Loading...


ANGIN yang mulai garang bertiup membuat dedaunan luruh kedekapan bumi. Helai demi helai tak kuasa bertahan di musim yang sedang menyapa. Musim gugur (autumn) membuat banyak dedaunan tak memperoleh ampun untuk hidup. Sayangnya, dedaunan yang cantik pun tak kuasa bertahan lama dalam kementerengannya. Musim gugur memaksa pepohonan untuk melepaskan daunnya menyambut musim dingin yang sudah menunggu. Sungguh tak ada yang tersisa selain hanya batang dan ranting yang membisu kaku. 

Walaupun bumi berteriak pada langit, dedaunan yang jatuh takkan pernah kembali ke rantingnya sekuat apapun ia dapat menggapainya. Di musim seperti ini, sebelum dedaunan luruh ia akan memikat sepasang mata dengan warna daunnya yang spektakuler, seakan memberi isyarat lambaian perpisahan dengan kesan perlente. 

Di setiap musim gugur dedaunan akan meninggalkan kesan romantic kepada alam sekitarnya baik manusia, hewan, bahkan kepada bumi. Ini momen langka yang sayang bila dibiarkan begitu saja tanpa didokumentasikan. Semua orang saling berburu informasi tempat dedaunan indah untuk tidak kelewatan mengabadikan kesempatan seperti ini dalam bidikan kamera. 

Bahkan, ada sahabat saya rela tiduran dalam tumpukan dedaunan yang sudah luruh di tanah untuk berpose dengan skill yang ia miliki. Banyak angle unik dapat dibidik dari dedaunan yang luruh kepangkuan bumi ini memang. Kadang ingin tertawa sendiri melihat orang-orang di momen begini. Berbagai hal di luar rasional kadang dilakukan hanya untuk bisa memperoleh hasil bidikan yang bagus. 

Bahkan ada yang rela-relaan pergi keluar kota untuk menemukan pohon yang memiliki dedaunan rimbun lagi cantik warnanya. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengasah skill fotografi, mumpung di musim begini ada banyak model gratis yang bisa dijadikan objek bidikan. 

Beberapa hasil bidikan yang saya posting di moment Wechat ternyata memikat orang yang sering bergelut dalam dunia modeling, hingga mengundang saya untuk membantu memotretnya. Musim gugur juga dikenal dengan musim paling romantis di dunia, entah bagaimana awal ceritanya dan entah siapa yang mempopulerkannya masih jadi tanda tanya besar. 

Mungkin itulah kiasan dari sekelumit peristiwa yang terjadi di musim gugur. Daun maple dan gingko menjadi dua jenis daun yang sangat mudah untuk kita temukan saat musim gugur melanda bumi. Beberapa teman mengajak saya keluar kota mencari pemandangan musim gugur yang anggun, tapi saya lebih memilih untuk menghipnotis dedaunan yang ada di sekeliling kampus saja. 

Alhamdulillah, hasilnya tidak terlalu jelek, buktinya ada banyak orang bertanya dimana lokasi itu saya ambil. Angin yang menderu kala musim gugur berlangsung tidak saja meluruhkan dedaunan, tapi juga menebarkan debu di udara sehingga berpotensi membawa berbagai penyakit. 

Kekebalan tubuh benar-benar sangat diuji saat musim gugur mampir. Di penghujung musim ini, cuaca pun mulai perlahan menggetarkan badan dengan dinginnya. Makanan dan minum hangat pun menjadi target yang diincar-incar. Tapi jangan berharap secangkir minuman yang baru saja kita pesan hangatnya dapat bertahan lama. Musim benar-benar berubah tragis. Ada banyak hikmah dari selembar daun yang luruh kepelataran bumi. Mereka berusaha meninggalkan kesan yang baik sebelum akhirnya pupus. 

Kala hidup dalam kerimbunan mereka menjadi peneduh bagi siapa saja yang berjalan di bawahnya. Kala dedaunnya hendak luruh ia memberikan scene memukau bagi sepasang bola mata dengan warna daun yang cantik. Kala musim dingin menyilimuti bumi ia berusaha sabar dan bertahan sendiri dengan batang dan daun yang sudah terlepas, hingga semi menggantikan segalanya jauh lebih indah. Jangan salah, alam adalah firman Allah yang tersirat. 

Ia bisa menjadi guru bagi kehidupan kita untuk mereka yang pandai mengambil hikmah. Oleh karenanya, mari kita jaga dan rawat bumi tempat dimana kita dan anak cucu akan tinggal. Mari wariskan alam yang indah lagi sehat kepada setiap generasi. Sudah menjadi tugas kita bersama tentunya untuk orang yang dilebihkan akal, sebab semakin rimbun alam semakin nyaman ia untuk dihuni. 

Pun begitu untuk kisah kehidupan yang kita jalani dalam menghadapi berbagai masalah yang ada. Sebagaimana seorang penulis muda berbakat bernama Tere Liye berkata “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja, tak melawan, mengikhlaskan semuanya.” 

Ini adalah proses takdir yang harus kita terima. Semoga makna di balik luruhnya dedaunan ini juga dapat dijadikan hikmah bagi kita bersama, termasuk saudara-saudara kita yang sedang mengalami cobaan di Pidie Jaya. 

Semoga Allah berikan ketabahan dan gantikan dengan yang lebih baik atas segala peristiwa dalam perjalanan hidup kita. Hanya doa dan sedikit sumbangan yang dapat kami kirimkan dari daratan rantau ini. Kehidupan dan kematian adalah dua hal yang akan tetap jadi rahasia Allah. Mungkin hari ini saudara kita, bisa jadi besok adalah giliran kita. Tugas kita adalah mempersiapkan bekal terbaik sebelum masa yang pasti itu datang. 

Penulis AL-ZUHRI, Alumnus Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin (BKPBM) Aceh, penerima China Scholarship Council pada Studi Master Communication Studies di Huazhong University of Science and Technology melaporkan dari Wuhan, Tiongkok
SHARE :
 
Top