lamurionline.com -- IBNU RAJAB pernah bercerita tentang seorang ahli ibadah yang sedang berada di Makkah. Dia kehabisan bekal dan kelaparan.

Tubuhnya limbung Ketika sedang berjalan di salah satu gang di kota Makkah dia mendapatkan sebuah kalung yang sangat mahal harganya. Diambilnyalah kalung itu dan dimasukkannya ke dalam saku, lalu pergi ke Masjidil Haram. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengumunmkan bahwa dirinya telah kehilangan kalung.

Orang yang kehilangan kalung itu menjelaskan bagaimana bentuk kalung yang hilang itu. Ternyata semua keterangan yang dia sampaikan mengacu kepada kalung yang ditemukan orang tersebut.

“Saya berikan kalung itu kepadanya namun dengan syarat memberikan imbalan kepada saya, kata orang yang menemukan itu. “Kalung itu pun diambilnya, dan pergi begitu saja tanpa ucapan terima kasih, atau dengan memberikan satu dirham, sepatah kata, maupun dengan memberikan apa saja. Ya Allah aku biarkan semua itu untuk-Mu, maka gantilah untukku sesuatu yang lebih baik darinya.”

Kemudian dia pergi ke laut, dan menumpang sebuah perahu. Setelah di laut, tiba-tiba angin bertiup kencang sekali, dan perahu yang ditumpanginya itu pun karam. Akhirya dia mengapung-apung di atas air dengan sebatang kayu yang dimainkan angin ke kiri dan ke kanan hingga akhirnya terdampar di sebuah pulau, hingga dia turun ke daratan.

Di pulau itu dia mendapatkan sebuah masjid dan orang-orang yang sedang melakukan shalat. Dia pun kemudian ikut shalat bersama mereka.

Di masjid itu ia menemukan lembaran-lembaran kertas yang setelah dibacanya termyata ayat ayat Al-Qur an. Salah seorang dari mereka bertanya kepadanya, “Apakah Anda sedang membaca Al-Qur an?” Jawabnya, “Ya.”

Kemudian penduduk pulau itu berkata, “Ajarilah anak-anak kami Al-Qur an.”

Dia pun setuju untuk mengajarkan Al-Qur an kepada mereka dengan dibayar. Kemudian dia menuliskan tulisan Arab, dan orang itu pun bertanya lagi, “Apakah Anda bisa mengajari anak-anak kami tulis-menulis” Jawabnya, “Ya.”

Maka dia pun nengajari anak-anak mereka dengan menerima bayaran. Orang-orang di pulau itu kemudian bercerita bahwa di tempat itu ada seorang perempuan yatim, anak dari seseorang yang sangat baik. Kini orang uanya meninggal dunia.

“Apakah Anda mau menikahinya!” tanya orang itu kemudian. Dia menjawab, “Tidak apa-apa.” Dan, dia pun akhirnya menikah dengan perempuan yatim tersebut.

Ketika masuk ke kamarnya, di ini?” Si istri itu pun kemudian bercerita. Dalam cerita itu disebutkan bahwa pertama, dia melihat kalung yang pernah dia temukan itu melingkar di leher istri itu. Maka ia pun bertanya, “Bagaimana kisah tentang kalung ayahnya suatu waktu pernah menghilangkannya di Makkah.”

Kata si ayah kepada istrinya, kalung ini ditemukan seorang laki-laki yang kemudian diserahkan begitu saja kepadanya. Sepulang dari Makkah, si ayah selalu berdoa dalam sujudnya semoga Allah mengaruniakan suami buat anak perempuannya seperti laki-laki yang menemukan kalung itu. Di akhir ceritanya, sang suami itu akhirnya menjawab, “Sayalah laki-laki itu.”

Sekarang kalung itu berada di sisi laki-laki itu dengan status halal, sebab dia telah meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah pun menggantikannya dengan yang lebih baik. Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik….”.[HR: Muslim].*/Dr Aidh al-Qarni, dalam La Tahzan (Hidcom)

SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top