Lamurionline.com--BANDA ACEH : Kasus meninggal Nurul Fatimah, siswa kelas enam MIN Keunaloi, Seulimuem, Aceh Besar, mengundang perhatian khalayak ramai. Sejak Senin (28/9/2015) siang, rumah Nurul tak sepi dari kunjungan, termasuk dari kalangan eksekutif dan legislatif.
Nasir Djamil bersama keluarga Nurul Fatimah. | FOTO: Radzie/ACEHKITA.COM
Pantauan acehkita.com di rumah duka di Desa Keunaloi, tamu berdatangan sejak pagi hari. Anggota Komisi III DPR RI yang membidangi masalah hukum, M. Nasir Djamil, terlihat melayat ke rumah duka. Ada juga dari Badan Perlindungan Perempuan dan Anak Aceh Besar, Ketua BP3A Dahlia, Kepala Kasat Reskrim, Kasat Intel, Kasat PPA Polres Aceh Besar, serta perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh Besar.
Dalam kunjungan ke rumah duka, Nasir Djamil meminta agar keluarga bersabar dan menyerahkan penanganan kasus ini kepada aparat kepolisian.
Anggota Komisi III DPR RI itu juga meminta Kepolisian Aceh Besar untuk menuntaskan kasus yang menimpa Nurul Fatimah.
“Polisi harus bekerja menyelidiki, kenapa kasus ini terjadi, siapa saja pelakunya, apa motifnya, dan berapa lama sudah kekerasan menimpa Nurul,” ujarnya kepada Kapolsek Seulimuem Aiptu Yulizar Lubis.
Dalam menangani kasus ini, pinta Nasir, polisi harus berhati-hati karena sangat sensitif. Apalagi pelakunya juga masih anak-anak di bawah umur.
“Penanganan kasus ini ada dua undang-undang, yaitu UU Perlindungan Anak dan UU Sistem Peradilan Anak,” kata dia.
Pihak keluarga mengharapkan kasus ini tak terulang. “Kami tidak dendam. Semoga kasus ini menjadi pelajaran, hari ini adik kami dan bisa jadi nanti anak orang lain. Jangan sampai terulang,” ujar Dian Sikha, kakak kandung Nurul Fatimah.
Kasus ini mencuat setelah diberitakan sebuah media lokal di Banda Aceh, Ahad (27/9/2015) malam. Siswa kelas enam itu meninggal pada Sabtu (26/9/2015) malam dalam perawatan intensif di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin Banda Aceh. Ia dirawat di sana setelah sebelumnya dirawat di Puskesmas Seulimuem dan Rumah Sakit Satelit Indrapuri.
Nurul Fatimah diduga mengalami penyiksaan oleh empat temannya di dalam ruang kelas MIN Keunaloi pada Rabu (16/9/2015). Namun, Nurul tidak pernah menceritakan kasus ini kepada keluarganya. Baru saat dirawat di Puskesmas, atas desakan tetangga yang membesuknya, Nurul menceritakan bahwa ia disiksa oleh empat teman sekelasnya. “Tangannya dipelintir dan dicekik dengan jilbab,” kata Dian mengutip pengakuan adiknya. [ACEHKITA.COM]
SHARE :
 
Top