Oleh: Abu Lampanah 

Media sosial (medsos) dapat digunakan sebagai media dakwah. Efektifitas dakwah sangat ditentukan oleh media yang digunakan dalam menyampaikan pesan-pesan risalah. “Jadi tidak ada salahnya media sosial dimanfaatkan sebagai media dakwah untuk menyampaikan kebenaran, kebaikan dan amar ma’ruf nahi mungkar,” kata Abu Sulaiman dalam diskusi kami di teras masjid, pekan lalu.

Saya tahu dia tak sering menggunakan medsos untuk berdakwah. Sebagai generasi tua, Abu Sulaiman masih menganggap penting berdakwah melalui pengajian, khutbah, ceramah, atau tabligh (ceramah umum seperti pada peringatan hari-hari besar Islam). Terakhir dia mempraktikkan dakwah dari masjid ke masjid untuk memotivasi ummat gemar shalat berjamaah, menimba ilmu dan melayani sesama muslim. 

Beberapa lama dia menggunakan facebook untuk menyampaikan pikiran dan pandangannya tentang hal-hal aktual. Bahkan dia menyampaikan sikap dan pandangan politik melalui medsos tersebut. “Secara tak sengaja saya menyampaikan kebenaran melalui medsos ini, yang oleh kaum muda dianggap telah berdakwah melalui facebook,” kata wartawan senior ini. Wartawan memang terampil menulis dan cakap menyampaikan pesan melalui media.  

Menurut dia, boleh saja kita beranggapan bahwa kaum muda yang aktif di medsos telah berdakwah, menyampaikan risalah Islam dan membela kepentingan ummat. Namun hal itu hanya berlaku bagi sebagian kaum muda muslim yang memahami dasar-dasar keislaman dan konsep dakwah,  dan berniat berdakwah melalui medsos. Sementara sebagian lagi sifatnya hanya “meramaikan” dunia maya dengan tema-tema keagamaan. “Bisa jadi mereka justru bukan menguatkan barisan dakwah, sebab tak punya target apa-apa,”  kata Abu Sulaiman mengingatkan. 

Dia mengamati banyak da’i, aktivis dan organisasi dakwah yang memanfaatkan medsos secara profesional untuk berdakwah. “Ini positif sekali,” katanya. Dia berharap, kaum muda muslim memberi warna dan mengimbangi informasi negatif di dunia maya. Tentu saja, dengan cara yang lebih bersahaja, menyiapkan sumber daya insani yang terampil mengelola medsos populer seperti Youtube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, Line, LinkedIn atau Tik-Tok.      

Abu Sulaiman mengaku bangga dayah dan masjid di Aceh mulai menggunakan medsos untuk menyiarkan secara langsung pengajian dan khutbah Jum’at. Ini kemajuan luar biasa yang tak terpikirkan 20 tahun lalu. “Dulu,  kami hanya melatih calon da’i dan khatib, sementara sekarang organisasi dakwah, dayah, dan pengurus masjid harus pula menyiapkan orang-orang yang terampil mengurus siaran langsung melalui medsos,” kata tokoh PII Aceh ini. 

Abu Sulaiman mengingatkan,  dakwah diwajibkan kepada sebagian ummat. Dakwah adalah fardhu kifayah, wajib dilakukan sebagian ummat. Allah memuliakan orang-orang yang aktif di jalan dakwah, sesuai kemampuan masing-masing. Tak harus seluruhnya berdakwah melalui medsos dan meninggalkan media tradisional. Medsos hanya salah satu media dakwah dengan karakteristik yang khas pula. “Da’i perlu memperhatikan siapa obyek dakwah, supaya pesannya sampai,” katanya. 

Di akhir diskusi rutin ini dia mengingatkan kembali firman Allah SWT dalam Ali Imran ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. Dan  surat  Ali Imran ayat 110: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.

Abu Sulaiman mengungkapkan rasa bahagia menyaksikan fenomena semakin banyak kaum muda yang mendidikasikan diri sebagai da’i medsos, apakah dia sendiri yang jadi da’i atau membantu da’i lain menggunakan fasilitas medsos. “Saya belum tahu apakah ada anak muda yang bantu medsos Masjid Raya Baiturrahman siarkan khutbah dan pengajian?” tanyanya. Saya katakan, ada Abu, namun belum dikelola cecara profesional.

Sumber: Gema Baiturrahman, 4 Juni 2021

SHARE :
 
Top