LAMURIONLINE.COM | BANDA ACEH - Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Ilham Maulana, menyampaikan tausiyah Subuh dalam kegiatan Safari BBC di Masjid An-Nur, Gampong Ie Masen Kayee Adang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Ahad (18/10/2026).
Dalam tausiyah bertepatan dengan 7 Jumadil Awal 1448 Hijriah itu, Prof. Ilham mengajak jamaah untuk mewaspadai langkah pertama menuju kemaksiatan serta membangun kebiasaan baik melalui ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.
Menurutnya, Rasulullah SAW berjuang untuk keselamatan umat, baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah juga menyukai umatnya yang banyak, tetapi yang diharapkan tentu umat yang benar-benar mengikuti petunjuk dan ajaran beliau.
“Perkataan, perbuatan, dan sikap kita semuanya mengandung frekuensi dakwah. Ketika kita berjamaah, kita saling memengaruhi secara positif dan berada dalam proses untuk menjadi semakin baik,” jelasnya.
Prof. Ilham kemudian menguraikan kisah Iblis yang menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Ketika ditanya mengapa tidak mau bersujud, Iblis menjawab bahwa dirinya lebih baik karena diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah liat.
Ia menjelaskan, pembangkangan Iblis memperlihatkan adanya proses perubahan dari ketaatan menuju penentangan. Ketika kesombongan dan penolakan terhadap perintah Allah menjadi sikap yang disengaja, Iblis pun menjadi makhluk yang durhaka dan dikenal sebagai setan.
“Kesalahan yang pertama mungkin merupakan kekhilafan. Kesalahan kedua bisa menjadi kekeliruan yang berulang, sedangkan kesalahan ketiga dapat menunjukkan kesengajaan apabila seseorang terus mengulanginya tanpa mau memperbaiki diri,” ujarnya, menjelaskan pentingnya mengenali tanda-tanda awal penyimpangan.
Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an berulang kali melarang manusia mengikuti langkah-langkah setan. Larangan tersebut, menurutnya, mengandung pesan agar manusia tidak hanya menghindari kemaksiatan, tetapi juga menjauhi proses dan kebiasaan yang dapat mengantarkan seseorang kepadanya.
Dua Algoritma Kehidupan
Menggunakan analogi algoritma, Prof. Ilham menjelaskan bahwa sebuah langkah awal dapat membuka jalan bagi langkah-langkah berikutnya. Jika seseorang mulai membiasakan diri melakukan keburukan, tindakan berikutnya dapat terasa semakin mudah hingga akhirnya ia terjebak dalam pola perilaku yang sulit dihentikan.
Sebaliknya, pola yang sama dapat berlaku dalam kebaikan. Ketika seseorang memulai ibadah, membiasakan membaca Al-Qur’an, menjaga salat, dan berbuat baik kepada sesama, kebiasaan tersebut dapat membentuk dorongan positif untuk terus meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada Allah SWT.
“Berhati-hatilah terhadap langkah pertama. Ketika seseorang sudah masuk ke dalam suatu pola, langkah berikutnya bisa menjadi semakin mudah. Karena itu, jangan biarkan keburukan berkembang dan berlanjut,” pesannya.
Prof. Ilham juga mengingatkan pentingnya segera menghentikan rangkaian keburukan ketika seseorang menyadari dirinya telah melakukan kesalahan. Salah satu caranya ialah segera bertobat dan mengiringi keburukan dengan amal saleh.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan ajaran Rasulullah SAW agar manusia mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik sehingga kebaikan itu dapat menghapus keburukan.
Menurutnya, orang yang telah terlanjur melakukan kesalahan tidak boleh membiarkan dirinya terus tenggelam dalam kemaksiatan. Kesadaran, penyesalan, dan tindakan memperbaiki diri menjadi jalan untuk memutus rangkaian perilaku negatif tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa setan berusaha membujuk manusia agar memulai langkah menuju kemaksiatan. Setelah manusia terjerumus, setan berlepas diri dari mereka yang mengikuti ajakannya.
Memulai Kebaikan
Lebih lanjut, Prof. Ilham menjelaskan bahwa manusia dihadapkan pada dua jalan kehidupan. Pertama, jalan ketaatan yang diajarkan Rasulullah SAW dan para nabi, yang mengarahkan manusia kepada petunjuk Allah SWT. Kedua, jalan kesesatan yang dipromosikan Iblis dan setan, yang menjauhkan manusia dari kebenaran.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk mengambil inisiatif memulai kebaikan tanpa menunggu waktu yang dianggap sempurna. Menurutnya, langkah awal dalam beribadah perlu segera dilakukan karena konsistensi akan membantu seseorang membangun kebiasaan baik.
“Dalam kebaikan, Rasulullah mengajak kita mengambil langkah pertama untuk beribadah. Insyaallah, ketika kita memulainya dengan sungguh-sungguh, Allah akan memberikan jalan dan kemudahan untuk melanjutkannya,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap godaan setan harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Manusia perlu menjaga niat, memilih lingkungan yang baik, memastikan makanan yang dikonsumsi halal, serta menghindari kebiasaan yang dapat menyeretnya kepada kemaksiatan.
Prof. Ilham secara khusus mengingatkan jamaah agar memperhatikan kehalalan makanan sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Ia mengaitkan hal itu dengan kisah Nabi Adam AS yang tergoda untuk mendekati pohon terlarang setelah Iblis membujuknya dengan janji kehidupan kekal.
Di akhir tausiyahnya, ia mengajak jamaah menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk memperkuat algoritma kebaikan melalui ibadah, pergaulan yang positif, dan komitmen mengikuti petunjuk Allah SWT.
“Berhati-hatilah, Iblis dan setan masih terus menggoda manusia. Jangan sampai kita terpengaruh oleh ajakan mereka dan menjauh dari petunjuk Allah,” tutupnya.(Saifuddin A. Rasyid)

0 facebook:
Post a Comment