Oleh: Syahrati, S.HI., M.Si
Penyuluh Agama Islam Kemenag
Sejarah sering kali tidak adil kepada orang-orang jujur. Banyak nama besar dalam perjalanan bangsa ini perlahan memudar, bukan karena jasanya kecil, melainkan karena keteladanannya terlalu lurus untuk zaman yang gemar pada kekuasaan.Salah satu di antaranya adalah Tgk H Nashiruddin Daud, ulama, imam masjid, politisi, serta wakil rakyat yang menjalani hidup dengan sederhana, bersih, dan konsisten hingga akhir hayatnya yang tragis.
Di kalangan masyarakat Aceh, khususnya Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), beliau dikenal dengan panggilan Tgk Nash atau Abu Nash. Sebutan ini bukan sekadar panggilan akrab, melainkan bentuk penghormatan yang mencerminkan kedudukannya sebagai figur ayah, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi umat yang mengenalnya sebagai tempat bertanya dan bersandar.
Ulama Dayah yang Tumbuh dari Tradisi Ilmu
Tgk H Nashiruddin Daud lahir pada 31 Desember 1942 di Padang Kelileu, Manggeng, Aceh Selatan, yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Barat Daya. Sejak kecil, beliau tumbuh dalam keluarga yang kuat memegang nilai-nilai Islam dan menjadikan pendidikan agama sebagai fondasi utama kehidupan.
Setelah menamatkan Sekolah Rakyat pada tahun 1958, beliau melanjutkan pendidikan agama di Dayah Darussalam Labuhan Haji, salah satu pusat keilmuan Islam paling berpengaruh di Aceh.
Selama hampir satu dekade, dari tahun 1958 hingga 1967, Tgk Nash menimba ilmu langsung dari para ulama besar, termasuk Syekh Muda Waly al-Khalidy. Beliau berada dalam lingkungan keilmuan yang melahirkan banyak ulama Aceh.
Di kalangan santri, Tgk Nash dikenal cerdas, tenang, dan tajam dalam diskusi. Beliau bukan hanya penghafal teks, tetapi pemikir yang memahami ruh ilmu dan mampu menempatkan dalil secara tepat dalam setiap persoalan.
Hijrah ke Banda Aceh dan Dakwah Tanpa Dayah
Tahun 1971 menjadi titik penting dalam hidupnya. Tgk Nash hijrah ke Banda Aceh dan menetap di kawasan Kuta Alam. Di sinilah perannya sebagai ulama semakin luas. Beliau dipercaya menjadi Imam Chik Masjid Baitul ‘Allam dan mengemban amanah tersebut selama kurang lebih dua puluh tujuh tahun, hingga akhir hayatnya.
Berbeda dengan kebanyakan ulama besar Aceh, Tgk Nash tidak memiliki dayah. Namun justru disitulah keistimewaannya. Masjid dan rumahnya menjadi pusat ilmu dan pembinaan umat. Halaqah-halaqah pengajian fiqh dan tasawuf yang diasuhnya, dengan rujukan kitab-kitab besar seperti I’anah al-Thalibin, Tuhfatul Muhtaj, dan Ihya’ Ulumuddin, membentuk karakter masyarakat yang santun, religius, dan berpikir kritis. Jamaahnya datang dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan mahasiswa. Ilmunya dalam, penyampaiannya menenangkan.
Selain berdakwah melalui mimbar, Tgk Nash juga berdakwah melalui tulisan. Pada tahun 1976, beliau aktif menulis di surat kabar Peristiwa. Baginya, pena adalah bagian dari tanggung jawab intelektual untuk menyampaikan kebenaran dan keadilan, melengkapi dakwah yang disampaikan melalui lisan.
Politik sebagai Jalan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Keterlibatan Tgk Nash dalam dunia politik bukanlah lahir dari ambisi, melainkan kesadaran. Beliau meyakini bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak cukup dilakukan secara kultural, tetapi juga perlu diperjuangkan melalui jalur struktural. Prinsip inilah yang membawanya aktif di PERTI, lalu Partai Persatuan Pembangunan sejak awal fusi partai-partai Islam.
Tgk Nas pernah menjadi anggota DPRD Kota Banda Aceh periode 1982 hingga 1987 dan dikenal sebagai politisi yang vokal, kritis, dan tidak kompromi terhadap kebijakan yang zalim. Sikapnya yang tegas terhadap pornografi, ketidakadilan, dan penyimpangan kekuasaan membuatnya kerap berhadapan dengan aparat, bahkan pernah jadi tahanan politik.
Keberaniannya mengkritik pemerintah Orde Baru menjadikannya sosok yang tidak disukai penguasa. Beliau difitnah, disingkirkan secara politik, bahkan pernah dituduh terlibat PKI, sebuah tuduhan yang sama sekali tidak masuk akal terhadap seorang ulama yang hidupnya diabdikan untuk Islam. Namun waktu membuktikan bahwa kejujuran tidak pernah benar-benar kalah.
Wakil Rakyat Miskin
Pada Pemilu 1999, rakyat kembali mempercayai Tgk Nash sebagai wakil mereka. Beliau terpilih sebagai anggota DPR RI dari PPP, menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi PPP, dan terlibat dalam Panitia Khusus Aceh DPR RI yang menyelidiki berbagai pelanggaran HAM pada masa DOM. Di Senayan, beliau tetap menjadi dirinya sendiri, berani bersuara dan tidak segan menginterupsi seorang purnawirawan jenderal yang dinilainya tidak jujur dalam menjelaskan persoalan Aceh. Baginya, kebenaran harus disampaikan meskipun mengandung risiko.
Ironisnya, di tengah jabatan tinggi itu, Tgk Nash tetap hidup dalam kesederhanaan. Beliau tidak memiliki mobil, sering menggunakan becak, dan istrinya berjualan nasi untuk membantu perekonomian keluarga. Namun kesederhanaan itu tidak menghalanginya untuk terus memberi.
Beliau dikenal sangat dermawan, bahkan pernah memberikan seluruh honor pengajian yang baru diterimanya kepada orang lain yang lebih membutuhkan, meski itu satu-satunya yang beliau miliki. Inilah sosok berhati lembut yang tidak bisa melihat orang mengalami kesusahan.
Akhir Hayat dan Warisan Keteladanan
Pada 25 Januari 2000, Tgk Nash diculik dan dibunuh. Jenazahnya ditemukan di Sibolangit, Sumatera Utara, dengan tanda-tanda kekerasan. Hasil visum menunjukkan bahwa beliau wafat akibat jeratan di leher dan benturan keras di kepala.
Beberapa hari sebelum wafat, dalam khutbah terakhirnya di Masjid Baitul ‘Allam, beliau mengungkapkan keprihatinan bahwa nyawa manusia di Aceh telah menjadi begitu murah. Kata-kata itu seakan menjadi isyarat atas akhir perjalanan hidupnya sendiri.
Kasus pembunuhan beliau tidak pernah benar-benar tuntas. Namun keluarga memilih untuk mengikhlaskan, meyakini bahwa Allah Swt telah memilihkan jalan terbaik bagi seorang hamba yang wafat dalam keadaan dizalimi.
Pelajaran untuk Politisi Hari Ini
Dari sosok Tgk Nash, para politisi hari ini seharusnya belajar bahwa kekuasaan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan sarana memperkaya diri. Politik semestinya berpihak pada kebenaran dan kepentingan rakyat, bukan pada transaksi dan kepentingan sesaat. Keberanian moral jauh lebih berharga daripada popularitas dan kesederhanaan bukanlah kelemahan, melainkan kemuliaan.
Mungkin nama Tgk Nashiruddin Daud tidak banyak tercatat dalam buku-buku sejarah resmi. Namun selama masih ada yang menulis, mengenang, meneladani nilai hidup, serta menjadikan akhlaknya sebagai panduan, nama itu tidak akan pernah hilang dari ingatan umat.
Semoga Allah Swt menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di sisi para syuhada dan orang-orang saleh.
Editor: Sayed M. Husen

0 facebook:
Post a Comment