Lamurionline.com--Akhirnya selesai sudah misi Salsabil di panggung “Q Academy Indosiar”, Senin malam, 13 Juli 2015. Q Academy Indosiar adalah sebuah acara talent scout untuk musik qasidah. Para pemenangnya ditentukan melalui polling SMS. Pada malam grand final tersebut Salsabil berhadapan dengan dua finalis lainnya, qasidah Mutiara Intifada dan gambus Syubbanul Akhyar, keduanya dari Jakarta.
Walau harus puas sebagai juara ketiga, kini Salsabil telah memiliki modal baru untuk memulai karir di panggung musik nasional. “Rauh ka lheuh meucah” demikian ungkapan dalam bahasa Aceh. Apakah Salsabil akan meneruskan karya di Jakarta atau pulang kembali ke kampung untuk menghibur masyarakatnya sendiri? Hanya Allah dan Salsabil yang tahu.

SEPEDA & KETAQWAAN

Tahun 2004, empat pemuda anggota Remaja Mesjid Budjang Salim Krueng Geukueh, Aceh Utara, menggagas untuk membentuk sebuah kelompok nasyid, “Salsabil”. Mereka adalah Muklisuddin, Sofyan Hanafiah, Teuku Maimun dan T. Othman Trumay. Salah satu personilnya, Sofyan mewarisi bakat seni dari kakeknya yang seorang syeh rukon (Nazam  Aceh) dari gampong Tambon Baroh di kecamatan yang sama.
Berbeda dengan group-group nasyid di Aceh yang telah ada sebelumnya, Salsabil memilih untuk turut membawakan lagu-lagu berbahasa Aceh selain lagu dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
Hampir setiap minggu anggota Salsabil mengayuh sepeda dari Krueng Geukuh ke Komplek PT. Arun untuk berlatih vokal dan musik pada Mulyadi yang lebih dikenal dengan nama Muko dan pada Wesley. Sebenarnya jarak dari Krueng Geukuh ke Komplek PT. Arun tempat mereka berlatih itu tidaklah begitu jauh, namun energi yang terkuras dengan bersepeda sejauh itu sudah cukup untuk menjadi pengganti latihan pemanasan.
Dari perjuangan awal ini lahirlah album rekaman mereka “Ketaqwaan”. Album ini terbit dalam bentuk pita kaset. Album ini memang tidak beredar luas, namun Radio Budjang Salim, Dewantara, Aceh Utara sering memutar lagu-lagu mereka.

PANGGUNG RUMOH KHANDURI

Ketika group nasyid terkenal dari Malaysia “Raihan” membuat konser dan workshop di Banda Aceh, 2005, Salsabil pun ikut ambil bagian. Mereka mengikuti workshop tersebut dan sempat berkolaborasi dengan Raihan dan tampil di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh.
Ternyata workshop tersebut melahirkan inspirasi baru. Sekembalinya mereka dari acara itu, Salsabil memutuskan untuk menjaga performa dengan sering-sering tampil di depan khalayak umum. Hanya ada satu cara di kampung mereka untuk bisa rutin “konser”, yaitu dengan tampil di “Panggung Rumoh Khanduri” alias tempat-tempat kenduri dan pesta perkawinan.
Bukan hanya di Krueng Geukueh, mereka pun turun ke pelosok-pelosok Aceh Utara untuk konser dari satu Panggung Rumoh Khanduri ke Panggung Rumoh Khanduri lainnya. Bayaran tidaklah menjadi ukuran, yang penting bagi Salsabil adalah mempertinggi jam terbang dan bisa mengekpresikan jiwa seni yang sangat mereka minati.
Dari tahun ke tahun penggemar meraka semakin bertambah dan jumlah personil merekapun mengalami penambahan. Setelah sebelumnya Rahmad Insaf sempat bergabung sebagai additional player, lalu menyusul Fikriadi yang berposisi sebagai beatboxer, diikuti Samsul Bahri dan Syamsul Usman.

MUNAJAT

Tahun 2008 Salsabil melanjutkan karya rekaman dengan menggarap album kedua “Munajat”. Sayangnya walau telah tujuh tahun berlalu namun hanya beberapa lagu saja yang sanggup mereka selesaikan rekamannya. Sedangkan untuk lagu-lagu lainnya mereka terkendala biaya produksi.
Ada pengalaman unik saat proses pembuatan video klip untuk salah satu single di album Munajat. Karena baju untuk kostum hanya tersedia sebuah saja, maka mereka harus berganti-gantian memakai kostum tersebut.

DUKUNGAN MASYARAKAT

Dari Panggung Rumoh Khanduri Salsabil menjadi dekat dengan penggemar dan masyarakat. Orang-orang pun menjadi tahu kualitas Salsabil. Maka ketika tersiar kabar Salsabil tampil di pentas nasional, masyarakat Aceh Utara tidak lagi terkejut. Mereka pun tidak segan-segan untuk mengirim ribuan SMS dukungan. Salsabil memang pantas menerima itu.
Salah satu lagu Salsabil yang diminati penggemarnya adalah “Beumeuhasee Lagee Ban Hajat”. Lagu ini seolah menjadi repertoire wajib bagi Salsabil. Disetiap acara mereka selalu membawakan lagu tersebut. Demikian pula saat tampil di salah satu episode Q Academy Indosiar.
Ketika lagu tersebut melantun, penonton serentak mengikuti dan bernyanyi bersama-sama layaknya paduan suara, baik yang  menonton langsung di studio Indosiar maupun yang menonton TV di kedai-kedai kopi di Aceh Utara.

PEUGLAH KAOY

Sebelum berangkat ke Jakarta, Salsabil berkaoy (kaul/nazar). Andai berhasil masuk lima besar, mereka akan mengadakan syukuran untuk menyantuni anak yatim. Kini andai-andai mereka telah terpenuhi dan kaoy pun harus di peuglah.
Dan sebagai tanda terima kasih bagi masyarakat yang telah mendukung mereka melalui SMS, Salsabil akan mengadakan Konser Nada dan Dakwah setelah hari raya ini. Acara pun telah dipersiapkan oleh teman mereka Fadly dengan sponsor sebuah operator kartu selular.
Kita tunggu saja kepulangan Salsabil ke Aceh, semoga mereka bisa kembali berkumpul dengan keluarga sebelum Hari Raya Idul Fitri ini. Beumeuhasee sabee. hikayataceh.com
SHARE :
 
Top