Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Menjadi Guru Profesional

Khadijah binti Khuwailid merupakan istri pertama  Rasulullah saw. Saat menikah Rasulullah berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun. Meskipun demikian, Rasulullah sangat mencintai dan menyayangi Khadijah. Khadijah perempuan pertama yang mengisi relung hati Rasulullah, cinta pertama yang sangat berkesan bagi keduanya.  Khadijah perempuan berbudi luhur dan akhlak mulia yang berada  ditengah-tengah kejahilan kaum Jahiliyah ketika itu. Ia bagaikan butiran mutiara di dasar lautan yang sangat berharga bagi Rasulullah. Keistimewaan dan kebaikannya sering disebut-sebut Rasulullah meskipun Khadijah sudah wafat.

Rasa cinta Rasulullah terhadap Khadijah tidak pernah pudar seumur hidupnya. Sebagai bukti, meskipun Khadijah sudah tiada, namun Rasulullah  sangat menghormati dan mengutamakan kepentingan terhadap keluarga dan rekan sahabat Khadijah. Rasulullah  selalu mengenangnya. Sebagai perwujudannya, Rasulullah tidak pernah  melupakan Khadijah. Ia seorang istri yang setia terhadap Rasulullah. Khadijah adalah mujahidah nomor satu dalam perjuangan Islam. Setiap waktu siap mendampingi Rasulullah dalam berdakwah hingga ajal menjemputnya. 

Dalam artikel Teladan Istri Nabi Muhammad SAW, Khadijah binti khuwailid (kumparan.com 3/3/2021) disebutkan,  sebelum menikah dengan Rasulullah, Khadijah sudah pernah menikah dua kali. Suaminya yang pertama bernama Abu Halal At-Tamimi. Ia wafat dengan meninggalkan harta kekayaan yang banyak dan bisnis. Sedangkan suami kedua bernama Atiq bin Aidz bin Makhzum. Ia juga wafat  dengan meninggalkan banyak aset dan jaringan bisnisnya kepada Khadijah. Hal ini menyebabkan Khadijah mendapat peluang menjadi seorang pedagang yang kaya raya di kota Mekah.  

Khadijah bukan hanya seorang yang kaya raya, tetapi juga perempuan tangguh yang sangat pandai mengelola harta peninggalan suaminya. Dengan kecerdasan dan pengetahuannya yang luas, ia berhasil menjadi seorang pedagang terkenal dikalangan kaum Quraisy. Khadijah semakin kaya dan sukses dalam bisnisnya. Di tengah kejayaannya, Khadijah yang mulia dan terhormat dikagumi banyak laki-laki. Tak sedikit diantara mereka yang ingin menggodanya. Namun ia tak pernah terpengaruh, selalu menjaga kehormatannya di tengah-tengah kesibukan bisnisnya. 

Artikel tersebut menyebutkan, Khadijah berkenalan dengan Rasulullah melalui bisnis perniagaan. Rasulullah saw berbisnis dengan Khadijah dengan membawa barang-barang dagangannya dari Mekah ke negeri Syam dan sekitarnya. Selain Rasulullah, banyak para pedagang Quraisy yang bekerja sama dengan Khadijah. Ia seorang majikan perempuan yang memiliki keteladanan mulia hingga digelar dengan Sayyidah Nisa Quraisy (pemuka perempuan Quraisy). Gelar ini hanya diberikan kepada orang yang memiliki kesempurnaan sifat terpuji. 

Dalam menjalankan bisnisnya, Rasulullah selalu ditemani Maisarah, seorang budak kepercayaan Khadijah yang setia. Hal tersebut atas perintah Khadijah. Di saat  mendampingi Rasulullah berdagang, diam-diam Maisarah memperhatikan cara beliau berniaga yang penuh kejujuran dan kemuliaan. Perniagaannya selalu menghasilkan keuntungan yang besar. Maisarah menceritakan perihal tersebut kepada majikannya Khadijah. Mendengar cerita tersebut, Khadijah semakin mengagumi prilaku dan kepribadian Rasulullah. Ia terkesan dengan  keluhuran budi dan cara Rasulullah berbisnis. Hingga timbul rasa simpati dan cinta terhadap baginda Nabi. 

Tak lama kemudian, Khadijah mengirim seorang utusan lamaran yang bernama Nafisah binti Umayyah. Nafisah masih tergolong kerabat Rasulullah. Dengan senang hati beliau menerima tawaran Nafisah untuk menikahi Khadijah. Rasulullah menyampaikan kabar gembira tersebut kepada pamannya Abu Thalib. Lalu Abu Thalib mengutus saudaranya Hamzah bin Abdul Muthalib mendatangi rumah Khuwailid untuk membicarakan rencana tersebut. Kedua belah pihak menyetujuinya  dan Rasulullah pun menikahi Khadijah dengan ketulusan dan cinta kasih.

Setelah menikah dengan  Rasulullah, sebagai istri shalihah ia selalu mendampingi Rasulullah dalam suka dan duka. Hingga tiba waktunya ketika Rasulullah saw menerima wahyu pertama saat berhalawat di Gua Hira dari malaikat Jibril. Peristiwa itu terjadi 17 Ramadhan. Sejak itulah Rasulullah diangkat menjadi Rasul. Khadijah orang pertama yang percaya dengan kerasulan Muhammad saw. Ia orang pertama sekali masuk islam, sebelum yang lain mengetahuinya. 

Khadijah dengan setia membantu dakwah Rasulullah segenap jiwa raganya. Ia mengorbankan hartanya demi perjuangan dakwah Rasulullah. Hingga  harta yang dimiliki perlahan habis disumbangkan tanpa sisa. Menjelang wafat Khadijah berpesan, "Jika aku telah wafat, ambilah tulang belulangku untuk dijadikan jembatan untuk dakwah Islam." Begitu setianya Khadijah terhadap Rasulullah dan dakwah Islam. Mendengar pesan tersebut Rasulullah mengeluarkan air mata. Rasa sedih dan haru menyelimuti perasaannya.

Khadijah saudagar kaya, wafat dalam  kesederhanaan tanpa harta walau hanya sedikit. Baju yang dikenakan memiliki puluhan tampalan. Bahkan untuk kafannya saja ia membisik kepada anaknya Fatimah agar Rasulullah rela menyumbangkan sorbannya untuk kain kafannya. Tiba-tiba malaikat Jibril turun membawakan kain kafan untuk Khadijah.  Kini mutiara sudah tiada lagi, yang tinggal hanyalah kenangan yang tak terlupakan oleh Rasulullah hingga akhir hayat. Khadijah wafat dengan tenang di pangkuan Rasulullah saw.

Demikian sekelumit kisah Khadijah istri Rasulullah, pejuang Islam terhebat hingga akhir hayatnya. Khadijah ummul mukminin (ibu orang-orang mukmin) pertama di atas permukaan bumi ini. Seorang istri Rasulullah satu-satunya yang tidak pernah dipoligami. Indahnya cinta kasih Rasulullah terhadap Khadijah hingga maut memisahkan. Sepeninggal Khadijah,  Rasulullah menikahi beberapa orang istri dengan berbagai latar belakang demi tegaknya Islam.

Mari meneladani keluhuran budi Khadijah yang lemah lembut, keibuan dan penuh cinta kasih. 

Editor: smh

SHARE :
 
Top