Oleh: Juariah Anzib, SAg

Sering terdengar pepatah menyatakan bahwa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalimat tersebut sederhana, namun memiliki makna yang luas dalam kehidupan sehari-hari. Memang pada kenyataannya seperti itu, bahwa bila sebatang pohon berbuah, apabila buahnya jatuh, maka keberadaannya pasti tidak akan jauh dari pohonnya. Pasti akan berada di sekitar sumbernya. 

Demikian diibaratkan dalam kehidupan manusia. Semua insan akan meneruskan keturunannya masing-masing untuk kelestarian alam. Selain Allah,  alam bersifat baharu dan fana. Manusia merupakan makhluk utama yang diciptakan Allah dalam  menjalani kehidupan dunia. 

Untuk meneruskan keturunan yang baik, manusia memerlukan persiapan, agar dapat melahirkan generasi yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Rasulullah SAW bersabda, "Sejelek-jelek  kamu yang menjadi beban bagi orang lain, dan sebaik-baik kamu yang dapat memberi manfaat bagi orang lain". 

Dalam Islam, bibit, bebet dan bobot sangat diutamakan, sehingga bila seseorang mencari pasangan hidup, hal tersebut akan menjadi suatu pertimbangan serius. 

Bila calon suami istri seorang yang shalih dan shalihah, tentu keturunannya akan menjadi generasi yang beragama dan taat. Meskipun terkadang tidak sempurna seperti yang diharapkan, namun dasar keshalihannya sedikit banyak akan menurun kepada sang anak. Kita dapat melihat baik buruk seseorang pada keluarganya. Orang akan menelusuri silsilah keluarga demi mendapatkan keturunan yang baik.

Begitu juga sebaliknya. Orang tua yang tidak memiliki dasar agama dalam jiwanya, menjalani kehidupan seperti hewan lepas, tentu keturunannya akan mengikuti jejaknya. Cara hidup dan watak orang tua diturunkan kepada anak hingga menjadi generasi yang kurang baik. Sikap dan tingkah laku orang tua sehari-hari menjadi foto copy bagi anak. Dia akan berprinsip yang sama dengan orang tuanya dalam mempertahankan keegoisannya. Bila orang tua pemalas, maka anak akan mengikutinya. Orang tua yang malas beribadah akan dicontoh oleh anak, karena orang tua guru bagi anak.

Untuk itu, bila ingin meneruskan keturunan yang baik, maka calon orang tua mempersiapkan diri terlebih dahulu. Mempelajari ilmu agama dengan benar dan beribadah dengan baik. Hal tersebut modal dasar untuk menjalin kehidupan berumah tangga dan mendapatkan keturunan yang shalih dan shalihah. Apalagi seorang ayah yang merupakan pimpinan rumah tangga, ia berkewajiban membimbing keluarganya ke jalan kebenaran. Anak dan istri tanggung jawabnya lahir dan batin. 

Seorang suami yang mengerti hukum, tentu  akan menjadi imam yang baik untuk keluarganya. Memberikan pendidikan agama dan panutan bagi anak dan istrinya. Memberi perhatian dan kasih sayang dengan sepenuh hati. Keluarga bahagia adalah keluarga yang didasari dengan keimanan dan ketakwaan.

Sorang orang tua yang baik, tentu tidak akan memperlihatkan tingkah laku yang tidak terpuji kepada keluarganya. Jarang shalat, tidak berpuasa, atau tidur seharian. Karena hal tersebut akan ditiru oleh anaknya. Bagi seorang suami, anak dan istri adalah harta terindah yang tidak dapat tergantikan oleh sesuatu apapun. Ia pasti akan menjaga dengan penuh tanggung jawab. Keberadaan dan kebaikan anak istri tergantung kepada didikan seorang suami. Baik buruknya tergantung kemana akan dibawa oleh suami.

Allah SWT berfirman,  "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksaan api neraka". Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan agar kita memelihara diri dan keluarga dari api neraka, dengan cara menyeru kepada  kebaikan dan mencegah kemungkaran. Melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.  Mari menjadi cerminan yang baik untuk generasi kita, manjadi generasi islami dan bermanfaat.

Penulis merupakan Koordinator Kesiswaan MIN 11 Aceh Besar

Editor: smh

SHARE :
 
Top