Oleh: Saifuddin A. Rasyid

lamurionline.com -- Ada pelajaran penting dari rumah yang berdekatan dengan pemakaman. Bagi sebagian orang, kedekatan itu mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan dianggap menyimpan misteri yang menakutkan. Namun, bagi almarhum Ustaz Israk Ahmadsyah, PhD, dosen FEBI UIN Ar-Raniry, kedekatan tersebut justru menjadi sumber inspirasi spiritual: pengingat agar tidak pernah lalai terhadap kematian.

Dalam sambutan pada pemakaman Ustaz Israk, Selasa, 13 Oktober 2026, Keuchik Akmal, pemimpin Gampong Tanjong, Ingin Jaya, Aceh Besar, mengisahkan bahwa almarhum pernah menyampaikan kesukaannya tinggal di rumah yang persis bersisian dengan pemakaman umum. Alasannya sederhana, tetapi mendalam: kondisi itu membantunya melakukan zikrul maut, mengingat kematian.

Menurut Keuchik Akmal, cerita tersebut menjadi pelajaran penting sekaligus memberikan energi positif kepada masyarakat. Apa yang bagi sebagian orang dipandang sebagai sesuatu yang ingin dijauhi, justru dimaknai Ustaz Israk sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Kisah ini mengajak kita bertanya: apakah yang sesungguhnya menakutkan dari kematian? Kematian itu sendiri, atau kenyataan bahwa kita belum cukup mempersiapkan diri untuk menghadapinya?

Kematian yang selalu mengintai

Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas:


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran [3]: 185).

Kematian bukan kemungkinan yang hanya menghampiri orang lanjut usia, orang sakit, atau mereka yang telah menyelesaikan seluruh urusannya di dunia. Ia merupakan kepastian yang tidak mengenal jabatan, kekayaan, gelar akademik, maupun usia.

Sejak manusia dilahirkan, perjalanan hidupnya berlangsung dalam batas waktu yang tidak diketahuinya. Setiap pagi yang kita sambut, setiap malam yang kita lewati, sesungguhnya membawa kita semakin dekat kepada akhir perjalanan duniawi.

Allah bahkan berfirman:


قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ

“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, ia pasti menemui kamu.” (QS Al-Jumu’ah [62]: 8).

Pesannya jelas: manusia boleh menghindari pembicaraan tentang kematian, menjauh dari pemakaman, atau menyibukkan diri dengan berbagai urusan dunia. Namun, tidak ada yang dapat menghindari kepastian tersebut.

Karena itu, persoalannya bukan bagaimana melarikan diri dari kematian, melainkan bagaimana mempersiapkan diri sebelum kematian datang.

Zikrul maut dan karakter ulul albab

Dalam Islam, mengingat kematian bukanlah ajakan untuk hidup murung, kehilangan semangat, atau meninggalkan urusan dunia. Sebaliknya, zikrul maut merupakan latihan kesadaran agar kehidupan dijalani dengan tanggung jawab dan orientasi akhirat.

Allah menggambarkan karakter ulul albab, orang-orang yang menggunakan akal dan kedalaman hatinya untuk membaca tanda-tanda kebesaran-Nya:


الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring.” (QS Ali Imran [3]: 191).

Ayat ini menggambarkan kesadaran spiritual yang tidak dibatasi oleh tempat dan waktu. Zikir bukan sekadar aktivitas lisan di masjid, melainkan kesadaran yang menyertai kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks inilah kita dapat merefleksikan kehidupan Ustaz Israk. Kesukaannya menjadikan lingkungan rumah sebagai pengingat kematian memberikan gambaran tentang upaya memelihara kesadaran spiritual di tengah kesibukan dunia. Kita tidak sedang mengklaim mengetahui seluruh keadaan batin seseorang, tetapi mengambil pelajaran dari pesan yang ditinggalkannya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian.” (HR At-Tirmidzi, no. 2307).

Mengapa kematian disebut pemutus kelezatan? Karena kesadaran tentang akhir kehidupan dapat mengembalikan ukuran yang benar terhadap dunia. Kekayaan tidak lagi menjadi alasan untuk sombong. Kekuasaan tidak lagi menjadi pembenaran untuk menindas. Perselisihan tidak perlu dipelihara tanpa batas. Dan kesempatan berbuat baik tidak selayaknya ditunda sampai waktu yang belum tentu datang.

Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulum al-Din, membahas pentingnya mengingat kematian sebagai bagian dari pendidikan hati. Ingatan tersebut membantu manusia mengurangi keterikatan berlebihan terhadap dunia dan memperkuat persiapan untuk kehidupan akhirat.

Dengan demikian, zikrul maut bukan musuh kebahagiaan. Ia adalah penuntun agar kebahagiaan tidak membuat manusia lupa diri.

Antara takut mati dan takut menghadap Allah

Ada orang yang begitu takut membicarakan kematian sehingga selalu menghindarinya. Ada pula yang menghabiskan hidup untuk mengejar dunia seolah-olah tidak akan pernah meninggalkannya. Sebagian bahkan mengukur keberhasilan hanya dari panjang usia, harta, dan pengaruh, tanpa cukup memikirkan kualitas amal.

Namun, kita perlu membedakan ketakutan manusiawi terhadap kematian dengan sikap yang membuat seseorang lalai dari tanggung jawab akhirat.

Rasa takut kehilangan kehidupan merupakan naluri yang wajar. Islam tidak memerintahkan manusia mencari kematian atau mengabaikan kewajiban menjaga keselamatan. Yang perlu dikoreksi adalah ketika kecintaan kepada dunia membuat seseorang enggan bertobat, takut mempertanggungjawabkan perbuatannya, atau menolak mengingat akhirat.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kematian akan mempertemukan manusia dengan pertanggungjawaban atas amalnya. Kesadaran itu semestinya melahirkan keberanian memperbaiki diri, bukan keputusasaan.

Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Aisyah RA pernah menyampaikan bahwa setiap orang tidak menyukai kematian. Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa ketidaksukaan seorang mukmin terhadap kematian tidak otomatis berarti ia membenci perjumpaan dengan Allah. Ketika orang beriman diberi kabar tentang rahmat dan keridaan Allah, ia menyukai perjumpaan dengan-Nya; Allah pun menyukai perjumpaan dengannya (HR Muslim, no. 2684).

Hadis ini memberikan keseimbangan yang indah. Kita tidak perlu berpura-pura tidak takut mati. Yang lebih penting adalah memelihara iman, memperbaiki amal, dan menumbuhkan harapan terhadap rahmat Allah.

Pelajaran psikologi tentang kesadaran kematian

Psikologi modern juga mempelajari bagaimana kesadaran akan kematian memengaruhi perilaku manusia. Salah satu pendekatan yang dikenal adalah Terror Management Theory, yang meneliti cara manusia menghadapi kecemasan karena menyadari bahwa kehidupannya terbatas.

Kajian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa kesadaran akan kematian dapat memengaruhi cara orang mempertahankan nilai, identitas, dan harga dirinya. Dampaknya tidak selalu positif: dalam keadaan tertentu, kesadaran tersebut dapat memperkuat sikap defensif, prasangka, atau permusuhan terhadap orang yang berbeda pandangan. Namun, penelitian tertentu juga menemukan bahwa pengingat kematian dapat meningkatkan kemurahan hati dan kepuasan ketika seseorang melakukan tindakan prososial.

Temuan ini menunjukkan bahwa mengingat kematian tidak otomatis menjadikan manusia lebih baik. Dampaknya bergantung pada bagaimana kesadaran tersebut diolah dan nilai apa yang membimbing responsnya.

Di sinilah pendidikan iman memainkan peran penting. Zikrul maut yang disertai taubat, kasih sayang, dan tanggung jawab dapat menjadi kekuatan untuk memperbaiki kehidupan. Sebaliknya, ketakutan tanpa pengharapan dapat berubah menjadi kecemasan yang melemahkan.

Karena itu, yang kita butuhkan bukan budaya menakut-nakuti manusia dengan kematian, melainkan pendidikan untuk memaknai kehidupan melalui kesadaran akan kematian.

Membiasakan zikrul maut bagi generasi muslim

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan generasi muslim.

Pertama, menjadikan Al-Qur’an sebagai pengingat harian. Membaca dan merenungkan ayat tentang kematian, pertanggungjawaban amal, serta kehidupan akhirat akan membantu membangun perspektif yang seimbang.

Kedua, mengunjungi pemakaman dengan adab dan tujuan yang benar. Rasulullah SAW pernah mengajarkan bahwa ziarah kubur mengingatkan manusia kepada akhirat (HR Muslim, no. 976). Ziarah bukan untuk mencari kesaktian, mempercayai hal-hal mistis, atau meminta kepada penghuni kubur, melainkan mendoakan mereka dan mengambil pelajaran bagi diri sendiri.

Ketiga, melakukan muhasabah sebelum tidur. Tanyakan kepada diri sendiri: adakah hak orang lain yang belum ditunaikan, perkataan yang melukai, amanah yang diabaikan, atau kebaikan yang masih dapat dikerjakan esok hari?

Keempat, mempercepat taubat dan memperbaiki hubungan. Jangan menunggu usia tua untuk meminta maaf, menyelesaikan utang, menunaikan amanah, dan memperbaiki hubungan keluarga. Tidak semua kesempatan akan datang dua kali.

Kelima, memperbanyak amal yang manfaatnya melampaui diri sendiri. Mengajar, menolong sesama, memelihara lingkungan, mendidik anak, dan membangun lembaga kebaikan merupakan cara mengisi umur dengan sesuatu yang bermakna.

Keenam, menjaga keseimbangan antara khauf dan raja’. Takut terhadap pertanggungjawaban harus berjalan bersama harapan terhadap ampunan Allah. Jangan sampai kesadaran akan kematian berubah menjadi keputusasaan, sebab pintu taubat dan rahmat Allah tetap terbuka selama manusia masih hidup.

Ketujuh, membangun percakapan keluarga tentang kematian secara sehat. Orang tua dapat mengajarkan kepada anak bahwa kematian merupakan bagian dari ketetapan Allah, bukan sesuatu yang harus dibicarakan dengan teror. Anak perlu belajar menghormati orang yang meninggal, mendoakan mereka, dan menghargai kehidupan.

Penutup: Mengingat mati agar hidup lebih berarti

Kisah rumah Ustaz Israk yang berdampingan dengan pemakaman menyampaikan pelajaran yang melampaui persoalan lokasi tempat tinggal. Ia mengajarkan bahwa sesuatu yang dipandang menakutkan oleh sebagian orang dapat menjadi sumber kesadaran bagi orang yang mampu mengambil hikmah.

Pemakaman bukan hanya tempat berakhirnya perjalanan jasad. Ia juga menjadi ruang refleksi bagi mereka yang masih diberi kesempatan hidup.

Kepergian Ustaz Israk mengingatkan kita bahwa kematian tidak menunggu seluruh rencana selesai. Ada pekerjaan yang belum tuntas, gagasan yang belum terwujud, keluarga yang masih membutuhkan perhatian, dan kebaikan yang masih dapat kita lakukan hari ini.

Maka, jangan menunggu kematian orang lain untuk mengingat kematian kita sendiri. Jangan pula menjadikan rasa takut sebagai alasan untuk menjauhi kehidupan. Isilah kehidupan dengan ilmu, ibadah, kasih sayang, amanah, dan pengabdian.

Sebab, zikrul maut yang benar bukan membuat kita sibuk menunggu kematian, melainkan membuat kita bersungguh-sungguh memperbaiki kehidupan sebelum kematian datang.

Semoga Allah menerima amal saleh almarhum Ustaz Israk Ahmadsyah, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di sisi-Nya dalam rahmat dan keridaan. Semoga kisah yang ditinggalkannya menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri sebelum tiba waktunya kembali kepada Allah. Amin ya Rabbal ’alamin.

Wallahu a’lam 

Darussalam 14 Oktober 2026

(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry)

SHARE :

0 facebook:

 
Top