Oleh: Putri Mizanna, S.H.I.

Penyuluh Agama Islam Bireuen


Lisan tidak bertulang. Ringan digerakkan, tetapi kata yang keluar darinya bisa sangat berat untuk dilupakan. Luka karena ucapan tidak terlihat oleh mata dan tidak meninggalkan bekas pada kulit, namun dapat menetap bertahun-tahun di dalam hati. Karena itu, Islam menempatkan urusan menjaga lisan sebagai bagian dari keimanan.

Tidak Ada Ucapan yang Sepele

Allah Swt. berfirman: "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf [50]: 18)

Para mufasir, di antaranya Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa malaikat pencatat senantiasa hadir mengawasi ucapan manusia. Kata yang kita anggap sepele pun masuk dalam catatan. Rasulullah saw. mengingatkan bahwa seorang hamba bisa mengucapkan satu kalimat tanpa memikirkan akibatnya, lalu karena kalimat itu dia tergelincir ke neraka sejauh jarak antara timur dan barat (HR. Bukhari no. 6477, Muslim no. 2988).

Berkata Baik atau Diam

Rasulullah saw. memberi pedoman yang tegas: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari no. 6018, Muslim no. 47)


Hadis ini mengaitkan lisan langsung dengan iman. Ketika belum mampu berkata baik, diam adalah pilihan yang selamat. Tidak semua hal perlu dikomentari, dan tidak semua kesalahan orang perlu dipermalukan. Diam yang dimaksud tentu tidak sama dengan membiarkan kemungkaran. Nasihat tetap disampaikan, dengan niat dan cara yang terjaga.

Jujur dan Bercanda Ada Adabnya

Sebagian orang membela ucapan kasarnya dengan alasan, "Saya hanya berkata jujur." Padahal Allah memerintahkan lebih dari itu:

"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sungguh, setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS. Al-Isra [17]: 53)

Yang diminta adalah perkataan "yang lebih baik": benar isinya, baik pula cara menyampaikannya. Ucapan yang kasar membuka celah bagi setan untuk menyulut permusuhan. Menegur tidak harus merendahkan, dan mengingatkan tidak harus membuat seseorang kehilangan harga diri.

Alasan "cuma bercanda" pun tidak lebih kuat. Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) ..." (QS. Al-Hujurat [49]: 11)

Fisik, kekurangan, dan aib seseorang tidak pantas menjadi bahan tertawaan. Larangan ini berlaku juga bagi jari yang mengetik komentar di media sosial, sebab tulisan adalah lisan kedua.

Segera Meminta Maaf

Tidak ada manusia yang selalu berhasil menjaga lisannya. Jika terlanjur menyakiti, jangan biarkan gengsi menghalangi permintaan maaf. Rasulullah saw. bersabda:

"Barang siapa pernah berbuat zalim kepada saudaranya, baik terhadap kehormatannya maupun hal lain, hendaklah ia meminta dihalalkan darinya hari ini, sebelum datang hari ketika tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR. Bukhari no. 2449)

Kezaliman lisan harus diselesaikan dengan orang yang disakiti selagi masih ada waktu. Jangan pula merasa aman karena dia tidak membalas. Rasulullah saw. berpesan kepada Mu'adz bin Jabal agar takut pada doa orang yang terzalimi, sebab tidak ada penghalang antara doa itu dan Allah (HR. Bukhari no. 2448, Muslim no. 19).

Lisan adalah nikmat. Dengannya kita membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, menasihati, dan menghibur orang yang bersedih. Jangan sampai nikmat itu berubah menjadi sumber dosa bagi diri sendiri dan luka bagi orang lain. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk diam ketika kata hanya akan melukai, dan berkata baik ketika kata dapat menguatkan. Aamiin.

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top