dr. Hilwa Salsabila

Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala


Sejak dahulu, para orang tua berlomba-lomba menggemukkan badan anak masing-masing. Menjadikan perut, paha, dan lengan balitanya penuh lemak atau lipatan merupakan prestasi yang membanggakan. Sebaliknya, merasa malu saat anak ‘terlihat’ kurus, atau dikatakan kurus oleh orang lain. Seakan-akan memberi kesan bahwa ayah dan ibunya tidak bisa mengurus anak dengan baik, karena persepsi anak gemuk adalah anak yang cukup gizi, sehat dan lucu. Persepsi ini secara tidak sadar didukung oleh iklan produk makanan bayi instan dan susu formula yang kerap menampilkan balita bertubuh gemuk sebagai model iklan di media. 

Namun sering dengan berkembangnya pengetahuan, sudah selayaknya orang tua meninggalkan persepsi anak yang sehat harus gemuk dan beralih pada status anak kurus-gemuk yang lebih objektif, yakni mengacu pada grafik pertumbuhan dari organisasi kesehatan dunia (WHO). Yang mana berat dan tinggi badan diukur sesuai dengan usia anak. 

Anak dengan berat badan normal, namun memiliki postur tubuh yang lebih tinggi akan terlihat lebih kurus dibanding teman-temannya yang memiliki berat badan yang sama. Namun apakah anak tersebut berarti kurus dan tidak cukup gizi? Belum tentu. Sebaliknya, seorang anak dengan postur tubuh yang lebih pendek, bisa saja terlihat lebih gemuk dari teman seusianya.

Lalu kapan seorang anak bisa dikatakan gemuk, normal, atau kurus? Status gizi, tinggi badan, dan postur tubuh secara objektif mengacu pada grafik pertumbuhan WHO. Terdapat tiga grafik yang sering digunakan pada usia balita, yakni grafik berat badan menurut umur, tinggi/panjang badan menurut umur, dan berat badan menurut tinggi/panjang badan.

Saat ini orang tua dapat mengakses ketiga grafik tersebut pada banyak platform. Secara manual dari buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) atau sering disebut buku ‘pink’, yang dibagikan secara gratis di puskesmas  dan posyandu, hingga secara digital melalui aplikasi ‘Primaku’.

Melalui grafik pertumbuhan, akan terdeteksi masalah gizi pada anak. Termasuk anak gemuk, yang masuk kategori ‘berat badan lebih’ atau bahkan ‘obesitas’. Alih-alih merasa bangga, orang tua perlu khawatir saat anak masuk kategori berat badan lebih. Pasalnya, banyak dampak yang akan mengintai anak saat memiliki berat badan lebih, baik dari sisi kesehatan fisik, mental, termasuk juga ekonomi.

Penumpukan jaringan lemak, akan memicu proses imun dan hormonal yang kemudian berdampak pada perdangan pembuluh darah. Ketidakpekaan hormon terhadap gula darah yang menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi. Dan layaknya lingkaran setan, penumpukan lemak juga akan memicu hormon ‘lapar’, sehingga anak akan cenderung merasa lapar. Keseluruhannya secara jangka panjang akan meningkatkan resiko kejadian diabetes melitus tipe II, penyakit jantung dan pembuluh darah, perlemakan hati, gangguan tulang dan kulit, gangguan mata, gangguan pernapasan, dan gangguan hormon. 

Dampak pada kesehatan mental terutama dirasakan saat anak tumbuh besar dan mulai sadar mengenai citra tubuhnya sendiri, sehingga anak cenderung merasa kurang percaya diri dan menarik diri dari lingkungan sosial. Kondisi hormonal pada berat badan lebih juga akan memicu timbulnya jerawat saat remaja, sehingga memperparah kondisi rendahnya percaya diri anak. Perundungan dan diskriminasi juga kerap dilakukan oleh teman-temannya di lingkungannya. Hal ini kemudian meningkatkan resiko depresi pada anak dengan berat badan lebih.

Dilihat dari sisi ekonomi, tentu anak yang sehat akan menjadi lebih produktif dan jarang sakit. Ketergangtungan terhadap makanan manis atau sugar rush juga membuat anak cenderung minta dibelikan jajanan manis. Melihat banyaknya dampak negatif dan serius dari obesitas, maka perlu upaya dari orang tua untuk mencegah terjadinya obesitas pada anak.

Pencegahan obesitas ternyata dapat dilakukan sedini mungkin sejak anak masih di dalam kandungan. Yakni dengan menghindari asap rokok dan mengurangi konsumsi makanan dengan kadar gula tinggi saat ibu sedang mengandung.

Setelah kelahiran, pemberian ASI eksklusif ternyata merupakan faktor proteksi bagi obesitas, karena pemberian susu formula yang tinggi kadar gulanya tentu akan memicu penambahan berat badan secara tidak sehat. 

Proses pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat berperan penting dalam membentuk pola makan anak saat besar nanti. Proses makan bukan sekedar persoalan memindahkan makanan dari piring ke dalam perut anak, namun merupakan proses pembelajaran yang kompleks bagi anak. Pola makan yang salah, akan meningkatkan resiko obesitas pada anak.

Utamanya, anak membutuhkan makanan bergizi seimbang, bukan makanan yang mahal. Sumber pangan lokal Indonesia yang terjangkau dan kaya akan zat gizi sangat bermanfaat untuk proses pertumbuhan anak. Kemudian, anak juga membutuhkan role model dalam membentuk pola makan. 

Orang tua diharapkan mampu memberikan contoh dalam hal keteraturan frekuensi makan, mengonsumsi makanan yang bervariasi, dan sikap saat makan. Kebiasaan sarapan, mengonsumsi buah sebagai makanan selingan, makan bersama keluarga tanpa gangguan televisi, gawai, atau mainan, merupakan kebiasaan baik yang perlu dibentuk sejak dini bersama orang tua.

Kebiasaan makan yang baik juga sebaiknya disempurnakan dengan aktivitas fisik tingkat sedang sampai tinggi. Pada dasarnya anak-anak perlu bermain, anak yang sehat tentu akan aktif bergerak dan bermain. Namun, pada keadaan ketergantungan bermain video game dan tontonan pada gawai dan televisi, anak cenderung akan malas bergerak. 

Karena itu, penting untuk membatasi screen time, yakni waktu anak  menatap layar monitor, baik komputer, laptop, televisi, dan telepon genggam.WHO tidak merekomendasikan screen time pada anak berusia dibawah dua tahun. Sedangkan pada usia dua sampai lima tahun dibatasi maksimal satu jam, dengan pendampingan orang tua. Prinsipnya, kurangi waktu duduk, dan perbanyak waktu untuk bermain.

Dengan upaya pencegahan sejak dini, diharapkan dapat mengurangi angka obesitas pada anak Indonesia. Sehingga tercipta generasi dewasa yang sehat dan produktif. Karena status kesehatan anak saat ini merupakan cerminan status kesehatan Indonesia di masa mendatang.

SHARE :
 
Top