Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Menjadi Guru Profesional


Dalam sebuah riwayat menyatakan Rasulullah saw memiliki sembilan orang istri, tetapi sejarah lain  menulis sepuluh orang. Mereka terdiri dari janda-janda yang ditinggal mati oleh suami mereka yang syahid di berbagai peperangan dan juga faktor cerai dengan berbagai sebab. Rasulullah saw menikahi mereka bertujuan menyantuni anak-anak yatim dan janda-janda yang memerlukan perlindungan. Pernikahan yang dilakukan berdasarkan ketulusan, rasa cinta, dan  kasih sayang terhadap para sahabat yang telah syahid, dengan melindungi janda-janda dan anak-anak mereka. Betapa mulianya hati Rasulullah saw.

Menurut Prof Abdul Malik Asy-Syaibani dalam kitabnya Sirah Rasulullah Menurut Tafsir Fi Zhilalil Quran Karya Sayyid Qutbh (diterjemahkan oleh Ali Nurdin dan Muhammad Ihsan  Lc Msi) mengatakan, Khadijah binti Khuwailid merupakan istri pertama yang dinikahi Rasulullah, saat beliau berusia 25 tahun, sedang Khadijah 40 tahun. 

Kesenjangan usia yang sangat tidak ideal, bukanlah suatu halangan untuk berumah tangga dengan Khadijah. Keluhuran budi dan kejujuran Rasulullah dalam memperdagangkan barang dagangan Khadijah, membuat Khadijah  mengagumi sosok Rasulullah hingga timbul rasa cinta yang mendalam. Demikian juga dengan sikap dan keluhuran budi Khadijah, seorang janda kaya raya yang mempercayakan dagangan kepadanya, menyebabkan Rasulullah mencintainya dengan tulus hingga minikahinya. Selama perkawinan dengan Khadijah, Rasulullah tidak pernah menikah dengan yang lain  hingga Khadijah wafat menjelang tiga tahun sebelum hijrah. Wafat Khadijah meninggalkan duka yang mendalam bagi Rasulullah, hingga tahun tersebut dinamakan tahun berduka cita atau tahun kesedihan. 

Menurut Prof Abdul Malik, Qutbh menulis dalam tafsir Fi Zhilalil Quran, setelah wafat Khadijah, Rasulullah saw menikah dengan Saudah binti Zum'ah, seorang janda Sakram bin Amru bin Abdi Syam. Ia tergolong orang-orang pertama masuk Islam. Saudah adalah perempuan pertama yang mengisi hati Rasulullah saat duka. Kehadirannya mengurangi beban kesedihan yang sangat dirasakan setelah hari-hari sulit.

Dalam perkawinannya dengan Saudah, Rasulullah menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar dalam usia yang sangat muda. Satu riwayat mengatakan Aisyah berusia sembilan tahun. Rasulullah tidak menggaulinya hingga sampai masa hijrah. Aisyah istri termuda, cantik, cerdas, periang dan sangat pencemburu kepada istri-istri nabi yang lain, karena rasa cintanya terhadap Rasulullah yang sangat dalam. Aisyah satu-satunya istri Rasulullah yang masih perawan saat dinikahinya. Kecerdasan Aisyah cukup membantu dakwah Rasulullah khususnya terkait hukum bagi perempuan.

Menurut Prof  Abdul Malik seperti ditulis Qutbh, setelah perkawinannya dengan  Aisyah, Rasulullah menikahi putri sahabatnya Umar bin Khatab, yaitu Hafsah binti Umar. Suaminya syahid dalam sebuah peperangan. Hafsah seorang perempuan yang berakhlak mulia dan rajin  belajar, suka menulis, membaca dan menghafal. Ia berasal dari keluarga yang akhlaknya terbina dalam keislaman.

Seterusnya Rasulullah menikah dengan Zainab binti Khuzaimah. Zainab seorang janda dari suami pertamanya Ubaidillah bin Al Harits bin Abdul Muthalib yang syahid dalam perang Badar. Sepeninggal suami Zainab sakit-sakitan. Ketika menikah dengan Rasulullah dalam keadaan sakit. Hingga tidak lama setelah itu Zainab meninggal dunia saat Rasulullah masih hidup.

Lalu Rasulullah menikah dengan Ummu Salamah, seorang janda dari Abu Salamah yang syahid dalam perang Uhud. Menurut Sibel Eraslan dalam novelnya Aisyah, Ummi Salamah sangat unggul dalam penguasaan ilmu fikih dan hadits, hingga banyak  membantu Rasulullah dalam berdakwah. Ia juga sangat pandai berbicara dalam mengeluarkan pendapat. Dapat menyelesaikan  perkara disetiap pertemuan. Rasulullah sangat menghargainya. Ia sering dijadikan sebagai juru bicara dalam memberi argumen dalam setiap majelis. Jika ada perkara dan perbedaan pendapat, Ummu Salamah  menjadi pembicara penengah dan  mendamaikan.

Kemudian Rasulullah menikah dengan Zainab binti Jahsy, yang sebelumnya istri dari mantan budak Zaid bin Haritsah. Karena kehidupan rumah tangga yang tidak akur dan sering dalam perdebatan, hingga Zaid menceraikannya. Zainab seorang perempuan yang sangat cantik dan molek. Kemolekannya membuat Aisyah cemburu. Ketika mendengar berita tentang kecantikan Zainab, Aisyah datang ke rumahnya untuk melihat secara langsung. Rasa penasaran Aisyah terhadap Zainab diketahui oleh Rasulullah hingga beliau menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum kepada Aisyah. Begitu pencemburunya Aisyah. Ia takut kalau Rasulullah berkurang perhatian kepadanya. Padahal Rasulullah sangat adil terhadap istri-istrinya.

Kemudian Prof Prof  Abdul Malik mengutip Qutbh,  Rasulullah menikah dengan Juwairiyah binti Al Harits, seorang pimpinan Bani Mustaliq. Juwairiyah termasuk salah satu tawanan perang Muraisi. Harta benda dan dirinya ditawan. Juwairiyah tidak kuasa memerdekakan dirinya karena sudah tidak memiliki apa-apa. Ia datang kepada Rasulullah meminta untuk dimerdekakan. Juwairiyah perempuan yang sangat cantik dan molek. Kecantikannya membuat orang yang memandangnya jatuh cinta. Ketika menghadap Rasulullah, ia memandangnya untuk meminta bantuan kepadanya. Rasulullah memerdekakannya dan kemudian menikahinya. Kemolekan dan kecantikan Juwairiyah menimbulkan kecembuan Aisyah karena merasa tersaingi. Namun Rasulullah selalu dapat menasihati istrinya secara lemah lembut hingga Aisyah menyadari kekeliruannya.

Selanjutnya Rasulullah menikah dengan Ummu Habibah binti Abi Sofyan. Seorang wanita muslimah yang berhijrah ke negeri Habasyah. Sebelum masuk Islam, Ummu Habibah dan suaminya penganut agama Ibrahim. Mereka tidak pernah menyembah berhala, tetapi sayang, ketika tiba di Habasyah, suaminya menjadi murtad dan masuk agama Kristen. Ummu Habibah tak dapat membujuk suaminya untuk kembali muslim, bahkan ia mendapat tekanan dari suaminya hingga akhirnya diceraikannya. 

Namun dengan keberanian dan ketegarannya, ia dapat membuktikan kesetiaannya terhadap Islam. Rela ditinggal cerai oleh  suami demi mempertahankan aqidah dan keislamannya. Setelah itu, tidak ada yang berani menikahinya karena ia berasal dari keluarga terkemuka Mekah. Sementara ia membutuhkan perlindungan. Ia tidak dapat kembali kepada keluarganya karena ayahnya seorang musuh Islam, maka Rasulullah meminta untuk menjadi istrinya.

Lalu, Rasulullah menikah dengan Maimunah binti Al Harits bin Huzn, seorang janda dari Abu Rahm bin Abdil Uzza. Maimunah perempuan terakhir yang dinikahi Rasulullah hingga beliau wafat. Ia perempuan yang paling takut kepada Allah dan suka beribadah. Selalu menjaga kekerabatan dan silaturrahim. Suka meminjamkan uang kepada siapa saja yang membutuhkan. Maimunah suka melepaskan utangnya yang sudah tidak sanggup dibayarkan. Hal tersebut ia lakukan hingga sepeninggal Rasulullah. 

Demikian istri-istri Rasulullah. Mereka wanita yang dimuliakan sebagai ummul mukminin (ibu orang-orang mukmin). Tempat mencurahkan masalah ketika Rasulullah saw telah wafat. Mereka wanita tegar yang mendampingi Rasulullah dalam berdakwah. Teladan bagi kita semua, karena penuh dengan suri teladan yang baik dan mulia, tahan menderita, sabar dalam kesulitan dan taat beribadah. Berjuang dengan jiwa dan raga membantu dakwah baginda Rasulullah saw.  

Editor: smh

SHARE :
 
Top