Oleh: Dr. Tgk. H. A. Mufakhir Muhammad, MA
Penceramah Masjid Raya Baiturrahman
Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, membawa rahmat, peringatan, serta pembeda antara yang hak dan yang batil. Dalam ayat-ayat-Nya, Allah Subhanahu wa Ta‘ala mengingatkan manusia agar merenungi nikmat-Nya, menjaga akhlak, dan tidak terjerumus ke dalam kezaliman dan kemaksiatan yang mengundang murka-Nya.
Allah menyebut Al-Qur’an sebagai pembeda, diturunkan pada malam yang penuh keberkahan. Pada malam itu pula ditetapkan segala urusan yang penuh hikmah. Ini menandakan, wahyu bukan sekadar bacaan, melainkan pedoman hidup yang mengatur arah perilaku manusia, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama.
Salah satu pelajaran penting yang diangkat Al-Qur’an tentang rasa syukur. Allah mengingatkan manusia agar tidak kufur terhadap nikmat yang telah dianugerahkan. Kota Makkah, misalnya, dijadikan sebagai tanah haram yang aman dan tenteram, menjadi pusat perdagangan, perjalanan, dan peribadatan.
Namun, banyak penduduknya justru mengingkari nikmat tersebut dengan tetap mempercayai kebatilan dan melakukan berbagai bentuk kezaliman. Mereka menikmati keamanan, tetapi enggan bersyukur dan tunduk kepada perintah Allah.
Fenomena ini memiliki kesamaan dengan umat-umat terdahulu, salah satunya kaum Nabi Luth ‘alaihissalam. Kaum ini dikenal sebagai pelaku kejahatan moral yang sangat berat. Mereka melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan umat sebelumnya, yakni hubungan sesama jenis. Selain itu, mereka juga gemar membegal, merampok, membunuh di jalan-jalan, dan melakukan kemungkaran secara terang-terangan di tempat umum tanpa rasa malu.
Nabi Luth berdakwah dengan penuh kesabaran dan kesedihan, mengajak kaumnya agar meninggalkan tiga kejahatan besar tersebut: penyimpangan seksual, perampasan hak dan nyawa manusia, serta kemaksiatan yang dipertontonkan secara terbuka. Alih-alih bertaubat, kaumnya justru menantang Nabi Luth agar mendatangkan azab Allah jika ia benar seorang rasul.
Doa Nabi Luth bukanlah permintaan agar azab segera diturunkan, melainkan permohonan agar Allah menolongnya dari kaum yang rusak. Allah mengabulkan doa itu dengan mengutus para malaikat, yang terlebih dahulu singgah ke rumah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, membawa kabar gembira dan sekaligus ketetapan tentang kehancuran kaum zalim. Nabi Luth dan orang-orang beriman diselamatkan, sementara kaum yang membangkang dibinasakan, termasuk istri Nabi Luth yang turut mendukung kemungkaran.
Kisah ini menjadi cermin bagi umat manusia sepanjang zaman. Kezaliman, penyimpangan akhlak, dan sikap menentang kebenaran akan selalu berujung pada kehancuran, baik cepat maupun lambat. Sebaliknya, ketaatan, rasa syukur, dan kesantunan adalah jalan keselamatan.
Pelajaran akhlak juga dapat dipetik dari realitas kehidupan masa kini. Tidak jarang orang-orang yang belum memeluk Islam justru menunjukkan sikap hormat terhadap nilai-nilai kesopanan dan aturan tempat ibadah. Mereka berpakaian rapi, menjaga sikap, menghormati adat, serta syariat ketika berada di lingkungan masjid. Hal ini seharusnya menjadi cambuk bagi kaum Muslimin agar tidak mengabaikan ajaran Islam yang telah lama dianut, khususnya dalam menjaga aurat, perilaku, dan etika di ruang publik.
Al-Qur’an mengingatkan, “Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” Ayat ini mengajak setiap Muslim untuk tidak sekadar membaca, tetapi juga merenungi dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak yang baik bukan hanya tuntutan agama, tetapi juga wajah Islam yang dilihat dan dinilai oleh dunia.
Semoga kisah-kisah dalam Al-Qur’an dan realitas yang kita saksikan menjadi pelajaran berharga, menumbuhkan kesadaran untuk hidup dengan akhlak mulia, bersyukur atas nikmat Allah, dan menjauhi segala bentuk kemungkaran. Mudah-mudahan Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, cahaya dalam hidup kita, dan mengaruniakan husnul khatimah. Amin.*

0 facebook:
Post a Comment