Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Menapaki Jejak Rasulullah Dan Sahabat


Ketika prosesi hijrah ke Madinah, Asma binti Abu Bakar dalam keadaan hamil tua. Meskipun demikian ia tetap bersemangat membantu jalannya hijrah Rasulullah dan ayahnya Abu Bakar yang bersembunyi di gua Tsur. Ketika malam tiba, ia mengendap-ngendap, menaiki bukit-bukit tinggi, menuruni lembah yang curam dan berjalan di tanah yang tidak rata. Atas izin suaminya Az-Zubair, ia mengantarkan makanan kepada Rasulullah dan ayahnya seorang diri agar tidak dicurigai kaum kafir Quraisy.                 

Setelah Rasul dan Abu Bakar sampai di Madinah dengan selamat dari kejaran kaum kafir Quraisy, maka Asma dan suaminya Az-Zubair disertai rombongan keluarga menyusul rombongan berhijrah. Perjalanan panjang yang melelahkan. Sejak dalam kandungan, janin Asma sudah ikut merasakan getirnya perjuangan dan lelahnya pengorbanan. Sang bayi telah terdidik kuat, tegar, dan  manisnya nikmat iman dan Islam sehingga  terbentuk jiwa yang taat dan zuhud.    

Dalam bukunya Biografi 60 Sahabat Nabi Saw, Khalid Muhammad Khalid menyebutkan, waktu sampai di Madinah tepatnya di Quba, jabang bayi Asma minta dilahirkan. Inilah bayi pertama lahir pada priode Madinah. Setelah lahir, sang bayi dibawa kepada Rasulullah saw. Beliau meletakkan sang bayi  dipangkuannya, mencium pipi dan mengecup bibirnya. Sehingga yang pertama sekali masuk ke dalam rongga perut si bayi adalah air ludah baginda yang mulia, lalu Rasulullah saw memberikan nama Abdullah.  

Dengan penuh kebahagiaan, kaum muslimin membawa bayi Asma berkeliling kota Mekah sambil bertakbir dan bertahlil. Itu dilakukan untuk membuktikan kebohongan sihir kaum kafir Quraisy yang menyebarkan berita bahwa dukun-dukun mereka telah menyihir kaum muslimin agar menjadi mandul. Sehingga mereka tidak dapat meneruskan keturunan sampai di Madinah sebagai generasi Islam. Dengan begitu, tentu akan menolak kedustaan dan mematahkan tipu daya orang-orang musyrik.   

Abdullah kecil tumbuh dengan cepat menjadi seorang anak yang cerdas, gagah, dan pemberani. Sejak dini ia telah mendapatkan keberkahan dari Rasulullah saw. Si kecil yang ulet ini mulai menampakkan keunggulan, kehebatan, dan keperkasaannya di bawah keakraban dengan Rasulullah saw. Namun sayang, ketika masih  kanak-kanak, ia harus kehilangan sosok ikonnya yang sangat dibanggakannya. Wafatnya Rasulullah saw  meninggalkan kesedihan mendalam baginya meskipun ia masih kecil. 

Abdullah bin Az-Zubair tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Masa mudanya yang suci tanpa noda sebagai modal utama dalam  menyongsong masa depan yang gemilang. Menjadi sosok yang dibanggakan oleh segenap kaum muslimin. Ia pemuda yang bertekad sekeras baja dan keimanan yang kuat sekokoh batu karang.  

Menurut Khalid Muhammad Khalid, ketika terjadinya penaklukan Afrika, Andalusia, dan Konstantinopel, Abdullah masih berumur tujuh belas tahun. Akan tetapi, ia sudah berani tampil sebagai salah seorang prajurit yang terukir dalam sejarah. Kekuatan kaum muslimin yang hanya  berjumlah 20 ribu personil akan menghadapi musuh dengan jumlah 120 ribu orang. Secara logika tentu tak seimbang, namun tidak  ada yang mustahil jika Allah menghendaki.

Saat pertempuran  berlangsung hebat, pasukan Islam terancam bahaya besar. Pemuda perkasa ini mengamati sumber kekuatan musuh yang ternyata terletak pada raja Barbar sebagai panglima perang untuk tentaranya sendiri. Sang raja selalu memberi dan membangkitkan semangat tentaranya hingga mereka tak takut mati. Kaum muslimin tentu tidak akan sanggup menaklukkannya. 

Abdullah bin Az-Zubair berpikir bagaimana cara meruntuhkan kekuatan lawan. Menurutnya, tidak ada jalan yang lebih meyakinkan selain mematikan panglima perang mereka. Ia mencari akal bagaimana cara untuk menemuinya, sedangkan penghalang sangat kuat dan kokoh. Akan tetapi, ia tidak mau berpikir lama-lama tanpa bertindak. Dengan nekat membaja, ia mengajak rekan-rekannya sambil berkata, "Lindungi aku dari belakang dan mari menyerbu bersamaku." Secepat kilat mereka bergerak dan bertindak. 

Abdullah dan rekan-rekannya melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka membelah barisan yang berlapis-lapis menuju panglima Barbar. Ketika sampai di hadapan raja, Abdullah tidak memberi kesempatan walau sedikit. Pemuda pemberani ini  langsung memukul kepala raja Barbar hingga jatuh  tersungkur. Kemudian pasukan Islam langsung mengepung tentara Barbar yang berada di sekeliling raja sampai kocar kacir. Bendera kemenangan sudah berkibar di tempat panglima Barbar berada. Dengan bergegas, tentara Islam mengatur siasat penyerangan. Secara serentak mereka menyerbu sambil bertakbir hingga  meraih puncak kemenangan.

Khalid menulis, Abdullah bin Abu Sarah selaku panglima Islam yang mengetahui peran penting Abdullah bin Az-Zubair,  meminta agar menyampaikan kabar gembira ini kepada khalifah Utsman bin Affan di Madinah. Khalifah dan kaum muslimin berbangga dengan keberanian dan kehebatan pemuda balia Abdullah bin Az-Zubair. 

Meskipun keunggulan dan kesatria di bagian perang tak dapat diremehkan, namun keunggulan beribadah juga tak ketinggalan. Pemuda saleh ini seorang ahli ibadah yang ditekuninya sejak Rasulullah saw masih hidup. Ia terus mendalami ilmu-ilmu agama sambil menjalankan wasiat-wasiat yang disampaikan Rasulullah saw. 

Kehebatan, keperkasaan, dan  keberanian Abdullah bin Az-Zubair dapat dijadikan  motivasi khususnya kepada para pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Di pundak mereka terletak masa depan agama, bangsa, dan negara. Mari singsingkan lengan baju membela kebanaran dan keadilan. Tingkatkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam ukhuwah islamiyah. Semoga Allah mudahkan urusan kita.

SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top