Oleh : Hj. Supiati, S. Ag. M. Sos
Pada suatu malam yang sunyi, Nabi Muhammad ﷺ menembus batas ruang dan waktu. Dari bumi yang penuh luka, beliau diangkat ke langit untuk menerima perintah suci: shalat. Peristiwa Israk Mikraj bukan sekadar kisah agung tentang perjalanan ruhani, melainkan simbol dialog antara langit yang memanggil dan bumi yang menunggu perubahan manusia.Hari ini, berabad-abad setelah peristiwa itu, langit kembali “berbicara” kepada manusia. Namun pesannya berbeda. Bukan melalui wahyu, melainkan melalui hujan ekstrem, banjir bandang, tanah longsor, dan badai yang kian sering. Bencana hidrometeorologi seakan menjadi bahasa alam—keras, berulang, dan sulit diabaikan.
Pertanyaannya: apakah manusia masih mampu membaca pesan langit dan bumi secara bersamaan?
Mikraj: Kenaikan Spiritual, Bukan Pelarian Sosial
Israk Mikraj sering dipahami sebagai peristiwa spiritual yang “meninggikan” manusia. Tetapi makna terdalamnya justru terletak pada satu fakta penting: Nabi kembali ke bumi. Mikraj tidak menjadikan beliau menetap di langit, melainkan kembali untuk membimbing manusia menghadapi realitas hidup.
Inilah pelajaran mendasarnya:
spiritualitas sejati tidak menjauh dari masalah dunia, tetapi memberi kekuatan untuk menata dunia.
Perintah shalat yang diterima dalam Mikraj bukan ritual kosong, melainkan latihan kedisiplinan moral, kesadaran waktu, keteraturan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini seharusnya tercermin dalam cara manusia mengelola kehidupan—termasuk mengelola alam.
Bencana Hidrometeorologi: Fenomena Alam atau Cermin Perilaku?
Secara ilmiah, bencana hidrometeorologi berkaitan dengan faktor cuaca dan iklim: curah hujan tinggi, perubahan pola angin, dan pemanasan global. Namun ilmu kebencanaan juga menegaskan satu hal krusial:
Bencana menjadi besar karena kerentanan manusia.
Hutan yang gundul, sungai yang menyempit oleh sampah, tata kota yang menutup daerah resapan air, serta kesadaran mitigasi yang rendah—semua ini memperparah dampak hujan yang sejatinya adalah rahmat.
Di sinilah perspektif keimanan dan ilmu bertemu. Al-Qur’an mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini bukan ancaman teologis semata, melainkan diagnosis sosial-ekologis. Kerusakan alam adalah konsekuensi dari kegagalan manusia menjalankan peran sebagai khalifah di bumi.
Langit Tidak Selalu Menghukum, Bumi Sering Mengingatkan
Dalam pendekatan penyuluhan, penting ditegaskan bahwa tidak setiap bencana adalah “murka Tuhan”. Islam mengajarkan kehati-hatian dalam menilai musibah. Namun bencana selalu mengandung pesan pembelajaran.
Jika Mikraj adalah peristiwa kenaikan kualitas iman, maka bencana hidrometeorologi adalah ujian kualitas akhlak kolektif:
• Apakah manusia adil terhadap alam?
• Apakah kebijakan publik berpihak pada keselamatan jangka panjang?
• Apakah solidaritas sosial hidup saat musibah datang?
Bencana menjadi cermin: bukan hanya tentang hujan yang turun, tetapi tentang nilai yang runtuh.
Dari Renungan ke Gerakan: Mikraj sebagai Etika Aksi
Esai ini tidak berhenti pada refleksi. Dalam konteks penyuluhan, Israk Mikraj harus diterjemahkan menjadi etika tindakan nyata, antara lain:
1. Spiritualitas yang Membumi
Ibadah harus melahirkan kepedulian ekologis, disiplin sosial, dan empati terhadap korban bencana.
2. Literasi Kebencanaan sebagai Ibadah Sosial
Edukasi mitigasi, kesiapsiagaan, dan peringatan dini adalah bagian dari menjaga nyawa—dan itu bernilai ibadah.
3. Akhlak Lingkungan
Menjaga sungai, hutan, dan ruang hidup bukan isu teknis semata, tetapi manifestasi amanah keimanan.
4. Solidaritas sebagai Ukurannya Iman
Saat bencana datang, iman tidak diukur dari banyaknya komentar, tetapi dari hadirnya bantuan, doa, dan keberpihakan.
Antara Naik ke Langit dan Bertanggung Jawab di Bumi
Israk Mikraj mengajarkan bahwa manusia bisa naik secara spiritual, tetapi tetap harus turun untuk membenahi dunia. Bencana hidrometeorologi mengingatkan bahwa bumi tidak akan menunggu kesadaran manusia terlalu lama.
Maka, di antara langit yang memanggil dan bumi yang menegur, manusia diberi pilihan:
menjadi hamba yang hanya pandai berdoa, atau khalifah yang berani bertindak.
Dan mungkin, di situlah letak makna Mikraj yang paling relevan hari ini:
“menaikkan kualitas iman, agar mampu menurunkan kualitas bencana.”

0 facebook:
Post a Comment