Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

Ilustrasi
Muhasabah 10 Safar 1441
Saudaraku, tema muhasabah hari ini masih terinspirasi saat merenungi atas diri sendiri atau kondisi orang yang dirawat inap di rumah sakit. Siapapun yang berobat, suatu saat pasti akan pulang, bahkan merindukannya. Maka tema muhasabah hari ini adalah perihal pulang. 

Rumah sakit lazimnya dipahami sebagai institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (uu no 49 tahun 2009). Dengan demikian rumah sakit tetaplah rumah sakit, bukan rumah kediaman; ia lebih sebagai rumah singgah bersifat sementara terutama untuk tujuan memperoleh layanan kesehatan. Artinya sesiapapun yang berobat di rumah sakit rawat inap sekalipun, suatu saat pasti akan pulang, baik pulang ke rumah kediaman maupun pulang ke rumah keabadian. Pulang ke rumah kediaman saat sudah sembuh atau tak mungkin disembuhkan lagi tinggal nunggu waktu untuk pulang sesungguhnya, pulang ke rumah keabadian saat memenuhi panggilan pulang ke haribaan Allah ta'ala.

Seperti telah dikemukakan pada muhasabah yang baru lalu bahwa saat berobat di rumah sakit, tetap menyediakan dua kemungkinan, sehat kembali untuk berlanjut hidup mengabdi pada Ilahi atau harus berakhir dengan kematian. Dengan demikian, saat berobat ke rumah sakit mestinya juga disadari kedua kemungkinan ini. Di sinilah pentingnya, kita sebagai hambaNya wajib berdoa dan berusaha berobat ke mana-mana, tetapi tetap harus ridha menerima segala konsekuensinya, baik yang melegakan maupun yang memilukan. 

Saudaraku, pulang sejatinya merupakan istilah yang hakikatnya didamba-dipersiapkan oleh sesiapapun dia. Meskipun di rumah sakit memperoleh layanan kesehatannya yamg sangat memuaskan sekalipun, tetap saja berobat ke rumah sakit hanya untuk sementara saja, dan sesegera mungkin untuk pulang dengan keizinan dokter.

Seandainyapun dunia ini dimaknai sebagai "rumah singgah", maka saat menjalaninya tetap saja merindukan pulang. Dan seandainya hidup di dunia ini dimaknai sebagai tinggal di negeri perantauan, maka tetap saja merindukan pulang. Malah saking rindunya untuk segera pulang, maka selama singgah atau hidup di perantauan diisi dengan mengunpulkan bekal pulang. Dalam Al-Quran sudah dengan sangat jelas bahwa Allah mewanti-wanti kita untuk berbekal takwa karena sesungguhnya inilah bekal paling utama. 

Ketika hidup di dunia ini digunakan untuk berbekal, maka akan selalu siap siaga bila suatu saat dipanggil untuk pulang. Karena dalam iman Islam terdapat ajaran innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Cak Nur (Nurcholish Madjid) menyebutnya Allah sebagai sangkan paraning dumadi; asal dan tujuan segala yang ada. Dengan demikian semuanya akan berpulang ke haribaan Allah.

Jadi, pulang ke kediaman untuk sementara waktu maupun pulang ke keabadian tetap terdapat nilai edukatif. Pertama, pulang merupakan fitrah yang melekat pada setiap orang. Oleh karenanya semua orang memiliki kerinduan terhadap keluarga di rumah naupun keluarga yang sudah di surga dan suatu saat sejauh ke manapun merantau pasti rindu dan akan kembali ke rumah kediamannya dan rumah keabadiannya jua.

Kedua, tuntutan berbekal. Kerinduan pulang ke rumah kediamannya dan ke keabadiannya memotivasi setiap orang untuk menyiapkan bekal terbaiknya, baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Betapa tidak, keinginan untuk pulang telah mendorong bekerja keras, cerdas dan ikhlas, sehingga nantinya akan diperoleh hasil yang melimpah dan berkah, dimana suatu saat ketika pulang dan bertemu dengan keluarganya dapat hidup bermartabat karenanya.

Ketiga, bertemu keluarga. Sudah lazim ketika kita pulang, di rumah kediaman kita telah menunggu keluarga tercinta dan sanak saudara. Dan saat berpulang ke keabadian di akhirat kelak bertemu berkumpul dengan keluarga tercinta dan sanak saudara adalah kakek nenek, ayah dan saudara kita yang sudah berpulang ke haribaanNya. Dalam hal ini Allah berfirman yang artinya Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik) (yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (Qs. Al-Ra'du 22-24)

Dengan demikian mestinya kita mensyukuri moment pulang, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata. Maka sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Qaarib, ya Wakil ya Salam ya Muhyi, ya Mumitu. Ya Allah, zat yang maha dekat, maha melindungi, maha menyelamatkan, zat yang maha menghidupkan, zat yang maha mewafatkan, mudahkanlah segala urusan kami. Aamiin
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top