Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

Ilustrasi
Muhasabah 12 Zulhijjah 1440
Saudaraku, setelah menunaikan ihram, wukuf, tawaf, maka saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji harus mengerjakan rukun lanjutannya yaitu sai. Kini, semua rukun haji ini tentu telah usai dijalani. Sai dipahami sebagai berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali sebagai simbolisasi keniscayaan perjuangan, siginifikasinya perjuangan hidup (life struggle) sebagainana telah dijalani oleh Ibunda Siti Hajar.

Sai dalam bahasa Arab sa'i dimaknai usaha yang sungguh-sungguh atau ikhtiar maksimal atau perjuangan mempertahankan hidup dan mengatasi masalah dalam kehidupan. Dalam Islam, makna kata yang juga merujuk pada kesungguhan dalam berpikir dikenal dengan ijtihad, dan kesungguhan dalam perang dikenal dengan jihad, kedua-duanya berakar kata sama yaitu jahada yang bermakna sungguh-sungguh.

Merujuk pada fakta historisitas, bahwa sai sejatinya untuk menggambarkan ikhtiar yang sungguh-sungguh yang dilakukan oleh manusia (Ibunda Siti Hajar) untuk menemukan air kehidupan agar dahaga kehidupan diri dan anandanya (bayi, Ismail) dapat dipenuhi sehingga dapat melangsungkan pengabdian ke atas Rabbnya.

Terdapat beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari pelaksanaan sai. Di antaranya. Pertama, dari sudut tempat, sai itu dimulai dari Shafa menuju ke Marwah bolak ballik tujuh kali. Mengapa mesti Shafa - Marwah? Ya di antaranya shafa itu bermakna bening, jernih, suci, maka ikhtiar harus berawal dan diniati dengan tulus ikhlas dan suci, dan tempat yang dituju Marwa, yang bermakna martabat yang mulia. Mengapa harus diulang berkali-kali, yaitu di samping menunjukkan bahwa ikhtiar harus maksimal dengan mengerahkan segala daya dan upaya, sai juga dilakukan di tengah kerasnya kehidupan yang dialami manusia. Maka mesti bermodal niat yang suci, ikhtiar yang cerdas, sukses meraih kemuliaan.

Kedua, keniscayaan ikhtiar. Sebagaimana dalam ritual haji, sai juga merupakan keniscayaan dalam kehidupan. Karena sai bermakna berusaha atau berikhtiar. Dengan demikian orang baru dikatakan hidup ketika ia berusaha atau berikhtiar. Orang yang hidup di bumi ini tetapi tidak berusaha tidak ada ikhtiar, maka sejatinya sudah tidak hidup lagi. Orang-orang mati sebelum mati seperti ini keberadaannya hanya akan menjadi beban keluarga, beban sosial, beban negara dan bahkan beban agama. Supaya tidak menjadi beban, maka wajib berusaha; memeluk etos kerja, mau berjuang di tengah kerasnya kehidupan.

Ketiga, mencari dan menemukan air. Mengapa air yang dicari dan ditemukan oleh ibunda Siti Hajar dan ananda Ismail, bukan kurma, gandum atau lainnya? Tidak lain dan tidak bukan, karena air menjadi keniscayaan hidup dan kehidupan. Bahkan menurut para pakar, kata syariat bermakna tanda atau isyarat yang menunjukkan jalan menuju ke arah air. Oleh karenanya mematuhi syariat (Islam) menjadi keniscayaan bagi kesejukan hidup dan kehidupan. Mengabaikan syariat, hidupnya gersang.

Dan mengapa air yang dicari dan ditemukan?. Di samping sebagai keniscayaan kehidupan yang sangat dihajatkan keberadaannya, kita juga bisa belajar banyak dari air.

Air itu dingin dan mendinginkan. Betapa indah dan mulianya bila kehadiran kita sebagai manusia bisa membawa kesejukan terhadap apa dan siapapun yang ada. Penampilannya menawan, kata-kata yang dikeluarkannya enak didengar oleh telinga dan nyaman bagi hati,  perilakunya santun penuh pesona.

Air itu mengairi, mengaliri, menutupi (lobang, kekurangan) dan meratakan. Bisa memberi dan berbagi kemaslahatan dengan sesama merupakan nilai kemuliaan yang didambakan. Demikian juga perilaku menutupi kekurangan orang lain.  Ketika bisa direalisasikan tetap membawa kebersahajaan rerata sehingga jauh dari sikap menonjol-nonjolkan diri.

Air itu melegakan dan menghilangkan dahaga. Kemiskinan harta benda, kemiskinan ilmu pengetahuan juga teknologi dan kemiskinan spiritual di hati merupakan 'dahaga' yang masih dirasakan dan terjadi di sekitar kita. Oleh karenanya segala peran yang dapat menghilangkan atau mengurangi rasa dahaga tersebut mendapat apresiasi yang tinggi. Kita belajar menjadi air untuk ini.

Keempat, tawakkal. Inilah indahnya tuntunan Islam, ketika usaha maksimal telah dilakukan, maka kita diingatkan betapa pentingnya tawakkal. Melalui perjuangan maksimal yang diperankan oleh Ibunda Siti Hajar dan kepasrahannya saat mencari air kehidupan sampai berkali-kali antara Shafa - Marwah dan kesucian jabang bayi Ismail, Allah mendidik umatNya betapa pentingnya tawakkal setelah usaha maksimal dilakukan; betapa signifikan pertolongan Tuhan atas etos kerja hambaNya.

Ketika doa sudah dipajatkan, ikhtiar telah dilakukan dan tawakkal ilallah sudah sebagai sandaran serta kebahagianpun dirasakan, maka langkah bijak adalah mensyukurinya, baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini bahwa ikhtiar menjadi penanda kehidupan manusia.

Kedua, mensyukuri dengan lisan seraya mwlafalkan alhamdulillahi rabbil'alamin, semoga Allah menganugrahi kita keluatan dan kemampuan berikhtiar untuk menemukan kebahagiaan demi kebahagiaan.

Ketiga, mensyukuri dengan perbuatan nyata, yaitu memaksimalkan ikhtiar dan doa, berserah diri sepenuhnya pada ketentuanNya.

Adapun dzikir pengkodisian hati penyejuk qalbu guna nenjemput hidayahNya agar dianugrahi hati terbuka untuk terus berikhtiar dakam rangka mengabdi kepadaNya, adalah nembasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Haadi ya Qawiyu ya Fattah, ya Allah yang maha menunjuki, yang maha kuat perkasa, yang maha membukakan (pintu rezeki).
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top