Oleh: Syahrati
Penyuluh Agama Islam Bireuen
Ada orang yang sudah berusaha, tetapi hasil yang diharapkan belum juga datang. Ada yang sudah berdoa berkali-kali, bahkan bertahun-tahun, tetapi keadaan belum berubah. Pada titik tertentu, muncul pertanyaan: mengapa Allah belum mengabulkan doa saya?
Pertanyaan itu manusiawi. Namun, Islam mengajarkan kita untuk tidak menjadikan cepat atau lambatnya sebuah jawaban sebagai ukuran bahwa Allah mendengar atau tidak mendengar doa kita. Salah satu kisah yang dapat menjadi bahan renungan adalah kisah Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim AS.
Kisah Siti Sarah dalam Al-Qur'an
Kisah Siti Sarah ketika mendapat kabar tentang kelahiran Nabi Ishaq as. disebut dalam beberapa ayat Al-Qur'an, antara lain QS. Hud ayat 69–73, QS. Al-Hijr ayat 51–56, dan QS. Adz-Dzariyat ayat 24–30.
Dalam QS. Hud ayat 71, Allah menyampaikan bahwa para malaikat memberikan kabar gembira kepada Sarah tentang kelahiran Ishaq, dan setelah Ishaq akan lahir Ya'qub. Sarah merasa heran karena dirinya sudah lanjut usia dan Nabi Ibrahim as. juga telah tua.
Allah mengabadikan perkataan Sarah:
"Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua dan suamiku ini juga sudah tua?" (QS. Hud: 72)
Menurut Ibnu Katsir, keterkejutan Sarah berkaitan dengan keadaan dirinya dan Ibrahim yang telah mencapai usia lanjut. Namun kabar itu tetap merupakan ketetapan Allah. Kisah ini menunjukkan bahwa manusia melihat keadaan berdasarkan apa yang tampak, sedangkan Allah memiliki pengetahuan dan kekuasaan yang tidak terbatas oleh keadaan tersebut.
Ketika doa belum sesuai dengan harapan
Kisah Sarah tidak harus dipahami sebagai jaminan bahwa setiap doa akan dikabulkan persis seperti yang kita inginkan. Justru di titik itulah kita perlu memahami doa dengan lebih baik.
Ada orang yang sudah melakukan ikhtiar, berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi belum memperoleh apa yang diminta. Dalam keadaan seperti ini, jangan sampai seseorang berhenti berdoa karena merasa Allah tidak mendengarnya.
Rasulullah saw. mengingatkan agar seseorang tidak tergesa-gesa dalam berdoa. Dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra. disebutkan bahwa doa seseorang tetap akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dengan mengatakan, "Aku sudah berdoa, tetapi belum dikabulkan," lalu akhirnya meninggalkan doa. (HR. Bukhari no. 6340, Muslim no. 2735)
Hadis ini penting bagi orang yang sedang menunggu. Rasulullah saw. tidak mengatakan bahwa orang beriman tidak boleh merasa lelah atau sedih. Yang dilarang adalah menjadikan keterlambatan sebagai alasan untuk berhenti berharap dan meninggalkan doa. Karena itu, ketika doa belum terwujud, ada dua hal yang tetap perlu dilakukan: melanjutkan ikhtiar dan mempertahankan hubungan dengan Allah melalui doa.
Jangan mengukur kuasa Allah dengan keadaan kita
Sarah melihat keadaan dirinya dan Nabi Ibrahim sebagai sesuatu yang secara manusiawi sulit terjadi. Tetapi Allah menunjukkan bahwa kehendak-Nya tidak dibatasi oleh perhitungan manusia.
Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan kita. Kita mungkin melihat sebuah masalah dan mengatakan, "Saya tidak mungkin keluar dari keadaan ini." Kita melihat usia, kemampuan, keadaan ekonomi, hubungan, pekerjaan, atau berbagai keterbatasan lainnya. Namun, kita perlu membedakan antara "saya tidak mampu" dan "Allah tidak mampu." Keterbatasan kita bukanlah keterbatasan Allah.
Keyakinan ini pun tidak berarti kita boleh berhenti berusaha. Kisah para nabi justru mengajarkan bahwa iman berjalan bersama ikhtiar: kita berusaha dengan kemampuan yang dimiliki, berdoa dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Apa yang dapat dipelajari?
Dari kisah Siti Sarah, ada beberapa hal yang layak direnungkan. Jangan berputus asa ketika doa belum terwujud, sebab kita tidak mengetahui seluruh ketetapan Allah. Jangan pula membatasi kemungkinan hanya berdasarkan keadaan hari ini, karena apa yang tidak mampu kita lakukan bukan berarti tidak mungkin terjadi atas kehendak Allah. Dan jangan berhenti berdoa hanya karena jawaban belum terlihat, sebab Rasulullah saw. justru mengingatkan agar seorang hamba tidak tergesa-gesa meninggalkan doa.
Kisah Siti Sarah bukan sekadar tentang seorang perempuan yang mendapatkan kabar kelahiran anak di usia lanjut. Kisah ini mengajarkan cara menghadapi sesuatu yang belum kita pahami. Ada doa yang jawabannya datang cepat, ada pula yang membutuhkan waktu panjang. Ada yang jawabannya sesuai dengan permintaan kita, dan ada keadaan yang baru kita pahami setelah waktu berlalu. Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di balik ketetapan Allah.
Karena itu, jika hari ini kita sudah berusaha dan berdoa tetapi belum mendapatkan apa yang kita harapkan, jangan berhenti berharap kepada Allah. Boleh merasa lelah, tetapi jangan berhenti berdoa. Boleh menangis, tetapi jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sebab tugas kita adalah berusaha dan berdoa. Tentang kapan dan bagaimana jawaban itu datang, Allah yang paling mengetahui.

0 facebook:
Post a Comment