Oleh: Ust. H. Mursalin Basyah, Lc., MA

Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala atas segala limpahan rahmat, karunia, dan nikmat-Nya yang tak terhingga. Tak terhitung jumlahnya nikmat yang telah Allah berikan, sebagaimana firman-Nya: "Wa ta'uddu ni'matallah lā tuḥṣūhā" (Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya). Salawat beriring salam juga kita sampaikan kepada Baginda Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wasallam, kepada seluruh keluarga, dan sahabat-sahabat beliau sekalian.

Adab Interaksi 

Salah satu nikmat besar pada subuh ini adalah kesempatan untuk menikmati salat Subuh berjemaah. Dalam salat Subuh tersebut, imam membacakan beberapa ayat yang mengandung pelajaran mendalam, khususnya mengenai adab interaksi dan menjaga kehormatan.

Aturan Bertamu 

Ayat-ayat yang dibacakan pada rakaat pertama berkaitan dengan interaksi para sahabat Nabi dengan istri-istri Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wasallam. Interaksi ini diatur dengan indah dan detail dalam Al-Qur'an:

Pertama, meminta izin. Siapapun yang datang ke rumah Rasulullah harus melalui proses meminta izin terlebih dahulu. Aturan ini, pada dasarnya, berlaku untuk semua rumah. Seseorang tidak boleh langsung masuk tanpa izin.

Kedua, salam. Adab meminta izin dilakukan dengan mengucapkan salam maksimal tiga kali dengan jeda. Jika tidak ada jawaban setelah tiga kali salam, maka hendaknya kembali dan jangan berprasangka buruk.

Ketiga, batas interaksi. Khusus untuk istri-istri Nabi -- dan ini juga penting bagi setiap wanita di rumah interaksi dengan orang yang bukan mahram harus dilakukan "min warā'i ḥijāb" (dari balik tabir atau dinding). Hal ini bertujuan untuk menjaga hati, baik bagi laki-laki maupun perempuan, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat: "...żālikum aṭharu liqulūbikum wa qulūbihinna" (yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka).


Keempat, usulan Umar bin Khaṭṭāb. Diriwayatkan bahwa ayat tentang keharusan berinteraksi dari balik tabir ini turun atas usulan Umar bin Khaṭṭāb raḍiyallāhu ta'ālā 'anhu. Beliau merasa bahwa interaksi langsung kurang pantas dan mengusulkannya kepada Nabi, yang kemudian dikuatkan dengan turunnya wahyu.


Kelima, menyentuh dan berpandangan. Menjaga adab juga termasuk menghindari sentuhan langsung dan berpandangan yang dapat menimbulkan fitnah. Dalam lingkungan kerja atau pendidikan, di mana interaksi tidak bisa dihindari, batas-batas ini harus tetap dijaga. Bahkan dalam fikih, hukum perempuan belajar atau berobat pada laki-laki pada dasarnya tidak boleh, kecuali dalam kondisi darurat (tidak ada yang kompeten dari kalangan perempuan).

Kewajiban Berselawat 

Pada rakaat kedua, imam membacakan ayat tentang selawat kepada Nabi ṣallallāhu 'alaihi wasallam:

Artinya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Penggunaan kata kerja yuṣallūna (fi'il muḍāri') menunjukkan kontinuitas selawat Allah (berupa rahmat) dan malaikat (berupa doa) kepada Nabi.

Karena Allah dan para malaikat berselawat, maka orang-orang beriman diperintahkan dengan fi'il amar (kata kerja perintah), "ṣallū" (berselawatlah), untuk melakukan hal yang sama sebagai bentuk cinta, penghormatan, dan rasa syukur atas jasa beliau.

Selawat menjadi wasilah besar dalam doa. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, selawat dapat dijadikan sebagian besar, bahkan seluruh doa. Doa yang diawali dan diakhiri dengan pujian (tahmid) dan selawat akan diterima oleh Allah, sehingga doa di tengah-tengahnya juga akan dikabulkan. Selawat adalah wasilah untuk mempermudah terkabulnya hajat dan mencapai kemuliaan.

Amanah Manusia 

Ayat-ayat yang dibaca kemudian menyentuh dua hal utama: takwa dan perkataan yang benar serta amanah manusia di alam semesta.

Taqwa dan Perkataan yang Benar

Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.

Perintah untuk "bertaqwa" (takut kepada Allah) dipadukan dengan perintah untuk mengucapkan "qaulan sadīdā" (perkataan yang benar, lurus, tepat, dan tidak menimbulkan kerusakan). Perkataan yang benar adalah cerminan dari hati yang bersih dan merupakan alat yang ampuh untuk menyebar kebaikan dan mencegah keburukan.

Amanah Pengelolaan Alam

Ayat berikutnya menyinggung tentang amanah yang ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, namun ditolak, dan kemudian dipikul oleh manusia:

Pertama, penawaran amanah. Amanah mengelola alam semesta ini awalnya ditawarkan kepada langit dan bumi (fa abaina an yaḥmilnahā)—yang dalam tafsir tidak diartikan sebagai menolak, melainkan tidak memiliki potensi esensial untuk mengelolanya.

Kedua, penerimaan manusia. Amanah itu kemudian dipikul oleh manusia (wa ḥamalahal-insān), meskipun pada dasarnya manusia bersifat "ẓalūman jahūlā" (amat zalim dan amat bodoh).

Ketiga, potensi perubahan. Karakter zalim dan bodoh pada manusia ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi untuk jatuh ke dalamnya, namun juga memiliki potensi untuk berubah menjadi lebih baik, bagaikan malaikat, melalui pendidikan dan kesadaran.

Keempat, tanggung jawab. Amanah ini menuntut manusia untuk menjaga alam dan tidak membuat kerusakan. Bentuk paling dasar adalah menjaga kebersihan dan ketenangan (menghindari kebisingan yang mengganggu). Bentuk lain adalah menebarkan kedamaian (salam) dan menjaga keadilan di antara sesama.

Cinta kepada Fakir Miskin

Akhirnya, dalam doa qunut, kita memohon agar Allah memasukkan dalam hati kita "ḥubbul masākīn" (cinta kepada orang-orang fakir miskin), yang merupakan salah satu puncak keimanan. Wujud dari cinta ini adalah dengan membantu mereka mendapatkan tempat tinggal yang layak. Memberikan tempat tinggal yang layak kepada mereka yang membutuhkan, selain merupakan amal kebaikan di dunia, juga diharapkan dapat membangunkan istana bagi pelakunya di Surga, āmiin yā Rabbal 'ālamīn.

(Disarikan dari ceramah shubuh Jamaah BBC di Masjid Jami’ Al Hidayah, Gampong Peurada, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, 28 September 2025, dengan imam shalat Ustazs Muzakkir Abdurrahman, S.Pd.I)

SHARE :

0 facebook:

 
Top