Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Menjadi Guru Profesional

Kebanyakan istri Rasulullah ternyata anak dari pemuka-pemuka kaum Quraisy yang berpengaruh dan berkedudukan penting. Pada umumnya mereka perempuan-perempuan berparas cantik, cerdas dan berakhlak mulia. Mereka putri para kepala suku tertentu yang membawa pengaruh dan perubahan besar dari pernikahan putri-putrinya dengan baginga Rasulullah saw. Di antara tujuan Rasulullah menikahi mereka  adalah menyebarkan dakwah Islam, mengajarkan Islam melalui sebuah ikatan pernikahan dan menggabungkan keluarga mereka dengan keluarga Rasulullah agar terjalin ukhuwah keislaman.

Demikian juga dengan Shafiyah. Ia putri seorang pemimpin Bani Nadhir, Huyay bin Athab. Huyay salah seorang penentang Islam dan dakwah Rasulullah. Bahkan, dia termasuk salah seorang di antara kaum Yahudi yang  mengingkari piagam Madinah. Mereka melanggar perjanjian sebagaimana telah disepakati bersama. Huyay seorang pemuka Quraisy yang mengepung Rasulullah dalam perang Khandaq. Perang tersebut menewaskan ayah, suami dan saudara Shafiyah. Demikian tulis Sibel Eraslan dalam Novelnya Aisyah. 

Karena mengalami kekalahan, setelah peperangan berakhir, mereka dijadikan tawanan perang. Shafiyah menjadi bagian dari Dihyah Al-Kalbi. Namun Dihyah menyerahkan Shafiyah kepada Rasulullah dengan alasan karena putri dari pimpinan Bani Nadhir. Rasulullah menukarnya dengan tawanan yang lain. 

Seraya menyerahkan pertukaran tawanan kepada Rasulullah, Dihyah berpendapat bahwa Shafiyah pernah mendengar mengenai Islam dan tentang dakwah Rasulullah, tetapi karena ayahnya seorang yang sangat menentang Islam, ia tak dapat menjelaskan kepada ayahnya tentang keinginannya dengan tegas. Setelah mengetahui hal tersebut, maka Rasulullah membebaskan dan memutuskan untuk menikahinya. 

Menurut Sibel, Shafiyah seorang perempuan yang sangat cantik. Pernah suatu ketika, Aisyah mendengar tentang kecantikan Shafiyah. Ketika pasukan Islam tiba di Madinah, Shafiyah tinggal sementara di rumah Haritsah bin An-Numan, karena rumahnya belum selesai dibangun. Aisyah sangat penasaran mengenai Shafiyah. Ia mengutus Barirah pelayannya untuk menilik ke tempat Shafiyah tinggal.

Di tengah perjalanan, Barirah bertemu dengan Ummu Salamah, ternyata ia  memiliki maksud yang sama dengan Aisyah, yaitu ingin mengetahui tentang Shafiyah. Ummu Salamah menceritakan tentang Shafiyah kepada Barirah, ia sangat cantik, cerdas dan sopan. Lalu Barirah menceritakan apa yang disampaikan Ummu Salamah kepadanya. Aisyah semakin penasaran dan  pergi menyaksikan sendiri tentang kebenaran berita tersebut. 

Sibel menulis, awalnya Aisyah berpikir ucapan Ummu Salamah hanya untuk membangkitkan kecemburuannya saja, tetapi  setelah menyaksikan sendiri Shafiyah, kecemburuannya semakin  meluap, sehingga Aisyah menangis. Aisyah mengadu kepada Hafsah, dan ia sangat memahami Aisyah. Hafsah memeluknya sambil berkata, "Menurutku Shafiyah orang biasa seperti kita, engkau hanya terbawa perasaan cemas dan cemburu saja, bahwa dia lebih cantik, lebih pinter dan lebih lembut. Padahal semua biasa saja." Demikian Hafsah menenangkan Aisyah.

Shafiyah perempuan yang lugu dan polos. Sampai ia sempat diperlakukan kurang baik oleh Aisyah dan Hafsah. Suatu hari Shafiyah mengenakan pakaian bagus untuk menyambut kedatangan Rasulullah, tetapi  melihat hal tersebut Aisyah dan Hafsah menakut-nakuti Shafiyah dengan mengatakan bahwa dunia akan segera kiamat. Sebentar lagi akan muncul makhluk raksasa bermata satu. Mendengar hal tersebut Shafiyah gemetar dan ketakutan. Aisyah membawa Shafiyah bersembunyi di gudang kayu belakang rumah. Shafiyah menurutinya karena ketakutan. 

Ketika Rasulullah datang beliau bertanya, "Apa yang terjadi?" Akhirnya Aisyah  menceritakan semua yang telah dilakukan. Rasulullah tersenyum dengan tingkah Aisyah. Beliau sangat memahami kecemburuannya. Rasulullah mengeluarkan Shafiyah dari persembunyiannya. Membersihkan pakaian yang berdebu dan jejaring laba-laba. 

Namun demikian, Aisyah mengakui kesalahannya. Ia menyadari, Rasulullah bukan hanya milik satu orang, tetapi milik semua umat. Pernikahannya dengan Shafiyah merupakan salah satu dari metode dakwah Islam. Mengislamkan umat dengan menikahinya agar Islam lebih mudah berkembang. Rasulullah mengajarkan Islam kepada Shafiyah untuk memperindah Islam. 

Demikian kisah ibunda Shafiyah ummul mukminin yang berhati mulia, tulus, berhati suci, dan bersih. Tak pernah tersirat dalam hatinya perasaan negatif. Kepribadiannya sangat mulia dan tulus. Mari membersihkan jiwa dengan belajar berpikir positif dari ummul mukminin ini.

Editor: smh

SHARE :
 
Top