemampuan untuk mengatakan, “Jika cara ini tidak berjalan, kita memiliki pilihan lain.”
Pilihan tersebut dapat berupa penguatan usaha lokal, kerja sama antarwarga, pengembangan keterampilan, pemanfaatan sumber daya setempat, jaringan pemasaran, koperasi, kelompok usaha, maupun berbagai bentuk kolaborasi lainnya. Tujuannya bukan untuk memutus hubungan dengan sistem yang lebih luas, melainkan agar masyarakat tidak menjadi terlalu rapuh ketika salah satu jalur mengalami gangguan.
Semakin banyak pilihan yang sehat dan realistis dimiliki masyarakat, semakin besar pula daya tawarnya. Daya tawar bukan berarti keinginan untuk mendominasi pihak lain, tetapi kemampuan untuk bernegosiasi secara lebih seimbang karena memiliki pengetahuan, alternatif, dan kekuatan bersama.
Islam Mengajarkan Agar Manfaat Tidak Berhenti pada Segelintir Orang
Islam memberikan perhatian besar terhadap persoalan distribusi manfaat dan keadilan sosial. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7:
“...agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
Ayat ini berbicara dalam konteks pembagian harta, tetapi mengandung pesan sosial yang luas tentang pentingnya agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada kelompok tertentu. Dalam kehidupan masyarakat, keberdayaan dapat dibangun ketika kesempatan untuk belajar, bekerja, berusaha, dan mengembangkan potensi terbuka secara lebih luas.
Karena itu, penguatan usaha masyarakat, UMKM, ekonomi lokal, keterampilan warga, dan kerja sama produktif bukan hanya persoalan ekonomi. Semua itu dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih berdaya. Ketika masyarakat memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai dari potensi yang ada di sekitarnya, mereka tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga dapat menjadi pelaku yang memberi manfaat.
Mukmin yang Kuat adalah Mukmin yang Berdaya
Rasulullah SAW bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan.”(HR. Muslim)
Kekuatan dalam hadis ini tidak semestinya dipahami hanya sebagai kekuatan fisik. Dalam kehidupan masyarakat, kekuatan dapat hadir dalam bentuk iman yang kokoh, ilmu yang bermanfaat, keterampilan, mental yang tangguh, kemampuan ekonomi, kepedulian sosial, serta kesanggupan menghadapi perubahan tanpa mudah kehilangan arah.
Seorang mukmin yang berdaya bukan berarti orang yang tidak membutuhkan orang lain. Islam justru mengajarkan pentingnya ukhuwah, tolong-menolong, dan kepedulian. Kemandirian dan kebersamaan bukan dua hal yang bertentangan. Seseorang dapat memiliki kemampuan untuk berdiri dengan kuat sekaligus memiliki kepedulian untuk menguatkan orang lain.
Begitu pula dengan masyarakat. Masyarakat yang berdaya bukan masyarakat yang menutup diri dari bantuan, melainkan masyarakat yang mampu mengubah bantuan menjadi pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan kapasitas untuk berkembang. Bantuan dapat menyelesaikan kebutuhan hari ini, tetapi keberdayaan membangun kemampuan menghadapi hari esok.
Pengetahuan Membuat Masyarakat Lebih Siap
Pada akhirnya, resiliensi masyarakat tidak dibangun dalam satu hari. Ia tumbuh melalui proses belajar yang terus-menerus. Masyarakat perlu memahami persoalannya, mengenali kekuatan yang dimiliki, mengetahui keterbatasannya, membangun hubungan yang sehat, dan berani mencoba berbagai alternatif yang sesuai dengan kebutuhan.
Di sinilah penyuluhan agama dan pembangunan memiliki ruang yang sangat penting. Penyuluhan tidak hanya berbicara tentang pengetahuan keagamaan secara teoritis, tetapi juga dapat mendorong masyarakat untuk menerjemahkan nilai agama ke dalam kehidupan nyata: kepedulian, tanggung jawab, kerja sama, kejujuran, pemberdayaan, dan kemaslahatan.
Masyarakat yang memiliki pengetahuan akan lebih siap menghadapi perubahan. Masyarakat yang memiliki keterampilan akan memiliki lebih banyak pilihan. Masyarakat yang memiliki jaringan sosial akan lebih mudah saling menguatkan. Dan masyarakat yang memiliki nilai agama akan memiliki arah dalam menggunakan semua kemampuan tersebut.
Berdaya untuk Menghadapi Hari Esok
Tujuan membangun masyarakat yang berdaya bukanlah menghilangkan ketergantungan sepenuhnya. Tidak ada masyarakat yang benar-benar hidup sendiri. Kita tetap membutuhkan petani, pedagang, pemerintah, tenaga kesehatan, pendidik, pelaku usaha, dan berbagai pihak lainnya. Kehidupan memang dibangun melalui saling ketergantungan.
Yang perlu dihindari adalah ketergantungan yang membuat masyarakat kehilangan pilihan. Ketika satu jalur terganggu, masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, jaringan, dan kerja sama akan memiliki lebih banyak kemungkinan untuk beradaptasi.
Karena itu, keberdayaan masyarakat sesungguhnya bukan tentang siapa yang paling kuat berdiri sendiri. Keberdayaan adalah kemampuan untuk saling menguatkan tanpa kehilangan daya untuk menentukan pilihan.
Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang saling membutuhkan tanpa kehilangan daya untuk menentukan pilihan.

0 facebook:
Post a Comment