LAMURIONLINE.COM I ACEH BESAR - Peserta sosialisasi zakat, infak, sedekah dan wakaf (Ziswaf) memanfaatkan waktu luang untuk mengunjungi lokasi Peternakan Domba Aceh Wakaf Corperation (AWC) yang bermitra dengan ACT di Barbate, Aceh Besar, Sabtu (11/12). 

Pilot proyek wakaf ini dilaksanakan melalui usaha ternak dan penggemukan domba di lahan wakaf Komplek Lumbung Ternak Wakaf Barbate. Tahap awal menampung 150 ekor domba, yang terdiri atas empat kandang. Sementara pakan hijauan dilakukan dengan penanaman di lahan seluas delapan hektar, yang terdiri atas berbagai jenis rumput lokal dan luar negeri yang memiliki protein tinggi. 

Peternakan domba dikelola dua orang pekerja yang tinggal dilokasi 24 jam untuk menjaga dan merawat domba secara intensif. Sementara pengawasan oleh tenaga kesehatan hewan secara rutin dua minggu sekali. Tahun 2022 akan ditambah jumlah domba 350 ekor dan penggemukan sapi 200 ekor untuk persiapan kebutuhan hewan qurban.  

Selain usaha domba, AWC melakukan penanaman padi pola intensif di Gampong Paya Kereuleh, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, pada lahan masyarakat seluas empat hektar.  

Tanggapan peserta 

Salah seorang peserta sosialisasi Ziswaf, Juanda Jamal ST mengatakan, pola pengembangan ekonomi menggunakan pendekatan wakaf produktif adalah manifestasi pengamalan prinsip-prinsip ekonomi Islam.

Apalagi dalam praktiknya, tambah Juanda,  secara teknis menggunakan sistem bagi hasil atau dalam budaya ekonomi Aceh dikenal dengan sistem mawah.  Dengan pola ini, semakin efektif mendorong tumbuhnya ekonomi sektor riil.  “Kita ketahui masyarakat Aceh sekitar  72% adalah petani,” kata Juanda.

Menurut Juanda, yang juga anggota Komisi V DPRK Aceh Besar, program ini adalah langkah efektif mengisi kevakuman pasar setelah konflik dan bencana tsunami. Dampaknya, ketergantungan terhadap produk-produk luar secara perlahan dapat dialihkan kembali pada hasil pertanian masyarakat Aceh sendiri.

“Jadi, kalau kita ingin Aceh maju, maka kembangkan sektor riil. Ubahlah ekonomi Aceh karena perubahan ekonomi mengubah budaya,” kata Juanda.

Peserta lainnya, Khalid Wardana mengatakan, program AWC sangat bagus dalam rangka pemberdayaan ekonomi umat. Mudah mudahan menjadi percontohan dalam menggerakkan wakaf produktif, katanya.

Khalid menambahkan, petermakan wakaf domba perlu didukung dan mendapat perhatian semua pihak.  Ini upaya membuka lapangan kerja. “Kita patut gerakkan sektor peternakan dengan memanfaatkan lahan yang terbengkalai,” katanya.

Sekilas AWC 

AWC didirikan dalam bentuk konsorsium oleh Global Wakaf Corporation, Yayasan Wakaf Barbate Islamic City, Baitul Mal Barbate, Yayasan Kuttab Al Fatih Dzunnurain dan Koperasi Sie Breuh. Konsorsium ini membentuk anak usaha wakaf produktif AWC dijalankan oleh Presiden Direktur, Husaini Ismail, Direktur Operasional Samsul Bahri dan Direktur Keuangan Irwan Faisal. 

Visi AWC tahun 2025: mengelola total aset Rp 1 triliun; memberikan manfaat dengan menyerap 1.000.000 tenaga kerja; dan menyalurkan sedekah kepada 1.000.000 beneficiaries. 

Sementara misinya adalah: membangun dan memakmurkan Aceh dengan wakaf; dan mengelola, menjaga pokok dan mengembangkan aset dan dana wakaf secara profesional, hati-hati, amanah, berkelanjutan dan sesuai syariah.

Adapun tujuan pengelolaan harta wakaf untuk meningkatkan perekonomian umat melalui sumber dana umat yang halal dan dapat mensejahterakan masyarakat, tanpa terikat dengan unsur riba. (Zulfikar)

Editor: smh

SHARE :
 
Top