Oleh: Abu Lampanah 

Abu Sulaiman antusias saya ajak diskusi tema wakaf, sebab dia tahu wakaf adalah cerminan kualitas iman terbaik seorang muslim. Wakaf  mulai jadi topik populer. Namun seorang muslim yang penghasilannya telah sampai nishab saja sulit membayar zakat sebagai suatu kewajiban, apalagi mengajaknya berwakaf sebagai ibadah sunat. “Tidak mudah jadi wakif, jika imannya biasa-biasa saja,” kata Abu Sulaiman, dalam obrolan shubuh di Serambi Masjid, pekan lalu.

Jika begitu, Abu, apakah ini artinya tidak mudah menambah jumlah wakif dan jumlah wakaf, sebab persentase orang Islam yang kualitas imannya terbaik tidak besar dalam masyarakat kita? Demikian pula persentase kaum muslim yang kaya (aghnia) juga tidak cukup banyak. Justru yang mayoritas adalah muslim yang imannya biasa-biasa saja. Penghasilan mereka juga paling sampai nishab (Rp 6,9 juta perbulan atau Rp 82,8 juta pertahun) dan hanya bisa mencicil untuk beribadah haji.   

Idealnya memang seperti itu. Fakta yang kita lihat selama ini, bahwa wakaf lebih dominan dilakukan oleh orang kaya dalam bentuk kebun, tanah atau bangunan. Mereka menyisihkan sebagian aset untuk dimanfaatkan pada jalan kebaikan. “Saya kira ini hal yang baik telah berlangsung dalam masyarakarat Aceh dan membuktikan dakwah atau seruan berwakaf telah ada sejak dulu, dan yang sambut dakwah ini adalah orang-orang kaya di sekitar kita,” tambah Abu Sulaiman, yang mengakui pada saat dia sebagai aktivis PII dan partai Islam kampanye wakaf belum begitu gencar dibandingkan sekarang ini. 

Saya juga menggunakan kesempatan menyampaikan kepada Abu Sulaiman, bahwa sekarang, banyak nazir mengkampanyekan wakaf uang atau wakaf melalui uang, sehingga yang berpeluang menjadi wakif terbuka lebar. Siapa saja dapat berwakaf menurut kemampuan finansial masing-masing. Selanjutnya dikumpulkan, dikelola oleh nazir dan didayagunakan  sesuai program wakaf yang direncanakan. “Benar, adinda, saya membaca dan mengikuti perkembangan wakaf di Indonesia dan Aceh sepuluh tahun terakhir sudah lebih maju,” katanya. 

“Yang lebih banyak dan saya tahu adalah wakaf melalui uang. Beberapa dayah atau pesantren menggalang wakaf untuk pembebasan tanah atau pembangunan gedung dayah,” kata Abu Sulaiman. Namun dia mengakui kurang tahu bahwa mulai ada di Aceh yayasan wakaf yang mengelola pesantren tahfidz dan sekolah Islam terpadu. “Dulu, yang pernah saya dengar adalah pesantren gontor yang statusnya wakaf,” tambahnya. 

Abu Sulaiman baru mendapat informasi tentang wakaf uang yang dikelola oleh Bank Wakaf Mikro. “Ini luar biasa dan cukup menantang pengelolaannya, sebab harus dilakukan oleh sumber daya insani yang profesional, guna memastikan uang wakaf itu bisa abadi dan tidak habis.” Bahkan, Abu Sulaiman mengakui belum membaca rencana Wapres meresmikan gerakan nasional wakaf uang.  “Ini berita baik, dan ternyata perubahan terjadi begitu cepat, sehingga orang yang belum kaya pun dapat menjadi wakif,” katanya mantan wartawan senior ini. 

Abu Sulaiman tahu saya dan kawan-kawan sedang mempromosikan Wakaf Siribee, yaitu wakaf sehari seribu, untuk menampung wakaf dari kalangan masyarakat biasa. Dengan seribu sehari, masyarakat miskin pun sebenarnya mampu jadi wakif, yang penting imannya hidup dan bergetar ketika membaca Al-Quran surat Ali Imran ayat 92, “Tidak akan tercapai olehmu suatu kebaikan sebelum kamu sanggup membelanjakan (mewakafkan) sebagian harta yang kamu cintai.”

Semoga kita semua menyegarkan niat dan bercita-cita menjadi wakif menurut kemampuan kita masing-masing. Abu, insya Allah kita ngobrol lagi pekan depan. Semoga Abu dan jamaah masjid kita sehat dan mampu shalat berjamaah di masjid lima waktu sehari.

Sumber: Gema Baiturrahman, 22/01/2021

SHARE :
 
Top