LAMURIONLINE.COM I BANDA ACEH - Salah satu hasil nyata dari perjanjian damai Aceh pasca-MoU Helsinki tahun 2005 adalah lahirnya partai lokal di Aceh, yang memungkinkan masyarakat menyalurkan aspirasi politik secara lebih langsung.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USK, Dr. Mahdi Syahbandir, S.H, M.Hum, menyampaikan pandangan tersebut saat Universitas Syiah Kuala (USK) menerima kunjungan delegasi Kedutaan Besar (Kedubes) Selandia Baru untuk Indonesia yang dipimpin oleh Deputy Head of Mission, Dr. Giselle Larcombe.
Kehadiran delegasi disambut langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik USK, Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Sc di Ruang Mini Rektor USK. Banda Aceh, Selasa, (23/9/2025).
Menurut Mahdi Syahbandir, Gubernur Aceh merupakan mantan Panglima GAM, sehingga mampu menjaga stabilitas dan meredam potensi gejolak.
Selain itu, ungkapnya, Aceh juga memiliki lembaga khusus seperti Dinas Syariat Islam dan Badan Pengelola Zakat Baitul Mal, serta memperoleh dana Otonomi Khusus sebesar 1 persen dari APBN.
“Kini muncul aspirasi agar dana tersebut ditingkatkan menjadi 2 persen dan bersifat permanen,” ungkap Mahdi.
Kunjungan kunjungan delegasi Kedutaan Besar (Kedubes) Selandia Baru menjadi momen penting karena bertepatan dengan 20 tahun penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki, yang menandai berakhirnya konflik dan lahirnya perdamaian di Aceh.
Dalam sambutannya, Dr. Larcombe menyampaikan, tujuan kunjungan ini untuk memahami lebih dekat perkembangan politik, sosial, dan ekonomi Aceh pasca-MoU Helsinki. Selain itu, pihaknya juga menjajaki peluang kerja sama, khususnya dalam bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi perempuan, energi terbarukan, dan pertanian.
“Kami bersyukur dapat berkunjung ke USK dan tidak sabar melihat situs budaya Aceh. Kami ingin menyaksikan secara langsung bagaimana pembangunan sosial dan ekonomi berjalan setelah dua dekade perdamaian,” ujar Dr. Larcombe.
Sementara itu, Prof. Agussabti menyampaikan penghargaan atas kunjungan tersebut. Menurutnya, kunjungan ini memiliki makna khusus karena merupakan kunjungan pertama Kedubes Selandia Baru ke USK sejak tahun 2018.
Ia juga menjelaskan, meskipun USK belum memiliki kerjasama akademik formal dengan universitas di Selandia Baru, beberapa dosen USK merupakan alumni dari institusi pendidikan di negara tersebut. Hal ini, menurutnya, menjadi penghubung nyata antara kedua komunitas.
“Kami berharap kunjungan ini dapat membuka jalan bagi dialog lebih lanjut, tidak hanya dalam kerja sama akademik, tetapi juga dalam pertukaran pengetahuan dan perspektif yang lebih luas, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan di Aceh,” tambahnya.
Kunjungan ini menandai momentum penting bagi USK untuk memperkuat hubungan internasional, sekaligus membuka peluang kolaborasi baru dengan Selandia Baru dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pengembangan sumber daya manusia di Aceh. (Sayed M. Husen/*)

0 facebook:
Post a Comment