Loading...

Oleh Sayed Muhammad Husen

Lamurionline.com--12 tahun sudah tsunami Aceh. 12 tahun pula kita memperingatinya sebagai tafakkur atas pembelajaran yang ditunjukkan Allah SWT melalui bencana dahsyat itu. Dengan peringatan tsunami setiap tahun, kita dapat menyegarkan ingatan terhadap takad kebangkitan Aceh pasca tsunami, 26 Desember 2004 silam. Salah satu tekad itu: kebangkitan kembali SDM (Sumber Daya Manusia) Aceh. 


Mengapa SDM? Sebab, ratusan ribu orang Aceh “syahid”, meninggal atau hilang dalam musibah akhir tahun itu, maka semangat yang kita peroleh, bagaimana mengganti generasi Aceh yang hilang dengan orang-orang pilihan dan unggul. Generasi hilang masih ditambah dengan korban konflik 1976-2005, yang sebagiannya juga usia sekolah. 

Salah satu perbandingan kapasitas SDM pilihan dan unggul yang mampu bersaing pada tingkat global kita lihat dari lulusan pendidikan tinggi tingkat doktor. Indonesia (termasuk Aceh) jumlah doktor dibandingkan dengan beberapa negara lain, memiliki 143 doktor per satu juta penduduk. Sementara Malaysia 509 lulusan S3 per satu juta penduduk dan India 1.410 per satu juta penduduk. 

Jika indikator lulusan doktoral atau minimal S2 yang kita jadikan ukuran kebangkitan SDM Aceh, maka memerlukan langkah-langkah strategis untuk mengejar ketertinggalan Aceh. Salah satu inisiatif pantas kita syukuri, Pemerintah Aceh membentuk LPSDM yang bekerja mengirimkan putra-putri terbaik Aceh belajar di berbagai negara untuk menyelesaikan studi S2 dan S3. 

Selain itu, banyak juga putra-putri Aceh yang “memburu” beasiswa di dalam dan luar negeri untuk studi S2 dan S3 dalam berbagai disiplim ilmu. Fasilitas ini banyak dimanfaatkan mereka yang memiliki kemampuan bahasa asing yang baik. Sebagian lagi dengan biaya mandiri menyelesaikan S2, bahkan S3 di Aceh. Ini fenomena positif setelah 12 tahun tsunami Aceh.
Masalahnya sekarang, bagaimana kita mendagunakan putra-putri Aceh yang telah menyelesaikan S2 dan S3 untuk mengisi pembangunan dan perubahan di Aceh. Kita tak boleh membiarkan mereka mengangur dan tanpa pekerjaan tetap. Boleh saja kita membiarkan mereka bekerja di luar Aceh, tentu disertai ikatan batin keacehan, supaya mereka tetap berkontribusi membangun Aceh dari jauh. Jadi kesadaran inilah yang selalu kita segarkan, yaitu kesadaran membangun Aceh dengan SDM pilihan, unggul dan berdaya saing internasional. Ini pula kesadaran yang patut kita jaga setiap peringatan tsunami. 

Sumber: Gema Baiturrahman, 23 Desember 2016
SHARE :
 
Top