Oleh: Abu Lampanah


Abu Sulaiman lebih sehat pekan ini, sehingga mampu shalat berjamaah lima waktu di masjid, walau harus duduk di atas kursi. Kami bisa berdiskusi di Serambi Masjid, dengan tema yang aktual dan terkait dengan kepentingan jamaah masjid. Jamaah masjid menurutnya, adalah bagian dari masyarakat, yang datang dari berbagai latar belakang dan memerlukan pelayanan yang sempurna dari pengurus masjid atau yang lebih dikenal dengan Badan Kemakmuran Masjid (BKM). 

Dia memulai “diskusi” dengan pertanyaan, apa persiapan BKM menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan beberapa hari lagi. Saya jelaskan,  tidak ada yang istimewa bagi BKM, sebab sehari-hari dan bertahun-tahun telah melakukan berbagai persiapan pelayanan terhadap jamaah. Yang pasti, jamaah terlayani dengan baik, masjid makmur dengan berbagai kegiatan, di dalam dan di luar Ramadhan. 

“Saya pikir, banyak pihak berharap, pengurus masjid harus lebih siap dan ada sesuatu yang berbeda antara Ramadhan dan bukan bulan puasa,” katanya. Abu Sulaiman kembali mengenang masa-masa menjadi aktivis PII. 

“Bagi kami, bulan puasa adalah bulan training, bulan pengkaderan, bulan latihan kepemimpinan pelajar yang kami laksanakan hampir seluruh Aceh. 

“Inilah yang berbeda,” katanya. 

Sebulan atau bahkan dua bulan sebelum Ramadhan tiba, pengurus PII telah membentuk panitia training dan melakukan berbagai persiapan. 

Dia mengakui, akhir-akhir ini training PII tak seramai dulu, hanya berlangsung di beberapa lokasi saja. Dia berharap kekosongan ini dapat terisi dengan berbagai kegiatan lainnya seperti aneka lomba, pesantren kilat, MTQ antar kampung dan berbagai bentuk kajian keislaman. 

“Saya mendapat informasi, beberapa pesantren, masjid dan organisasi Islam menyiapkan karantina tahfidz, bahkan yang menarik ada yang mengadakan karantina tahfidz  memadukannya dengan kursus bahasa Arab,” kata Abu Sulaiman.

Dia menambahkan, sebagian besar masjid di kota telah menyusun jadwal imam dan penceramah tarawih.  Bahkan kuliah shubuh pun sudah mereka rencanakan. Diperkirakan suasana Ramadhan kali ini syiarnya lebih sempurna dibandingkan tahun  lalu, walaupun dalam pelaksanaannya masih memperhatikan protokol kesehatan. Namun dia, tetap menghawatirkan masjid-masjid di pelosok desa yang menyambut Ramadhan dengan biasa-biasa saja.

Saya memberitahukan Abu Sulaiman, bahwa BKM tingkat kecamatan, kemukiman dan tingkat kemasjidan di Aceh, lebih baik kondisinya dibandingkan 30 tahun lalu. Artinya, BKM sudah diisi dengan sumber daya manusia yang lebih berkualitas, mulai ada pengurus yang sarjana dan berpengalaman di bidang tertentu. Mereka menyadari, puasa Ramadhan harus direncanakan  dengan baik, sejak dari kegiatan tabligh menyambut Ramadhan, gotong royong membersihkaan lingkungan masjid, menyusun jadwal imam dan penceramah, hingga merencanakan tadarus Al-Quran. Tidak luput persiapan peringatan nuzulul quran dan santunan anak yatim.

“Saya mendengar masih sedikit perubahan di masjid-masjid dan meunasah di tingkat gampong, yang masih banyak belum melengkapi shalat tarawih dengan ceramah sebelum atau sesudah tarawih, apalagi shubuh,” katanya.  

Abu Sulaiman mengatakan, “Ceramah tarawih cukup mendukung terciptanya perubahan di tengah-tengah masyarakat, sebab selain memotivasi ibadah masyarakat, ceramah ini seringkali memuat pesan-pesan perubahan dan koreksi hal-hal negatif dalam masyarakat,” katanya. 

Saya meyakinkan Abu Sulaiman, bahwa BKM sekarang ini lebih baik, dalam artian kemampuan beroganisasi pengurusnya mulai meningkat. Setidaknya, dari sekarang BKM telah memastikan ketersediaan air yang cukup untuk bersuci dan wuduk,  listrik, pengeras suara, lahan parkir, dan fasilitas ibadah yang memadai untuk jamaah shalat lima waktu dan shalat tarawih. Beberapa BKM telah menyiapkan jadwal buka puasa bersama, khatam Al-Quran dan khatib Idul Fitri. Ada juga BKM yang merencanakan santunan jamaah melalui penggalangan zakat, infak, sedekah dan wakaf. Semua siap menyambut Ramadhan.

Sumber: Gema Baiturrahman, 26 Maret 2021

SHARE :
 
Top