Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

Sumber llustrasi: UMSurabaya.com
Muhasabah 24 Jumadil Ula 1441 
Saudaraku, judul menulis itu "mudah" sebagaimana tersurat di atas semoga tidak dipahami sebagai kesombongan maka ditulis dalam tanda petik, tetapi lebih sebagai harapan atau juga motivasi yang dapat menyemangati semua orang antar generasi. Ketika dikatakan bahwa menulis itu "mudah", paling tidak banyak di antara kita yang melakukannya atau mencobanya bagi pemula. Meskipun karakter orang ada yang justru tertantang untuk mencoba melakukannya, ketika dinyatakan bahwa menulis itu sulit. Masak sulit, sih? Berarti menulis itu tantangan yang harus dihadapi. Tetapi secara edukatif dan kecenderungan umum bahwa sesuatu yang mudah biasanya didahulukan dan yang sulit diakhirkan. 

Aktivitas menulis lazimnya dilakukan setelah "membaca" atau setelah memperoleh informasi (baca ilmu pengetahuan). Maka tuntutan pertama sekali dalam Islam adalah titah membaca, bacalah!, bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan...(iqra', iqra' bismi rabbika lladzi khalaq...), bukan menulis; tulis, tulislah apa yang kamu pikirkan!

Nabi Muhammad saw bersabda, qayyidu 'ilma bil-kitabah, ikatlah ilmu dengan tulisan. Dengan demikian menulis itu upaya mengikat ilmu agar tidak cepat lepas atau hilang dari jangkauan ingatan kita. Suatu informasi bila hanya didengar atau dibaca, maka ia akan cepat lupa. Agar informasi tidak mudah dilupakan, maka sebaiknya ditulis. Apalagi setelahnya, ilmu itu kemudian diajarkan pada orang lain. Meskipun aktivitas menulis dilakukan setelah membaca, namun ketika proses menulispun justru kita memperoleh ilmu pengetahuan. Ini juga bermakna bahwa seorang penulis pasti biasa membaca. Sebagai pembaca belum tentu sebagai penulis.

Aktivitas menulis relatif lebih aktif, kreatif dan produktif daripada membaca. Mengapa? Karena menulis itu menghasilkan atau memproduksi tulisan berupa tanda yang jelas dan bisa dibaca. Tulisan itu bisa berupa ide, gagasan, harapan, curhat dan pengalaman hidup (sejarah). Intinya yang dipikirkan dan yang dialami, baik diri sendiri maupun orang lain.

Sesuatu yang dipikirkan dan dialami ketika dituangkan dalam tulisan lazimnya mewujud dalam beragam bentuk, seperti catatan harian, artikel, karya ilmiah, buku, prosiding, jurnal dan seterusnya.

Secara subyektif, memang menulis itu tidak semudah yang dibayangkan, dan sebaliknya juga tidak sesulit yang dipikirkan. Ternyata, hanya dengan hidayah Allah saja menulis benar-benar dapat dilakukan. Apalagi bisa dilakukannya secara istiqamah. Dengan demikian upaya menjemput hidayahNya yang tidak bisa ditunda-tunda. Di antaranya dengan berusaha senantiasa taat kepadaNya, menghiasi diri dengan akhlak mulia, selalu dalam kondisi ada air wudhuk apalagi saat membaca atau menulis, bersikap takdhim misalnya duduk di atas sajadah pada saat-saat yang mustajabah, sembari memasang niat lurus tidak untuk riya apalagi untuk menyombongkan diri, menyiapkan sarana untuk menulis dan memulainya dengan basmalah.

Di saat jari jemari menari menekan tombol-tombol keypad handphone atau keypad komputer tentu dilatari oleh suasana batin yang sangat kompleks dari penulisnya. Makanya setiap tulisan memiliki genre khas yang menggambarkan suasana hati penulisnya, pengalaman hidup, cita cinta dan atau sosiokultural yang mengitarinya. Di sinilah pentingnya mengakomodir setting sosial budaya dan hal ikhwal penulisnya dalam kajian biographi seseorang.

Menulis apa saja dimulai dari yang paling mudah dan sederhana, dari apa yang dipikirkan (seperti saat membuka facebook: Apa yang anda pikirkan?) dan yang dialami dalam hidup sehari-hari. Bila tuan puan sebagai seorang ayah atau ibu, pasti ada yang dipikirkan. Tulis saja misalnya apa harapan tuan puan atas ananda, atau bagaimana pengalaman atau suasana batin yang dialami. Demikian juga halnya bila kita seorang pendidik, guru, dosen, pejabat, pimpinan, anggota dewan, dokter, pedagang atau predikat apapun lainnya..

Nah ketika dianugrahi kemampuan merangkai kata demi kata untuk mengikat makna, sehingga mengantarkannya pada kedekatan dirinya dengan Rabbnya, maka layak disyukurinya baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa kemampuan menulis merupakan karunia Allah atas hamba-hambaNya. Kedua, mensyukuri dengan terus memujiNya dan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahi rabbil 'alamin, semoga Allah menganugrahi kita kemampuan merangkai kata demi kata sehingga punya makna untuk dirinya dan sesamanya. Ketiga, mensyukuri dengan tindakan nyata yaitu berusaha menulis apapun yang bermanfaat bagi diri dan sesamanya.

Langkah praktisnya adalah, setelah berdoa dan membaca basmalah, maka mulailah menulis apa saja. Bahkan mulanya dengan tidak menghiraukan ejaan, tanda baca, mana subyek mana obyek atau predikatnya. Pokoknya tulis dan tulus, tulis dan tulus, tulis dan tulus. Nah ketika sudah ada tulisan tentang gagasan apapun atau suasana batin yang ada, maka kini saatnya mengulangi membaca kembali yang sudah tertulis. Inilah saatnya merapikan; mensistematisasikan, mengedit membenarkan ejaan dan susunan kalimatnya. Begitulah, proses ini diulangi, diulangi lagi, diulangi lagi. Dengan izin Allah, kita pasti bisa karena biasa.

Maka dzikir pengkodisian hati dan penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan ya Allah ya 'Alim ya Haadiy, ys Allah zat yang maha mengetahui, tunjukilah kami atas ridhaMu ya Rabb.
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top