Pakar sejarah Likok Pulo Generasi Ke - 5, Syekh Biet. Foto : MC Aceh Besar

lamurionline.com -- KOTA JANTHO - Pakar sejarah Likok Pulo Generasi Ke - 5, Syekh Biet (54) menjadi pembicara dalam Lokakarya tata kelola Festival Piasan Aceh Rayeuk di Aula Dekranasda, Gani, ingin Jaya, Selasa (22/8/2023). 

Pada kesempatan tersebut Syekh Biet menunjukkan catatannya terkait Likok Pulo yang dapat menjadi tujuan referensi bagi masyarakat Aceh khususnya. 

"Saya membawa catatan ini, yang saya tulis sendiri sebagai referensi dasar falsafah Likok Pulo," ujarnya. 

Berbagai kumunitas seni dan konten kreator mengikuti Lokakarya tersebut dalam rangka untuk mengenal lebih dalam seni dn budaya Likok Pulo. 

Pelaku seni Aceh Besar Cek Medya Hus turut memberikan motivasi dan pengalaman dalam lokakarya tersebut. Dalam kesempatan tersebut dijelaskan bagaimana memulai penyebaran konten promosi terkait Likok Pulo melalui media sosial. 

"Masyarakat muda khususnya masih minum informasi tentang seni asli Aceh Besar Likok Pulo, sehingga perlu untuk diberikan informasi kembali lewat medsos," katanya. 

Ia merasakan perlu diangkatnya Likok Pulo dalam Lokakarya Indonesiana ini, karena Likok Pulo masih merasa tersisihkan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. "Untuk membumikan kembali perlu dukungan dan partisipasi semua pihak, untuk menjaga seni dan budaya Aceh Besar," ujar Cek Medya Hus. 

Peserta Lokakarya Herman Hilmy mengatakan Likok Pulo memang telah terdaftar menjadi Warisan Budaya Tak Benda Aceh Besar sejak 2006 lalu, namun pengenalan secara kental perlu terus disampaikan kepada nak muda saat ini

"Karena seni Tarian Aceh Likok Pulo sejatinya memiliki makna yang tersirat dalam setiap gerakannya, barangkali pesan moral dan tata krama kehidupan, serta adat istiadat masyarakat Aceh," jelasnya.(Cek Man)

SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top